
Suasana ruang kerja Eduard tampak mencekam. Tatapan Eduard bagaikan laser yang mampu membelah barang apapun yang ada di depannya. Simon yang melihat tatapan tajam yang di berikan Eduard hanya bisa diam membisu. “Kenapa kau bisa membiarkan pernikahan ini gagal!”
“Maaf Tuan,” ujar Simon seraya menundukkan kepalanya. Ia salah perkiraan. Dirinya terlalu fokus hingga melupakan bahwa orang dalam bisa menjadi penghancur.
Amarah Eduard benar-benar mencuat ia mengeluarkan senjata apinya dan menodongkannya tepat di dahi Simon. Satu kali tarikan pada pelatuknya maka habis nyawa Simon detik itu juga.
Simon hanya bisa pasrah saat senjata api itu bertengger rapi di dahinya. Ini semua karena kelalaiannya dalam menjalankan perintah Eduard. Simon tahu betul Eduard tidak suka kegagalan, apalagi kekalahan.
Eduard sadar meskipun ia menarik pelatuk senjata apinya. Semua tidak akan kembali seperti semula. Ia melempar senjata api tersebut ke sembarang arah.
Amarah Eduard terus berkobar jika melihat wajah Simon. Ia berjalan dan memunggungi Simon. “Sekarang apa rencananya?”
“Tidak ada cara lain selain membuat Nona Averyl bertekuk lutut di hadapan Tuan,” jawab Simon.
Eduard membalikkan tubuhnya menghadap Simon. “Maksudmu?”
“Tuan harus mampu membuat Nona jatuh cinta sebelum pernikahannya dengan Tuan Arsya terlaksana.”
“Apa katamu, aku harus menurunkan harga diriku hanya untuk mengemis cinta Averyl?” Eduard tidak setuju dengan saran Simon kali ini. Bagaimana bisa pesona seorang Eduard Havelaar yang teramat memukau di kalangan kaum hawa harus mengemis cinta.
“Berikan aku cermin!” perintah Eduard.
Dengan sigap Simon mengeluarkan cermin kecil yang selalu ia simpan di saku kemejanya. Lalu memberikannya pada Eduard.
Eduard menerima cermin tersebut dan memandangi wajah yang masih tampak terlihat tampan dan mempesona. Hidupnya masih tetap tegak maksimal. Halisnya rapi tidak setebal Sinchan. Wajahnya pun mulus tanpa jerawat. Tapi mengapa Averyl tidak jatuh cinta padanya, bahkan menolak pernikahannya dan memilih Arsya. “Aku masih sangat tampan dan tidak tertandingi tapi mengapa Averyl menolak menikah denganku?”
Rasanya Simon ingin mencebik sebal mendengar tingkat kepercayaan diri Eduard, namun jika ia tunjukkan tamatlah riwayatnya hari ini. “Mungkin Nona Averyl tidak suka dengan pria tua,” jawab Simon asal.
__ADS_1
Eduard mengembalikan cermin tersebut ke pada Simon dengan sedikit kasar. “Kau sedang menghinaku?”
“Bukan Tuan, tapi kini di kepalamu sudah tumbuh satu uban. Mungkin Averyl tidak tertarik pada pria beruban.” Eduard merebut kembali cermin yang di pegang Simon untuk memastikan uban di kepalanya. Ternyata ucapan Simon benar, kini di kepalanya tumbuh satu uban. Tidak hanya satu tetapi dua.
“Kosongkan jadwalku untuk besok. Aku akan memperbaiki kualitas ketampananku yang sedikit berkurang karena uban sialan ini!”
***
Mobil yang di kendarai Arsya berhenti di basemen apartemen Averyl. “Terima kasih Tuan sudah mau mengantarku,” ucap Averyl lalu menunduk hormat sebelum keluar dari mobil Arsya.
“Besok kau masuk kerja, aku menunggumu. Jangan terlambat?”
