Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Suapan Pertama


__ADS_3

Selamat malam, maaf terlambat update. Putri sulungku demam kemarin, beruntung hari ini keadaannya membaik.


Selamat membaca đź’•


***


Averyl diam membeku di samping Arsya yang tengah fokus mengemudi. Ia memperhatikan jalan yang di laluinya, siang itu jalanan cukup padat karena jam istirahat.


Averyl menatap lekat-lekat papan restoran yang pertama kali ia singgah. Averyl memperhatikan Arsys yang berjalan keluar dan membukakan pintu untuk Averyl.


Sementara Averyl mematung. Untuk pertama kalinya Averyl mendapat perlakuan istimewa dari CEO-nya. “Cepat turun!”


Setelah mendengar nada suara Arsya yang memerintah dapat Averyl yakini bahwa itu adalah Arsya yang sesungguhnya. Averyl turun dan berjalan beriringan.


Langkahnya terhenti saat Averyl merasakan tangan seseorang yang melingkar di pinggangnya. Ia menengok ke samping dan menatap Arsya. Namun Arsya seakan tidak peduli dengan tatapan penuh tanya milik Averyl.


Langkah Averyl hanya terhenti sejenak karena Arsya tetap berjalan dan menarik pinggang Averyl. Sementara Averyl hanya bisa pasrah. Ini adalah pertama kalinya ia berdekatan dalam jarak dekat. Bukan hanya dekat, sangat dekat.


Seorang pelayan tersenyum menyambut kedatangan Arsya dan Averyl. “Selamat siang Tuan Arsya, mari saya antar menuju meja yang Tuan pesan.”


Averyl tidak heran dengan pelayan yang mengenal Arsya. Karena ini adalah restoran milik Eduard. Tapi yang masih menjadi pertanyaan Averyl mengapa Arsya membawanya kemari. Padahal tadi Arsya berkata akan memberi hukuman karena terlambat lima detik. Ah emosi Averyl sedikit muncul ke permukaan, hanya karena lima detik dirinya harus berada di situasi yang canggung seperti ini.

__ADS_1


Setelah di ruang privat, Arsya dan Averyl duduk dengan posisi berhadapan. Averyl tidak di izinkan memesan makanan sedikit pun. Ia memperhatikan hidangan yang disajikan oleh pelayan untuk Arsya. Aromanya mampu membuat perut Averyl berbunyi. Tampilan steak yang mampu membangkitkan salivanya berkumpul di dalam mulut.


Suapan pertama Arsya di perhatikan baik-baik oleh Averyl. Melihat Arsya yang sangat menikmati makanannya Averyl hanya mampu menelan salivanya yang sudah terkumpul di rongga mulut. Averyl bangkit dari duduknya untuk memesan makanan. Ia tidak bisa berdiam diri melihat pemandangan indah yang menggugah seleranya.


“Mau kemana?” suara Arsya menginterupsi.


Averyl menengok ke arah Arsya. “Memesan makanan,” jawab Averyl singkat.


“Duduk!” Mendengar suara Arsya yang memerintah tanpa ingin di bantah membuat Averyl mengurungkan niatnya. Ia duduk dengan wajah yang cukup kesal. Ini waktu makan siangnya, perutnya sudah meronta ingin di isi.


Averyl terkejut saat satu potong daging berada di depan mulutnya. Pasalnya ini pertama kalinya ia makan hanya berdua dan Arsya menyuapinya. “Buka mulutmu!”


Arsya yang cukup kesal menunggu terlalu lama, akhirnya ia memilih menempelkan daging tersebut ke bibir Averyl yang masih tertutup rapat.


Mendapat desakan yang sedemikian rupa akhirnya Averyl membuka mulut. Ia menerima suapan Arsya. Kepalanya tertunduk. Rasanya aneh. Dengan gerakan perlahan Averyl mengunyah daging yang ada di mulutnya tanpa berani menatap Arsya. Rasa canggung benar-benar menyelimuti hati Averyl.


Arsya tersenyum melihat Averyl yang menundukkan kepalanya tanpa berani bertatapan. Gadis itu terlalu polos.


“Angkat kepalamu dan lihat aku!” Averyl mencoba bersikap profesional dan mengikuti perintah Arsya meskipun jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


Melihat Averyl yang menelan makanannya dengan inisiatif Arsya kembali menyuapi Averyl. Averyl mencoba menolak dengan menjauhkan wajahnya. “Tuan saya bisa makan sendiri.”

__ADS_1


Melihat tatapan tajam Arsya, akhirnya Averyl mengalah dan kembali menerima suapan Arsya. “Kau tidak pernah berkencan?”


Refleks Averyl memandang Arsya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban, karena mulutnya masih mengunyah. “Seumur hidupmu kau tidak pernah berkencan?”


“Iya,” jawab Averyl singkat setelah menelan makanannya. Ia memang tidak pernah berkencan dengan pria mana pun. Selama ini jika ada pria yang berani mendekatinya selalu di acuhkan oleh Averyl. Ia tidak pernah berminat memiliki kekasih. Bukan hanya kekasih, ia juga tidak pernah berniat untuk menikah dan mendapat pasangan hidup.


***


Eduard sedang memperhatikan dirinya di depan cermin. Rambutnya kini hitam sempurna tanpa ada sehelai rambut berwarna putih. Wajahnya semakin bersih terhindar dari bulu-bulu halus yang merusak citra ketampanannya. Tuksedo dengan merek ternama melekat sempurna di tubuh kekarnya.


“Tuan maaf mengganggu,” ucap Simon.


Eduard melirik pada Simon lalu kembali memperhatikan penampilan di depan cermin. “Boleh saya meminta waktu Tuan sebentar untuk melihat rekaman kamera pengawas di restoran.”


Eduard mengakhiri sesi mengagumi ketampanan dirinya, ia berjalan mendekat ke arah Simon. Simon menunjukkan rekaman Arsya dan Averyl yang berjalan menuju restoran dengan melingkarkan tangan Arsya pada pinggang ramping Averyl. Bukan hanya itu, video selanjutnya menampilkan Arsya yang menyuapi Averyl.


Eduard berdecap. Ia melonggarkan sedikit dasinya. Rekaman tersebut berhasil membuat tubuhnya terasa terbakar.


“Tuan tenang saja. Rencana kita pasti berhasil,” ujar Simon meyakinkan.


“Kalau sampai gagal, tubuhmu akanku mutilasi!”

__ADS_1


__ADS_2