
Eduard masuk ke dalam rumah yang sengaja ia beli untuk ibunya tinggal. Seorang perawat menghampiri Eduard, “Selamat malam Tuan.”
“Malam, di mana ibuku?” tanya Eduard.
“Nyonya sedang bersantai di halaman belakang ... Apa Tuan ingin saya buatkan kopi?”
“Tidak perlu.” Eduard melonggarkan sedikit dasi yang melingkar di lehernya seharian ini.
“Mari Tuan, saya antar.” Eduard mengikuti langkah Diana. Sudah lima tahun Diana merawat ibu Eduard.
Eduard tersenyum saat matanya bertatap dengan sang ibu. Namun seperti biasa raut wajah ketakutan sang ibu selalu menjadi sambutan kala Eduard menjenguk.
“Pergi!”
“Pergi sana!”
“Jangan ganggu hidupku lagi!”
Mendengar teriakan dari ibunya Eduard hanya menghela nafas dan pergi dari hadapan ibunya.
“Tuan maaf, saya belum bisa menyembuhkan Nyonya.”
“Tidak apa-apa itu bukan salahmu,” Ucap Eduard tanpa memandang lawan bicaranya. “Pergilah dan bantu menenangkan ibu.”
“Saya permisi Tuan.”
Eduard mengeluarkan ponselnya, ia membuka galeri. Menatap wajah pria biadab yang tega membuat ibunya trauma. Cengkeraman tangan Eduard pada ponselnya menimbulkan garisan urat tangan yang menonjol.
***
Averyl terbangun dari tidurnya, ia melirik samping tempat tidurnya yang kosong. Semalaman Averyl menunggu kepulangan Eduard, tapi sampai pagi ini harus merasakan rasa kecewa karena Eduard tidak pulang tanpa mengabarinya.
Pagi itu Averyl memilih berangkat kerja lebih cepat dari biasanya. Sesampainya di ruang kerja, Averyl hanya duduk dan menatap layar ponselnya. Ia ingin menghubungi Eduard, tapi rasa kecewanya menyebabkan ego dalam dirinya melarang untuk mencari tahu keberadaan Eduard.
Jam di ruangan Averyl sudah menunjukkan pukul delapan itu artinya ia harus mulai bekerja. Telepon kantornya berdering dari line satu milik ruangan Arsya. Dengan cepat Averyl menerima panggilan tersebut.
“ke ruangan saya sekarang!”
__ADS_1
“Baik Tuan.”
Averyl keluar dari ruangan menuju ruangan Arsya. Seperti biasa Averyl mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk.
Averyl Berjalan menghampiri Arsya dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Arsya.
“Apa Eduard bangun terlambat hingga ia tidak bisa mengantar Asyila, Mami dan Papi ke bandara?”
Averyl mengerutkan keningnya. Ia pikir Eduard menginap di kediaman Jordan. Tapi barusan ucapan Arsya bertanya alasan Eduard. “Eduard tidak pulang semalam.”
Arsya yang sedang mencari berkas di laci kerjanya mengalihkan perhatiannya dan menatap Averyl. “Benarkah dia tidak pulang, lalu dia pergi ke mana?”
“Aku tidak tahu.”
“Dia tidak mengabarimu?”
Averyl menggelengkan kepalanya. Ternyata Eduard menyembunyikan keberadaannya. Apa ia harus pergi ke Havelaar grup untuk mencari keberadaan Eduard.
“Jangan terlalu mencemaskannya, dia akan baik-baik saja.”
“Baik Tuan.”
Averyl menerima berkas yang Arsya berikan. “Tuan tidak salah, kontrak kerja sama ini akan membantu mengembangkan perusahaan kita Tuan. Apalagi sekarang Namira pemilik perusahaannya yang turun tangan mengurus NA Grup.”
“Kau tidak mendengar perintahku Averyl.”
Dalam hati Averyl bertanya-tanya mengenai penolakan Arsya. Setahu Averyl NA grup kini sedang berkembang pesat. Padahal ini kesempatan emas, tapi Arsya malah menolaknya.
***
Saat jam makan siang Averyl memilih menemui Eduard ke Havelaar grup. Ia menghampiri resepsionis dan meminta bertemu Simon. Pegawai resepsionis tersebut memberikan arahan letak ruangan Simon.
Sebelum mengetuk pintu Simon lebih dulu menyapa Averyl. “Nona ada apa?”
Averyl membalikkan tubuhnya dan menatap Simon. “Eduard ada?”
“Ada Nona, sedang rapat. Saya antar ke ruangan Tuan, Nona bisa menunggunya sebentar.”
Averyl mengikuti langkah Simon yang berjalan menuju lift. Mereka naik satu lantai, di lantai tersebut hanya milik ruangan kerja Eduard saja.
__ADS_1
“Mari masuk Nona.”
Averyl masuk ke ruangan Eduard. Ruangannya cukup luas, bahkan ruangan Arsya tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan ruangan Eduard.
“Nona tunggu di sini sebentar, saya harus kembali ke ruang rapat.”
Averyl menatap kepergian Simon. Pandangannya tertarik pada sebuah ruangan di pojokkan dekan toilet. Averyl berjalan ke sana untuk memastikan ruangan tersebut. Saat mencoba menekan handel pintu ternyata ruangan tersebut tidak di kunci. Averyl masuk dan di suguhi nuansa kamar monokrom. Ia berjalan menuju tempat tidur, seprainya benar-benar rapi seperti tidak di pakai. Averyl menghela nafas. Ia cukup terkejut saat sebuah tangan melingkar di perutnya.
“Ada perlu apa sampai repot-repot kemari sayang.”
Averyl menengok ke belakang untuk memastikan yang memeluknya adalah Eduard.
“Semalam kenapa tidak pulang?”
“Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan cepat. Sekarang semuanya sudah selesai kita bisa pergi honeymoon,” jawab Eduard. Ia memberikan kecupan di pipi Averyl.
“Benarkah semalam kamu menyelesaikan pekerjaan?”
“Iya aku di sini menyelesaikan pekerjaanku di sini.”
Averyl menghela nafasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ia menunjukkan sebuah video berlatar malam hari ada Eduard yang turun dari mobil dan masuk ke sebuah perumahan mini malis.
Eduard cukup terkejut melihat video tersebut lalu melepaskan pelukannya. “Kamu dapat video itu dari mana?”
***
Hallo selamat pagi semuanya 🥰
Selamat datang kembali di noveltoon Rere.
Hayo masih ingat gak siapa Rere?
Iyah Andrieta Rendra.
Ada karya baru loh, udah 24 episode. Mampir yuk ke sana, dan jangan lupa kasih love, komentar, like, vote dan hadiahnya ya. Terima kasih 💕
__ADS_1