“Baik Tuan,” jawab Averyl. Ia menutup pintu mobil dan memandang kepergian mobil Arsya yang mulai menjauh.
Averyl naik lift untuk sampai di unit apartemen miliknya. Sesampainya di apartemen Averyl kini mampu bernafas dengan lega. Aroma bunga lavender yang di rindukannya sungguh menggelitik di hidungnya.
Averyl membersihkan tubuhnya sebelum beristirahat, tubuhnya terasa lelah setelah menjalani aktifitas yang menguras emosinya.
Averyl berjalan dengan tergesa menuju pintu. Ia terkejut saat membuka pintu mendapati tubuh tegap Eduard berdiri di depan pintu apartemennya. “Untuk apa kau ada di sini?” tanya Averyl. Ia meneliti pakaian Eduard yang rapi mengenakan tuksedo.
“Kita harus berbicara.”
Averyl mengunci pintu apartemennya dan menatap Eduard. “Aku terlambat dan tidak memiliki waktu untuk berbicara denganmu,” jawab Averyl. Ia berjalan meninggalkan Eduard. Waktunya tidak banyak ia tidak ingin terlambat di hari pertamanya kembali bekerja.
Eduard mengejar Averyl. “Sebentar saja,” ujar Eduard sedikit memaksa.
Averyl tidak memedulikan ucapan Eduard. Ia fokus menatap layar ponselnya yang terus berbunyi. Ada email yang masuk berisi jadwal Arsya hari ini, serta beberapa dokumen lainnya.
__ADS_1
Melihat Averyl masuk ke lift Eduard akhirnya mengekor. Dia memandangi wajah serius Averyl yang fokus pada ponselnya. Ternyata wanita ini lebih cantik saat fokus pada pekerjaannya, mungkin lain kali aku harus datang ke ruangannya memperhatikan wajah cantik Averyl.
Saat lift terbuka di basmen ia berjalan keluar menuju mobilnya. Averyl menekan tombol membuka kunci mobilnya. “Kenapa kau lancang masuk ke mobilku!” Bentak Averyl kesal melihat tingkah Eduard yang tiba-tiba duduk di kursi kemudi.
“Duduklah biar aku yang mengantarmu!” Tidak ingin banyak berdebat Averyl mengikuti perintah Eduard. Ia duduk di samping kursi pengemudi.
“Cepat jalan, aku tidak ingin terlambat!” Kalau saja orang lain yang berbicara seperti itu, rasanya Eduard ingin merobek-robek mulut orang yang tidak sopan memerintahnya. Namun yang berbicara itu Averyl, tugas Eduard kali ini menaklukkan wanita yang sudah berhasil menarik perhatiannya.
Eduard ingin sekali berbicara dengan Averyl. Tapi ini pertama kalinya ia membawa mobil sendiri setelah bertahun-tahun. Eduard ingin mengantarkan Averyl ke kantor bukan ke rumah sakit jadi ia harus merelakan berbicara dengan Averyl tertunda.
Sesampainya di MA grup, Averyl turun dari mobil. “Keluarlah biar aku yang membawanya ke basemen.”
“Tidak perlu biar aku yang bawa mobil ini. Nanti jam pulang kantor aku akan menjemputmu.” Setelah mengakhiri ucapannya, Eduard melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban Averyl.
Averyl mengerutkan keningnya melihat kelakuan aneh Eduard. Tapi ini bukan waktunya memikirkan tingkah Eduard. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh lima puluh lima menit. Ia bergegas menuju ruang Arsya dengan sedikit berlari.
Averyl menetralkan nafasnya terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu ruangan Arsya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara Arsya yang menyuruhnya masuk. Averyl masuk dan berjalan menghampiri Arsya.
“Kau harus di hukum karena terlambat lima detik!”
***
Ada yang tahu hukuman apa yang akan di berikan Arsya untuk Averyl?
__ADS_1
Untuk yang menjawab nanti aku kasih hadiah ubannya Eduard 🤭
Sampai jumpa di bab selanjutnya, bye 💕