Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Ponsel Pintar


__ADS_3

Arvan diam, dia memperhatikan Alana yang tampak bingung dengan ponsel miliknya.


Karena ponsel Arvan memang di rancang khusus dan hanya dia yang mengerti cara memakainya.


Arvan ingin tersenyum saat melihat Alana yang terlonjak kaget saat menekan menu salah satu aplikasi, namun Arvan mahir dalam mengendalikan ekspresi wajahnya.


Alana melirik Arvan yang masih tampak datar. Saking terkejutnya ponsel milik Arvan jatuh ke paha Alana, karena menu yang di tekannya ada aplikasi yang memunculkan ular berbisa dengan mulut yang terbuka siap melahap tubuh Alana.


“Ngagetin banget. Buat apa aplikasi beginian?” tanya Alana di dalam hatinya.


Alana mengelus dadanya, dia meraih ponsel Arvan. Alana menggeser ke kanan dan ke kiri. Setiap slide yang di lihatnya adalah bentuk kotak-kotak berwarna hitam.


“Sebenarnya ini ponsel merek apa sih. Isinya tidak jelas begini,” gerutu Alana di dalam hatinya.


Dia mencoba menekan kembali kotak yang berjejer rapi itu. Tapi kalo ini malah muncul deretan angka yang berjajar rapi.


Alana mencoba memilih secara acak untuk yang terakhir kalinya. Kotak yang dia tekan kini malah muncul deretan huruf alfabet.


Alana mendesah, dia tidak menemukan aplikasi google untuk menerjemahkan bahasa.


Desahan Alana menarik perhatian Arvan. Wanita itu terlihat sangat menggemaskan.


“what’s your name??”


Alana mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel Arvan. Pertanyaan Arvan kali ini tidak perlu menggunakan google translate.


“Alana Jovanka,” jawab Alana lesu. Dia memberikan ponselnya kembali pada Arvan. “Thanks.”


“Where do you live? Let my assistant drive you.”


(Di mana tempat tinggal kamu? Biar asisten aku yang akan mengantarkan kamu.)

__ADS_1


“Aku enggak mengerti bahasa kamu,” jawab Alana sambil mengerucutkan bibirnya.


Alana memperhatikan Arvan yang tampak lihai menggunakan ponselnya.


Arvan menempelkan ponsel ke telinganya untuk menghubungi adiknya.


“Stella, vieni qui!” (Stella kemarilah!) Arvan langsung mengucapkan perintahnya setelah teleponnya tersambung.


Mata Alana membelalak mendengar bahasa asing yang keluar dari mulut pria yang mengaku namanya Arvan.


“Sebenarnya dia siapa? Barusan bahasa apa yang dia gunakan?” tanya Alana di dalam hatinya.


Stella langsung menjawab permintaan sang Kaka “Aspetta un attimo, fratello.” (Tunggu sebentar, kakak)


Stella yang sudah mengetahui keberadaan kakaknya langsung berjalan menuju ruangan VVIP.


Stella membuka pintu dan masuk ke ruangan.


Arvan menyambut kedatangan Stella dengan memeluknya.


“Apa mereka sepasang kekasih?” pertanyaan itu muncul di benak Alana.


Stella melepaskan pelukannya. Perhatiannya kini tertuju pada wanita yang sedang menatapnya.


Senyum mengembang di bibir Stella, dia berjalan menghampiri Alana.


Alana memperhatikan wanita yang kini mendekat ke arahnya. Ada perasaan canggung yang menyelinap di hatinya.


“Apa kau merasa baik-baik saja?”


Alana merasa beruntung, meskipun wanita ini tidak tampak seperti orang Indonesia, tapi ternyata dia fasih menggunakan bahasa Indonesia.

__ADS_1


“Keadaanku baik-baik saja,” jawab Alana.


“Sepertinya kamu telah menarik perhatian kakakku,” ucap Stella. Dia mengarahkan tubuhnya melihat Arvan, “Iya kan kak?” tanya Stella meminta persetujuan.


Alana memperhatikan pria bernama Arvan itu yang terlihat kebingungan. Tapi akhirnya mengangguk kecil, tanda setuju.


“Eh bukannya dia tidak bisa bahasa Indonesia?” tanya Alana pada wanita di depannya.


Stella tertawa kecil, “Memang tidak, aku sengaja mengerjainya.”


Alana tidak merasa lucu dengan lelucon ringan yang di ucapkan Stella. Dia malah semakin kebingungan.


“Ayolah jangan terlalu serius seperti itu,” ucap Stella sambil memegang bahu Alana.


Alana merasa sangat canggung, bagaimana bisa wanita di hadapannya ini terlihat biasa saja padahal ini pertemuan pertama mereka.


“Tadi perawat bilang tidak menemukan indentitas mu, memangnya kau kecopetan?”


Alana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


“Masa kamu pergi tidak bawa dompet, atau kartu indentitas setidaknya harus kau pegang.”


Alana menundukkan kepalanya, dia meremas selimut yang di peganya.


Rasanya air mata Alana ingin jatuh seketika mengingat kejadian yang menimpanya.


“A-aku ....” Alana mendesah kecil, dia bingung harus berbicara apa. Dia tidak ingin menceritakan tentang kejadian buruk yang menimpanya.


***


Kita lihat ketampanan Arvan dulu yah, cakep mana Jordan apa Arvan ?

__ADS_1


Visual Arvan



__ADS_2