Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Hampa


__ADS_3

Di ruang rawat VIP Eduard masih terbaring lemah, tengah di suapi makan malam oleh Fiona. “Ayah harus makan banyak supaya cepat sembuh, Fiona mau bermain masak-masak bersama Ayah. Kalau Ayah lama sembuhnya Fiona cubit.”


Celotehan Fiona terdengar menggemaskan di telinga Eduard. “Baiklah Ayah akan menghabiskan semua makanannya.”


Averyl menemani Filio yang sibuk membaca. Sebetulnya ia tidak melakukan apa-apa, tidak ingin terlihat canggung ia memilih bergabung dengan Filio membolak-balikan buku tanpa berniat membacanya.


Pintu ruang Eduard terbuka menampilkan tubuh Alana dan Arsya. “Ayok pulang dengan Oma, besok kalian harus pergi sekolah.”


Filio tidak suka banyak bicara, pria kecil itu merespons dengan gerakan tubuhnya yang mulai membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas.


Berbeda dengan Fiona yang kini menampilkan wajah sedihnya. “Ayah baru makan satu mangkuk. Fiona tidak mau pulang. Tugas Fiona belum selesai.”


Averyl berjalan mendekat ke arah Fiona dan Eduard. “Biar ibu yang menggantikan tugas Fiona. Tugas Fiona sekarang pulang dan beristirahat agar besok sepulang sekolah bisa menemani Ayah lagi.”


“Ibu harus memastikan ayah makan dengan banyak ya.”


Averyl mengangguk. “Sekarang Fiona pulang ya sama Oma.” Averyl memberikan kecupan di kening Fiona dan Filio.


Arsya dan Alana pamit pada Eduard dan Averyl. Tidak lupa lambaian Fiona yang menggemaskan menjadi salam perpisahan mereka. Kini ruangan tersebut sangat sunyi, Averyl duduk pada kursi yang tersedia di samping tempat tidur Eduard.


Eduard dan Averyl saling pandang, namun kegiatan tersebut di putus sepihak oleh Averyl ia mengambil piring berisi buah.


“Apa aku harus menyuapimu seperti yang Fiona lakukan?”


Eduard mengangguk dengan penuh semangat.


“Tapi tanganmu baik-baik saja, seharusnya bisa makan sendiri.”


Eduard tidak kehabisan akal ia mengangkat tangannya ke arah Averyl, menunjukkan tangannya yang memar. “Seharusnya aku masih kuat makan sendiri, tapi aku sangat ingin di suapi.”


Averyl menusuk buah mangga, dan menyuapi Eduard. “Seharusnya aku juga bisa menolak menyuapimu, tapi karena ini perintah Fiona aku tidak punya pilihan lain.”


Selalu seperti itu, ego Averyl tidak ingin kalah oleh hatinya. Bagaimana pun juga ini terlalu cepat, ia tidak ingin di sakiti Eduard untuk yang kedua kalinya.


“Sekarang Badamu lebih gemuk.” Ucapan Eduard yang terdengar enteng menghasilkan sumpah serapah di kepala Averyl, meskipun wajah Averyl terlihat tenang.


“Saat mengandung Filio dan Fiona badanku lebih besar dari ini,” jujur Averyl.


“Sayang sekali aku tidak melihatnya, apa aku harus menghamilimu lagi siapa bisa melihatmu gemuk?”

__ADS_1


“Jangan bicara sembarangan Ed.”


“Mami, Papi dan anak-anak pasti senang kalau mengandung lagi.”


Averyl menyerahkan suapan terakhir. “Tapi aku yang tidak senang,” protes Averyl. Ia menyimpan Piring ke atas nampan dan menggeser mejanya ke sudut ruangan.


“Averyl apa kamu bersungguh-sungguh ingin kembali bersamaku, atau hanya terpaksa demi anak-anak?”


Pertanyaan Eduard berhasil menghentikan aktivitas Averyl. Ia menggenggam tangannya dengan sangat erat. Hati dan pikirannya mulai mengeluarkan argumennya masing-masing. Hatinya masih sangat mencintai Eduard, tapi kepalanya menyangkal semua itu dengan memberikan ingatan rasa sakit dan kekerasan yang di berikan Eduard. Semua ingatannya berputar dengan jelas bagaimana Eduard menyakiti hati dan tubuh Averyl.


Eduard yang merasa aneh melihat tubuh Averyl yang bergetar menarik selang infus yang menancap di tangannya. Ia berjalan menghampiri Averyl dan memeluknya. “Aku tahu ini terlalu cepat, aku yakin luka yang aku berikan pun belum sembuh dengan benar. Tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu, aku menyesal atas semua perbuatan yang aku lakukan lima tahun lalu. Setiap harinya di dalam penjara aku hanya ingin membunuh diriku sendiri yang begitu bodohnya mengikuti keegoisanku.”


Averyl membalikkan tubuhnya menghadap Eduard. Ia memeluk Eduard, menyandarkan kepalanya di dada bidang Eduard. Kini Averyl tahu tidak hanya dirinya sendiri yang merasakan sakit atas penderitaan ini, tapi Eduard merasakannya juga.


Belaian tangan Eduard di kepala Averyl mampu menangkap tangisan Averyl. Rasa bahagia yang di rasakan Eduard saat Averyl berada di pelukannya tanpa berontak. Jalannya selangkah lebih maju, Averyl tidak merasa rasa takut berada di dekapan Eduard.


