
Siapa yang tidak kenal dengan Jordan Mikhael Anderson. Seorang CEO yang mendapat julukan Mr. Millionaire.
Di balik ke suksesnya banyak orang yang tidak pernah tahu bahwa Jordan pernah mengalami depresi. Selama satu tahun Jordan harus berurusan dengan psikiater.
Jordan melakukan psikoterapi, menelan pil pahit untuk keluar dari rasa traumanya.
Hingga pada akhirnya Jordan mencoba melarikan diri. Dia susah muak melakukan psikoterapi dan menelan pil pahit.
Jordan keluar dari rumahnya, dia pergi dari kota kelahirannya. Berharap dia bisa melupakan semua rasa traumanya.
Jordan tinggal di sebuah apartemen elit di tengah kota. Perasaan suntuk terus menggelayutinya.
Jordan butuh udara segar, dia berjalan di tengah keheningan malam.
Hingga rasa penasaran menggelitik di hati Jordan. Dan untuk pertama kalinya Jordan memasuki sebuah club’ malam.
Baru satu langkah memasuki club’ malam tersebut. Suara musik disko berdentam-dentam, membuat Jordan ingin keluar dari sana.
Sayangnya rasa penasaran itu mengalahkan rasa tidak nyamanannya.
Jordan tidak pernah merokok kini harus terjebak dengan asap roko dari para pengunjung. Asap roko dan bau alkohol seakan-akan menyambut kedatangan Jordan.
Di atas lantai dansa banyak orang bagai terhipnotis karena musik disko menari-nari dengan gaya sensual.
Jordan berjalan ke arah bar, dia memesan minuman dengan kadar alkohol rendah.
__ADS_1
Tubuh tegapnya menarik perhatian banyak orang. Namun Jordan tidak memperdulikan tatapan yang memuja padanya.
Tujuannya ke sini bukan untuk pamer ketampanannya. Di club’ itu ramai banyak suara yang saling bersautan.
Tetapi hanya Jordan yang merasa sendirian. Jordan mengeluarkan uang untuk membayar minuman yang tidak dia sentuh sama sekali.
Setelah selesai melakukan pembayaran ada seseorang yang menarik tangannya.
“Kau mau kemana? Bahkan minuma yang kau pesan belum di sentuh,” ujar seorang wanita yang terlihat cantik meskipun pencahayaan di sana cukup redup.
Jordan menarik tangannya, tapi wanita itu menambah tenaga agar Jordan tidak bisa pergi.
“Lepas!” bentak Jordan.
Wanita itu malah tersenyum, “Ayolah kau butuh teman, dengan sesuka hati aku akan menemanimu.”
Langkah wanita itu berhenti di meja bar yang tadi Jordan tempati.
Dengan terpaksa Jordan duduk di samping wanita yang tidak dia ke tahui namanya.
“Duduklah, kali ini aku traktir. Oh iya, perkenalkan aku Emily Everilda,” ucap Emily sambil mengangkat tangannya untuk berkenalan dengan pria di hadapannya, sambil tersenyum ramah.
Senyuman Emily mampu membuat orang terpesona saat pandangan pertama.
“Jordan Mikhael,” jawab Jordan singkat.
__ADS_1
Nama yang bagus,” puji Emily.
Emily memanggil seorang bartender, “Reedler Beer dan Baileys Irish Cream.”
Seorang bartender itu menganggukkan kepalanya, “Di tunggu sebentar nona.”
Bartender tadi memberikan pesanan Emily. “Thanks.”
Jordan menatap minuman yang di berikan Emily.
“Reedler Beer cocok untuk pemula sepertimu. Rasanya manis dengan rasa buah-buahan, kamu wajib coba.”
Jordan awalnya ragu, dia menatap mata Emily. Perempuan itu sepertinya memang ingin berteman dengannya tanpa ada maksud lain.
Jordan menarik nafas dan meconba minuman itu. Betul kata Emily rasanya manis dari rasa buah.
Jordan menatap minuman Emily, sebenarnya dia penasaran ingin bertanya.
Melihat tatapan Jordan yang mengarah pada minumannya Emily angkat bicara. “Baileys Irish Cream atau biasa di sebut liquor ini cocok untuk orang yang suka ngopi. Kamu suka kopi?”
__ADS_1
Jordan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, semenjak mengalami depresi Jordan sedikit kesulitan untuk angkat bicara.