Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Mode Marah


__ADS_3

Alana membuka kelopak matanya yang terasa perih akibat semalam menangis. Dia bangkit dari tidurnya, mengucek mata sebelum mengedarkan pandangan mencari Jordan.


Ternyata Jordan tidak ada di kamarnya, Alana membuka kalung pemberian Jordan semalam dan menyimpannya di atas nakas.


Alana memilih membersihkan tubuhnya. Setelah selesai Alana mencari ponselnya, sayangnya dia tidak menemukannya. 


“Perasaan kemarin habis telepon Niko ada deh,” gumam Alana.


Pintu terbuka, Alana melihat Jordan yang mengacungkan ponselnya. Dengan gaya santainya Alana melihat Jordan mendekat.


“Cari ini?”


Alana malas menjawab, apalagi Jordan sudah menghinanya semalam. Alana memilih melewati Jordan, dia butuh tenaga untuk menghadapi makhluk menyebalkan seperti Jordan.


Jordan tersenyum tipis melihat kepergian Alana, dia mengikuti Alana yang berjalan ke ruang makan.


Alana mengambil beberapa helai roti, lalu di olesi selai coklat yang cukup banyak. Jordan yang melihat kelakuan Alana hanya diam memperhatikan dengan saksama.


Alana tahu Jordan sedang memperhatikannya, tapi dia tidak ingin Jordan besar kepala. Pria itu harus mendapat hukuman atas ucapan pedasnya semalam.

__ADS_1


“Jadi kau marah, karena aku menyebutmu penghangat ranjang. Bukankah itu benar?”


Pernyataan dan pertanyaan Jordan mengusik kemarahan Alana. Alana menyimpan rotinya di atas piring dia berdiri dan menatap Jordan tajam.


“Iya benar aku penghangat ranjang. Dan jangan lupa kalau kau juga penjahat kelaamin!” tegas Alana sebelum beranjak dari tempat duduknya.


Jordan menarik tangan Alana, dia menggenggam tangan Alana dengan sangat erat hingga Alana meringis kesakitan. “Berani sekali kau!”


Alana tidak takut dengan tatapan tajam milik Jordan, lelaki itu tidak bisa di biarkan. Meskipun Alana mencintainya, bukan berarti Jordan bisa seenak hati mengatainya. “Kenapa aku harus takut? Ini fakta. Kalau kau bukan penjahat kelamin. Kau tidak akan meniduri Emily atau wanita di luar sana termasuk aku!”


Jordan refleks menampar Alana, karena baru kali ini Jordan mendapat cacian dari seorang wanita. Ada rasa bersalah melihat wajah Alana, dia melepaskan cengkeraman di tangan Alana, dan mulai mengatur emosinya.


Buliran air mata Alana meluncur setelah ucapannya, dia berjalan meninggalkan Jordan yang masih mematung di tempatnya. 


Alana berjalan keluar rumah, dia berpapasan dengan Nik yang baru saja datang.


Niko menunduk hormat, “Pagi nona,” sapa Nik.


Alana menghiraukan Nik, dia tetap berjalan keluar menuju gerbang.

__ADS_1


Nik menatap tubuh Alana, ‘Ada apa ini?’ pertanyaan itu muncul di benak Nik.


Nik berjalan masuk ke dalam untuk mencari tuannya. Kedatangan Jordan membuat Nik menunduk hormat.


Nik melihat pancaran amarah di mata Jordan, meskipun amarahnya tidak berkobar-kobar. 


Nik baru saja ingin angkat suara untuk bertanya namun Jordan lebih dulu menginterupsinya.


“Kita ke kantor Nik!”


Nik menganggukkan kepalanya, membiarkan Jordan lebih dulu berjalan di depannya. Seperti biasa Nik membukakan pintu untuk Jordan, memastikan Jordan sudah duduk dan menutup pintunya.


Nik masuk ke dalam mobil lalu, mulai melajukan mobilnya menuju gerbang. Suara klakson yang di bunyikan Nik, dengan cepat di tanggapi oleh penjaga gerbang yang sigap membukakan gerbang untuknya. 


Mobil yang di kendarai Nik dengan kecepatan sedang mendadak pelan, bagaimana bisa dia melihat Alana yang berjalan sendiri di luar tanpa pengawalan.


“Tuan nona Alana,” ujar Nik.


Jordan melirik sebentar lalu perhatiannya fokus ke depan, “Cepat Nik, kita bisa terlambat!”

__ADS_1


__ADS_2