
Suara mobil itu tidak bertahan lama, sepertinya berbalik arah, kini Alana tidak mendengar suara mesin mobil di sekitarnya.
Keheningan seakan menjadi teman Alana, hanya suara binatang yang terdengar di sekitarnya.
Alana melirik jam di tangannya, sudah satu jam dia berdiam diri di sana tanpa bergerak. Hingga kakinya terasa kesemutan.
Alana belum berani untuk keluar dari persembunyiannya, dia memilih meluruskan kakinya yang kesemutan.
Ada suara mobil lagi yang mendekat ke arahnya, tetapi kali ini suara mobilnya berbeda.
“Alanaaaa!”
Alana tidak akan salah mengenali, itu Jordan. “Aku di sini,” teriak Alana dengan suara seraknya.
Jordan mendengar suara Alana, tetapi dia tidak melihat keberadaan Alana. “Kamu di mana?”
“Aku di semak-semak.”
Jordan melihat ke sekelilingnya, banyak semak-semak di sana. “Keluarlah!”
“Aku tidak bisa bangkit, tolong.”
__ADS_1
Rasa khawatir dalam diri Jordan muncul, apalagi gadisnya meminta tolong dengan nada lemah. Fokus Jordan, “Goyangkan rerumputan di sampingmu!”
Alana menggoyangkan rerumputan di sampingnya untuk memberi tanda keberadaannya. Bola hitam gelap itu yang pertama kali Alana lihat, air matanya kembali meluncur.
Jordan yang melihat tubuh Alana sedang selonjoran di tanah segera menghampirinya. Jordan mengangkat tubuh Alana ala bridal style , dengan sigap tangan kecil itu mengalungkannya di leher Jordan.
Alana membenamkan wajahnya di dada bidang Jordan, yang memberinya rasa tenang.
Jordan membawa masuk Alana ke dalam mobilnya, dengan posisi Alana masih dalam pangkuannya. “Apa yang terjadi Alana?
Bola coklat bening itu penuh dengan air mata yang membanjirinya, raut wajahnya ketakutan. Tetes demi tetes air matanya kembali membasahi pipi Alana.
“A-aku.”
“Aku takut Jordan, takut.” Alana semakin mempererat pelukannya pada tubuh Jordan.
“Kau takut kenapa, ada yang mengganggumu?”
Alana mengangguk kecil, di tengah tangisnya Alana mencoba menceritakan kejadian yang baru saja di alaminya.
“Apa kau melihat wajah orang itu, atau pelat mobilnya?” Jordan mencoba mengorek info dari Alana, untuk menemukan pelakunya.
__ADS_1
Gelengan kepala dari wajah sembab Alana tidak bisa menghasilkan apa pun. Sepertinya gadis kecilnya ini benar-benar ketakutan.
Jordan memeluk Alana lebih erat, berusaha memberi rasa aman untuk gadis kecilnya. “Aku di sini, kau tidak perlu takut.”
Ucapan Jordan menghilangkan sedikit rasa ketakutan yang terus membayangi Alana. “Aku ingin pulang.”
Jordan membawa Alana keluar dai kursi belakang, lalu menurunkan tubuh Alana di samping kursi kemudi.
Jordan menyalakan mesin mobilnya, lalu menancapkan gasnya dengan kecepatan sedang. Di liriknya Alana yang masih memandang jalanan di depannya dengan tatapan Kosong.
Rasa iba itu menyeruak di hati Jordan, ada rasa ingin melindungi dan memberi kenyamanan untuk Alana. Tidak ini bukan cinta, hanya rasa empati. Jordan sepertinya sedang berusaha menyangkal perasaannya.
Sesampainya di rumah pribadinya, Jordan kembali membawa Alana dalam gendongannya. Merebahkan tubuh gadis itu di kamar miliknya.
Jordan menatap Alana yang kini sedang menatapnya dengan linangan air mata. Rasanya Jordan ingin membentak Alana, dia tidak suka melihat air mata Alana.
Tetapi Jordan mencoba mengerti kondisi Alana, wanita itu sedang mengalami hari buruk yang tidak pernah di laluinya.
Jordan membantu Alana bangkit, “Minum lah!”
Alana meminum beberapa tegukan air, yang di berikan Jordan. Lagi-lagi pria itu memberikan perhatian kecil padanya. Bagaimana Alana tidak jauh cinta pada pria dingin itu, jika pria itu selalu bersikap bahwa Alana prioritasnya.
__ADS_1
Untuk sekarang, tapi Alana tidak tahu masa depannya. Apa Jordan akan mencampakkannya, atau mereka akan bahagia seperti ratu dan raja di dalam dongeng.