Averyl menengadahkan wajahnya menatap Eduard. “Aku benci kamu Ed,” ucap Averyl sambil tersenyum tipis.


Pipi tembam dengan kelopak mata yang sedikit bengkak membuat Eduard gemas, belum lagi ucapan benci yang terlontar dari mulut Averyl yang membingungkan. Eduard menyambar bibir Averyl, melum*atnya dengan perlahan menunggu ijin dari sang pemilik.


Hati Eduard bersorak saat mendapatkan balasan dari Averyl. Ia membawa tubuh Averyl ke atas tempat tidur. Namun aksinya tertahan karena dorongan tangan Averyl.


“Ini rumah sakit,” keluh Averyl mengingatkan.


“Aku rasa kita terlalu cepat, aku...“


Eduard bangkit meninggalkan Averyl yang masih terbaring di atas tempat tidur. Ia berjalan dan duduk di sofa mengambil nafas banyak-banyak. “Apa kamu tidak tahu penderitaan dia selama lima tahun tidak pernah merasakan kenyamanan.”


“Dia siapa?” tanya Averyl dengan polosnya.


Eduard mengarahkan matanya pada area pusakanya. “Dia.”


Averyl merasa kesal mendengar ucapan Eduard, ia melemparkan batal ke arah Eduard.


“Apa kamu tidak kasihan, aku sudah menahannya lima tahun. Dia sangat ingin sekali bebas,” ucap Eduard dengan nada memohon.


“Tidak sekarang Ed.” Averyl menekan tombol untuk meminta bantuan infus Eduard harus segera di pasang kembali.


Eduard merajuk dengan mendiamkan Averyl. Para suster sudah pergi karena tugasnya sudah selesai. Kini ruangan itu terasa hening.

__ADS_1


Dering telepon milik Averyl bergema, ia mengambilnya dan mengernyitkan dahi saat melihat nomor baru yang melakukan video call.


Averyl mengangkat telepon tersebut, ia keluar dari ruangan Eduard saat melihat wajah Rangga yang muncul di layar ponsel dengan wajah yang lebam-lebam.


“Mama tolong Rangga.”


Suara lirih Rangga menyayat hati Averyl, belum kondisi wajah Rangga yang lebam membuat perasaan Averyl tidak karuan. “Rangga di mana, Mama akan menjemput Rangga.”


“Rangga tidak tahu, Ayah meninggalkan Rangga begitu saja.”


“Rangga tenang dulu ya, coba cari informasi tempat Rangga sekarang. Rangga bisa memakai google maps?”


Video tersebut terlihat terjeda karena Rangga membuka aplikasi maps. Lalu video call tersebut kembali tersambung, “Rangga ada di hotel x.”


“kamar nomor berapa? Mama akan segera ke sana.”


Averyl berjalan menuju halaman depan rumah sakit. Beruntung ada taksi yang kosong, ia masuk ke dalam taksi tersebut. “Hotel x pak.”


Rangga menggelengkan kepalanya. “Rangga tidak tahu, Rangga pingsan. Saat terbangun Rangga sendirian di sini.”


“Rangga tunggu saja di sana, Mama sedang dalam perjalanan ke sana.”


“Mama jangan lama Rangga takut.”


Hati Averyl teriris melihat air mata yang meluncur dari kelopak mata Rangga. “Tidak akan sayang, tunggu Mama di sana.” Panggilan telepon tersebut terputus tanpa sebab. Averyl mencoba meneleponnya lagi tapi tidak di tersambung.


Sesampainya di hotel x Averyl berjalan menuju resepsionis. “Saya di minta pak Aditama untuk menjemput Rangga, sekarang Rangga ada di kamar nomor berapa?”


Averyl hafal betul bahwa hotel x ini milik Aditama. Ini bukan kejadian pertama kalinya bagi Averyl. Selama ini Rangga adalah bahan pelampiasan Aditama. Averyl merasa kasihan dan menyayangi Rangga seperti pada anaknya sendiri.


“Lantai lima nomor 243B, pak Aditama menitip pesan agar ibu mengantarnya ke rumah.”


Tanpa pikir panjang Averyl menaiki lift menuju kamar yang di sebutkan resepsionis. Saat di depan kamar tersebut Averyl membuka pintu dan masuk ke dalam.


“Rangga ini Mama sayang,” panggil Averyl sambil berjalan mencari keberadaan Rangga.


Averyl sudah mengecek seluruh ruangan tapi tidak menemukan keberadaan Rangga. Kamar tersebut ternyata kosong. Averyl menelepon Rangga kembali, namun masih tidak tersambung.


Averyl membalikkan tubuhnya hendak ke luar, namun gerakannya terhenti saat melihat Aditama yang mengunci pintu sambil tersenyum miring.

__ADS_1


Averyl mengambil seribu langkah cepat untuk masuk ke dalam kamar mandi, namun Aditama berhasil mencengkeram tangan Averyl. “Lepas!” teriak Averyl. Ia berusaha melepaskan cengkeraman Aditama.


Aditama mendorong tubuh Averyl ke atas tempat tidur, ia melepaskan dasi yang melingkar di lehernya. Lalu membuka satu persatu kancing kemejanya. “Malam ini kau milikku Averyl Samantha.”


__ADS_2