
Alana sudah menghabiskan makanannya, sekarang dia menunggu Arvan yang masih menikmati makanan di atas piring miliknya.
Alana menunggu dengan sabar hingga Arvan menyelesaikan makannya.
“Bisakah kita belajar sekarang?” Tanya Alana, dia sudah tidak sabar untuk belajar bela diri.
Arvan mengalihkan perhatiannya dan menatap mata Alana. “Sekarang? Kita baru selesai makan Alana,” ucap Arvan menolak dengan nada lembut.
Alana tersenyum kaku, rasanya dia benar-benar malu. Alana memilih menundukkan kepalanya, menatap kakinya yang berada di bawah.
Arvan melihat perbedaan yang cukup jelas antara Mira dan Alana. Mungkin jika ingin sesuatu Mira tidak pernah sungkan, meskipun waktu itu mereka baru beberapa kali bertemu. Tapi Alana menunjukkan rasa malu yang sangat kentara karena ucapannya sendiri.
“Mari kita pemanasan dulu “ ucap Arvan sambil bangkit dari duduknya. Di lihatnya wajah Alana yang berubah antusias dalam sekejap karena ucapannya.
Alana mengekor di belakang Arvan, yang berjalan memasuki sebuah ruangan yang kosong.
Arvan membalikkan tubuhnya. Sekarang mereka ada dalam posisi yang berhadapan dengan jarak sepanjang lengan.
“Sebelumnya apa kau tidak pernah tahu gerakan membela diri dari penjahat?”
Alana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Sebelumnya dia memang tidak pernah mengikuti kelas bela diri sama sekali.
“Jika aku orang jahat yang akan mendekati dirimu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Arvan.
“Memukul,” jawab Alana asal.
__ADS_1
Arvan menggelengkan kepalanya, “Pukulanmu tidak cukup untuk melumpuhkan lawan.”
“Lalu apa?”
“Kelemahan terbesar pria ada di alat kelaminnya, lakukan seperti yang Stella perbuat.” Arvan memperhatikan ekspresi Alana yang tampak kebingungan.
Arvan berjalan mendekati Alana, lalu berdiri di sampingnya. “Perhatikan,” ucap Arvan.
Alana memperhatikan Arvan yang menendang udara di depannya.
“Sekarang kau,” titah Arvan.
Dengan malu-malu Alana mengikuti gerakan yang Arvan.
“Tendanganmu kurang tinggi.” Arvan berjalan ke hadapan Alana.
Alana menganggukkan kepalanya, dan mengikuti perintah Arvan. Dia memberi jarak kakinya dengan benda pusaka Arvan sekitar lima centimeter.
Arvan tersenyum melihat ekspresi Alana yang malu-malu. “Aku sedang mengajarimu teknik bela diri, bukan mengajarimu dalam masalah ranjang. Aku bilang lakukan dengan perlahan, sampai mengenai milikku ... perlahan!” ucap Arvan dengan mengulangi kata perlahan agar Alana tidak menendangnya dengan keras.
Alana masih diam mencerna rentetan kalimat yang keluar dari mulut pria di depannya.
“Cepat Alana!”
Alana dengan ragu mengangkat kakinya dan melakukan sesuai arahan Arvan hingga mengenai batas ************ pria itu. Dengan cepat Alana menurunkan kakinya kembali.
__ADS_1
“Jika menghadapi musuh lakukan dengan cepat dan keluarkan tenaga kakimu.”
Alana menganggukkan mengerti. “Lalu apa lagi?” tanya Alana. Dia masih penasaran dengan teknik lainnya.
Arvan berjalan ke belakang Alana, lalu tangannya terulur untuk menarik leher Alana. Tetapi Arvan hanya memeragakan tanpa tenaga.
“Jika seperti ini, pukul perutnya menggunakan siku tanganmu. Coba lakukan.”
Alana melakukan dengan perlahan, hingga siku tangannya menyentuh perut Arvan. Alana merasa kehabisan nafas, ini untuk pertama kalinya dia berada sedekat ini dengan Arvan, pria yang baru dia kenal.
“Yang keras Alana,” ucap Arvan di telinga Alana.
Alana merasa panas dingin saat Arvan berbicara di telinganya. Hingga dia refleks melakukan gerakan yang di minta Arvan sekuat tenaganya.
Arvan memang sengaja memancing Alana agar mengeluarkan tenaganya, dan betul saja karena bisikan di telinganya Alana mengeluarkan tenaganya untuk memukul perutnya.
Arvan tersenyum ada rasa bahagia di hatinya mengetahui bahwa Alana tidak mudah membuka diri meskipun dia wanita lemah.
“Lumayan,” ucap Arvan sambil melepaskan tangganya yang mengunci leher Alana.
“Maaf aku tidak sengaja.” Alana merasa tidak enak karena dia sadar pukulannya cukup keras tadi.
“Tidak apa-apa, aku sengaja memancing untuk melihat seberapa kuat tenagamu.”
Alana hanya menunduk, dia tidak tahu harus menjawab apa untuk ucapan yang keluar dari mulut Arvan.
__ADS_1
“Rebahkan tubuhmu di lantai,” titah Arvan.