Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Memilih


__ADS_3

“Pergi,” ucap Eduard kembali dengan nada dingin. Eduard tidak bisa membiarkan Averyl lebih lama di sini. Jika Asyila sudah tidak bisa mengontrol dirinya, dia takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Eduard menatap kepergian Averyl dengan rasa sakit di hatinya. Perhatiannya tertuju pada Asyila. Tangan Asyila mengepal, dan berkeringat. Nafasnya terdengar sangat pendek.


Eduard menggenggam tangan Asyila. “Asyila,” panggil Eduard dengan nada khawatir.


Asyila menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa mengontrol dirinya.


Eduard yang mengerti segera membopong tubuh Asyila menuju mobil. Eduard menempatkan tubuh Asyila di kursi belakang bersamanya.


Eduard mengelus puncak kepala Asyila. Sementara tangan satunya lagi memberi kekuatan untuk Asyila. Eduard membiarkan air mata Asyila jatuh begitu saja.


“Ka,” ucap Asyila pelan dengan nafas yang masih terengah-engah. Wajahnya masih tampak ketakutan, dengan air mata yang masih mengalir.


Eduard membawa tubuh Asyila ke dalam pelukannya. “Tenang Asyila, kamu aman di sini bersamaku.”


Asyila memeluk Eduard dengan erat. Matanya menatap ke sekitar untuk memastikan semuanya baik-baik saja.


Eduard melepaskan pelukannya dan menatap manik Asyila. “Tatap matakku.”


Asyila mengikuti arahan Eduard. “Dia tidak ada disini, dia sudah pergi. Sekarang kamu aman bersama Kakak.”


Asyila menatap manik Eduard, cukup lama. Berusaha meredam rasa takut dalam dirinya. Tapi bayangan masa lalunya terus berputar di kepalanya.

__ADS_1


“Atur nafasnmu, kita hanya berdua di sini. Tidak ada siapa pun ... Tidak ada yang perlu kamu takutkan, kamu aman bersama Kakak ... Kamu aman bersama Kakak.”


Asyila sudah bisa mengontrol nafasnya kembali. Ia menutup mata, mencoba mengulang ucapan Eduard. “Aku aman bersama ka Eduard ... Tenang Asyila kamu aman. Tidak ada dia ... dia sudah pergi ... Dia tidak akan pernah bisa kembali.”


Eduard merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar suara Asyila yang mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Asyila sudah tenang sekarang. Ia menarik tangannya dari genggaman Eduard. “Maafkan aku kak,” sesal Asyila.


Eduard tersenyum kepada Asyila. “Tidak perlu meminta maaf, semuanya akan baik-baik saja.”


***


Eduard pulang dengan wajah lelahnya. Ia berjalan menuju kamar. Namun saat memasuki kamarnya, ia tidak mendapat tanda-tanda keberadaan Averyl.


Eduard mencoba menghubungi Arsya untuk menanyakan apakah Averyl lembur hari ini. Namun jawaban Arsya cukup mengejutkan, Averyl tidak kembali setelah jam makan siang. Averyl hanya mengabari pada Arsya jika ia memiliki urusan mendadak.


Eduard memejamkan matanya untuk berpikir di mana Averyl berada. ‘Apartemen’


Tanpa membersihkan tubuhnya lebih dulu, Eduard pergi mengendarai mobilnya sendiri karena Simon sudah pulang. Sementara kedua sopirnya sedang mengambil cuti.


Meskipun tubuhnya terasa penat, ia harus memastikan Averyl baik-baik saja. Ia tidak ingin kejadian Averyl di bawa Namira terulang kembali.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, akhirnya Eduard sampai juga di apartemen Averyl. Saat membuka pintu apartemen, Eduard mendapati keadaan lampu yang menyala. Itu artinya ada Averyl di sana. Eduard masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Apartemen Averyl benar-benar kosong, namun Eduard mendapati Averyl tertidur di kamar beralasan matras dengan selimut tipis yang menutupi tubuhnya.


Eduard melangkah dengan pelan, takut membangunkan Averyl. Ia berjongkok dan membelai pipi Averyl dengan sangat pelan. Ada sisa air mata di sana, mata Averyl pun sedikit bengkak.


Eduard melepaskan sepatunya dan merebahkan tubuhnya di samping Averyl. Ia masuk ke dalam selimut dan memeluk Averyl.


Meskipun tubuhnya terasa lengket, kemejanya terasa mengganggu. Namun karena sudah merasa lelah, Eduard mencoba memejamkan matanya dan pergi ke alam mimpi.


Tidur Eduard terganggu karena gerakan tubuh Averyl yang melepaskan pelukannya. “Kenapa bangun, mari tidur lagi.”


“Kenapa di sini, bukannya kamu lebih memilih Asyila daripada aku?”


Eduard berusaha membuka matanya yang terasa perih. Ia mencoba bangun dan menatap Eduard. “Aku minta maaf untuk kejadian tadi siang.”


“Mudah sekali ucapanmu, setelah bercumbu dan berpelukan di dalam mobil dengan entengnya kamu hanya meminta maaf?” ketus Averyl. Rasa dongkol di hatinya tidak kunjung hilang, meskipun ia sudah menangis tersedu-sedu.


“Kamu salah paham Averyl.” Eduard hendak membawa tangan Averyl ke dalam genggamannya, namun ia kalah cepat karena Averyl segera menyembunyikan tangannya ke belakang.


“Kalau kamu lebih memilih Asyila, lalu untuk apa kamu menjebakku agar menjadi istrimu?”


“Kalian berdua, sama berartinya di hidupku.”


“Kamu pikir aku akan mudah percaya dengan ucapan dustamu. Pilih aku atau Asyila?”

__ADS_1


__ADS_2