Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Anak Kecil


__ADS_3

Averyl turun ke basemen hendak pulang. Ia melakukan peregangan dengan memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan. Pekerjaannya hari ini mengecek beberapa data di depan komputer sejak pagi yang mengakibatkan lehernya pegal karena terlalu lama menatap lurus ke depan.


Plak!


Averyl memukul jidatnya sendiri, ia baru ingat kalau mobilnya di bawa Eduard. Ia merogoh ponselnya dari tas untuk menelepon Eduard. Namun di urungkan karena sebuah mobil yang di yakini Averyl adalah mobil miliknya berhenti tepat di sampingnya.


Kaca jendela mobil turun dengan perlahan menampilkan wajah Eduard. “Ayo naik!” Averyl mengitari mobil. Ia membuka pintu dan duduk di samping Eduard.


Mobil mulai melaju meninggalkan gedung MA Grup. Averyl memperhatikan penampilan Eduard yang tampak berbeda hari ini. Tuksedo yang biasanya melekat pada tubuh Eduard kini tergantikan oleh kaus berwarna putih yang melekat sempurna di tubuh Eduard, hingga otot-otot yang biasanya tersembunyi kini menyembul sempurna. Bukan hanya itu bahkan kini Eduard mengenakan celana jeans dan sepatu kasual.

__ADS_1


Tidak terlalu buruk. Terlihat lebih santai dan sedikit lebih tampan dari biasanya. “Kau baru menyadari ketampananku?”


Averyl memalingkan wajahnya dan menatap jalanan. Dirinya sedikit salah tingkah karena kepergok memperhatikan Eduard. “Anda terlalu percaya diri Tuan,” jawab Averyl membela diri.


Averyl baru menyadari bahwa jalanan yang di laluinya bukan menuju apartemen. “Ini bukan jalan pulang menuju apartemen.”


“Menang bukan,” jawab Eduard santai.


Langit mulai gelap. Seharusnya Averyl bisa merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Namun karena pria pengatur ini ia jadi terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan.

__ADS_1


Averyl tidak mendapat jawaban ke mana tujuan Eduard. Ia memilih membuka blazer yang melekat pada tubuhnya, menyisakan kemeja putih polos yang membalut tubuhnya. Sandaran kursi Averyl sedikit ia turunkan agar bisa bersantai. Kepalanya mengarah ke jendela, Averyl butuh waktu istirahat. Ia memejamkan matanya menikmati hawa dingin.


Melihat Averyl yang tertidur Eduard memutuskan untuk menghentikan laju mobilnya. Ia memarkirkan mobil Averyl di bahu jalan.


Eduard memperhatikan setiap lekukan tubuh Averyl yang terbalut kemeja putihnya. Bentuk tubuhnya tidak sebagus wanita yang selalu mengisi kekosongannya namun Eduard tidak tahu alasan apa ia menginginkan Averyl menjadi istrinya. Wajah Averyl pun tidak terlalu cantik, bahkan sangat standar. Hanya make-up tipis. Pandangan Eduard tertuju pada bibir merah muda milik Averyl. Bibir yang nyaris tidak pernah tersenyum untuk Eduard.


Eduard tersenyum kecil. Kini ia tahu jawabannya. Bibir merah muda itu yang selalu menentang dan tidak pernah takut pada Eduard, Kecuali ia memberikan ancaman.


Eduard mencondongkan tubuhnya ke arah Averyl. Di perhatikannya lekat-lekat wajah tenang Averyl. Jarak wajah mereka suda sangat dekat, bahkan Eduard bisa merasakan embusan nafas tenang milik Avery. Saat Eduard hendak mengecup bibir Averyl, namun belum juga mendarat aktivitasnya terganggu karena sebuah ketukan di jendela mobil samping Averyl.

__ADS_1


Averyl merasa terganggu dengan suara ketukan di kaca mobilnya, ia membuka mata dan terkejut melihat wajah Eduard yang terlalu dekat. Bola mata Averyl membelalak saat Eduard mengecup bibirnya tanpa aba-aba.


Di dalam benaknya Eduard bersorak melihat wajah Averyl yang terkejut karena Ia ciuman singkat. Eduard membuka jendela tersebut. Seorang anak kecil menunduk dengan wajah malu. Rambutnya tidak teratur, bajunya sendiri lusuh. “Tuan bolehkah aku meminta sedikit makanan,” anak kecil itu berucap dengan sangat pelan tanpa berani menatap wajah Eduard.


__ADS_2