
Author ucapan terima kasih kepada kalian yang sudah memberikan komentarnya.
Hasilnya cukup author saja yang menghitung dan tau siapa pemenangnya đź¤
Semoga kalian senang yah dengan hasil voting ini, selamat membaca ❤️
***
Setelah sepakat Alana tersenyum melihat kedatangan Arvan. “Aku ingin bicara,” ucap Alana. Dia berjalan menghampiri Arvan.
Arvan yang mengerti menganggukkan kepalanya dan berjalan masuk ke bagian dalam rumahnya.
Alana membalikkan tubuhnya menatap Nik. “Tunggu sebentar.”
“Baik nona,” ucap Nik dengan menunduk hormat.
Alana berjalan masuk mencari keberadaan Arvan, ternyata pria itu sedang duduk di meja makan dengan beberapa camilan di meja yang baru dia beli.
Alana duduk di hadapan Arvan, menatap pria yang sudah membantunya selama beberapa hari ini.
Arvan menikmati camilan yang dia beli sambil menunggu Alana mengeluarkan suaranya.
“Aku harus menemui Jordan, aku tidak bisa terus berada di tidak kepastian ini.”
Arvan menyimpan makanannya, di tatapnya mata Alana dengan lekat.
“Aku tidak berhak melarangmu, aku bukan siapa-siapa.” Arvan menghentikan ucapannya dia merogoh ponsel dari sakunya lalu memberikannya pada Alana.
__ADS_1
“Kamu ambil ponselku, pakai saja. Tidak perlu bingung, aku sudah meriset semuanya. Kamu bisa mengatur ulang isi di dalamnya, supaya hanya kamu yang bisa menggunakan ponsel itu. Jika terjadi sesuatu hubungi aku. Ada nomorku di sana.”
Alana tersenyum bahagia, pria di depannya ini sungguh luar biasa. Rasa haru menyelimutinya, Alana bertekad akan membalas kebaikan Arvan kepadanya.
Arvan mengeluarkan dua kartu dan menyimpannya di hadapan Alana. “Aku yakin kau tidak punya uang, ATM ini pakailah untuk kebutuhanmu dan ini card apartemen. Kau bisa tinggal di sini jika mau, aku tidak bisa menemanimu ada pekerjaan yang menuntutku. Malam ini aku harus kembali ke Italia,” ucap Arvan sambil menampilkan senyum di wajahnya.
“Jaga dirimu baik-baik, hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu.” Arvan berdiri dan mengacak puncak rambut Alana.
“Terima kasih, aku akan membalas semua kebaikanmu.” Alana menampilkan senyum terbaik miliknya kepada Arvan.
“Aku akan ada jika kau membutuhkan aku,” ucap Arvan sebagai kalimat penutup, dia harus segera kembali ke Italia karena pekerjaan yang mendesaknya.
Alana menatap Arvan yang masuk ke kamarnya, andai saja Jordan seperti Arvan mungkin sekarang dia bisa hidup bahagia.
Alana memasukkan semua pemberian Arvan ke dalam sakunya. Dia berjalan menghampiri Nik yang menunggunya.
“Kau harus pastikan Jordan tidak akan berbuat kasar padaku, atau kau akan berurusan dengan Arvan,” ucap Alana mengancam Nik. Alana menahan senyumnya melihat Nik yang cukup terkejut mendengar ancamannya.
Sepertinya nama Arvan mampu membungkam Nik, agar bisa berada di pihaknya jika Jordan berbuat macam-macam.
Nik cukup terkejut mendengar ancaman Alana, karena dia bisa saja tinggal nama jika berurusan dengan penguasa dunia.
“Baik nona, saya akan pastikan semuanya aman dan terkendali.”
Alana berjalan lebih dulu, saat membuka pintu Alana terkejut melihat dua bodyguard yang berdiri di samping pintu.
Alana bisa mengambil kesimpulan bahwa Arvan adalah orang penting yang setiap ke mana pun harus di jaga.
__ADS_1
Selama di perjalanan menuju rumah sakit Alana hanya diam memandang ke luar jendela.
Rasa takut dan sakit hati terus menghantuinya. Tapi Alana tidak bisa diam saja, membiarkan masalah ini berlarut-larut tanpa kepastian yang jelas.
Setidaknya dia harus mendengar alasan Jordan atas kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya.
Nik menghentikan mobilnya di basemen rumah sakit. Di liriknya Alana yang tengah melamun. “Nona kita sudah sampai.”
Ucapan Nik membuyarkan lamunannya, Alana menghela nafasnya.
Nik membukakan pintu untuk nona mudanya. Setelah Alana keluar Nik menekan tombol untuk mengunci mobilnya.
Alana berjalan mengikuti Nik, dan masuk ke dalam lift. Alana diam dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Pikirannya sedang kacau Alana tidak ingin banyak bicara. Pintu lift terbuka Alana berjalan mengikuti Nik yang masuk ke dalam ruangan VVIP.
Tatapannya tertuju pada pria yang terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam.
Alana berjalan mendekati tempat tidur. Jujur saja hatinya sakit melihat wajah pucat Jordan.
Namun dia tidak ingin lemah, dia menenggelamkan rasa itu lalu menatap Nik.
“Aku ke kantin sebentar,” ucap Alana dengan pelan, dia tidak ingin mengganggu tidur Jordan.
Alana berjalan keluar, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Alana berusaha meraih dinding.
Dengan pandangan yang mengabur Alana berjalan mendekati tempat duduk.
__ADS_1
Alana duduk di kursi yang tersedia di sana, dengan pelan Alana memijat kepalanya berusaha menghilangkan rasa pusing di kepalanya.