
...Happy reading, sayang kalian đź’•đź’•đź’•...
Satu bulan yang terasa berat bagi semua orang. Tidak ada yang bisa membujuk Averyl agar keluar dari kamar. Filio dan Fiona adalah harapan terakhir mereka.
Eduard menyejajarkan tubuhnya dengan anak-anak. “Bantu Ayah ya tolong bujuk Ibu agar mau makan malam bersama di meja makan.”
Filio dan Fiona mengangguk, mereka masuk ke kamar. Sementara Eduard, Alana, Jordan, Arsya dan Asyila menunggu di depan pintu dengan gelisah.
Filio berjalan lebih dulu. Ia ikut duduk di sofa tepat di samping kanan Averyl sementara Filio duduk di samping kiri.
“Ibu Oma masak makanan yang banyak sekali, ikut makan bersama yuk,” Filio mencoba membujuk Averyl. Filio memang tidak pandai berbasa-basi.
Melihat tidak ada reaksi Averyl. Fiona akhirnya maju, ia memeluk Averyl dengan sangat erat. “Fiona sayang ibu,” ucap Fiona lirih.
Mendengar ucapan putri kecilnya berhasil menyadarkan Averyl dari lamunannya. Ia membalas pelukan Fiona tak kalah eratnya.
“Ibu kenapa makannya sedikit terus, badan ibu jadi kurus ... Fiona rindu melukis bersama ibu.”
Melihat Fiona dan Averyl menangis entah mengapa air mata Filio juga ikut mengalir, padahal Filio pantang sekali menangis karena anak pria tidak boleh cengeng. Tapi kerinduannya pada Averyl meruntuhkan pertahanannya ia memeluk Averyl dengan sangat erat sambil menangis.
“Fio juga sangat rindu makan masakan ibu,” ucap Filio.
Averyl memeluk kedua anaknya dengan sangat erat. Selama ini ia menutup diri dari siapapun, ia sangat malu. Entah apa dosa yang Averyl lakukan tapi ia merasa tuhan menghukumnya dengan sangat berat. Averyl tidak kuasa menahannya.
Setelah beberapa saat berpelukan sambil menangis, Fiona yang lebih dulu melepaskan pelukan mereka. Tangan kecil Fiona menarik tangan Averyl. “Ibu ... Fiona sangat ingin makan di suapi oleh ibu. Ibu maukan suapi Fiona?” ucap Fiona dengan wajah memelas.
Melihat anggukan Averyl, Filio pun ikut menarik tangan Averyl. “Filio juga mau di suapi.” Ucapan manja Filio menghasilkan tatapan kesal dari Fiona. Sementara Filio menjulurkan lidahnya mengejek Fiona.
Saat pintu kamar terbuka semua orang di sana tersenyum bahagia melihat Averyl yang mau keluar dari kamar dan ikut bergabung.
Makan malam yang sangat membahagiakan semua orang. Meskipun Averyl lebih banyak diam, namun melihatnya bergabung dan menyuapi anak-anak sudah membuat semua orang bersyukur.
***
Malam harinya setelah Eduard memastikan kedua anaknya tertidur ia kembali ke kamar. Sebuah senyuman menyambut kedatangan Eduard.
Eduard membalas senyum Averyl, ia berjalan dan ikut duduk di atas tempat tidur. Eduard merasa ada yang tidak biasa saat tiba-tiba Averyl memeluk. Namun Eduard melenyapkan pikiran itu dan membalas pelukan Averyl.
“Aku senang kamu kembali seperti biasa. Aditama sudah mendapatkan ganjarannya. Aku sangat mencintaimu Averyl,” ungkap Eduard.
Averyl mempererat pelukannya saat air matanya mengalir. “Aku juga mencintaimu Eduard,” lirih Averyl.
Malam itu menjadi malam yang sangat sempurna bagi Eduard. Ia bisa tidur dengan nyaman sambil memeluk tubuh Averyl.
__ADS_1
Eduard terbangun saat merasa bagian pahanya basah. Ia meneliti wajah Averyl yang tampak sangat pucat.
Eduard yang khawatir bangkit dari posisi tidurnya. Ia sangat terkejut saat selimut mereka tersingkap tempat tidurnya berlumuran darah.
Eduard menepuk pipi Averyl dengan pelan. “Sayang ... Sayang bangun.”
Eduard menyingkap semua selimut yang menutupi tubuhnya dan Averyl. Dada Eduard sesak melihat banyaknya darah di atas tempat tidur. Ia keluar dari kamar membopong Averyl menuju mobil.
Alana yang berpapasan dengan Eduard terkejut melihat anak serta menantunya berlumuran darah. “Apa yang terjadi Eduard?”
“Eduard akan ke rumah sakit sekarang, Averyl butuh pertolongan.”
Pukul dua dini hari Eduard membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan. Ia sesekali melirik Averyl yang tidak sadarkan diri.
Sesampainya di rumah sakit, Averyl langsung di tangani. Eduard membenci menunggu di depan ruang UGD dengan perasaan khawatir.
Setengah jam berlalu dokter keluar menghampiri Eduard. “Beruntung tuan membawanya kemari dengan cepat, sehingga nona Averyl masih bisa di tolong. Hanya saja ...”
Dokter menghela nafas sebentar. “Akibat dari mengonsumsi pil penggugur kandungan, ada kerusakan pada organ reproduksi nona Averyl.”
Air mata Eduard menetes begitu saja mendengar penjelasan dokter. Tubuhnya lemas, ia hampir kehilangan keseimbangan. Beruntung Jordan tepat waktu mehan Eduard dan menuntunnya untuk duduk di kursi.
“Pi,” rasanya tenggorokan Eduard tertahan.
Alana menangis dengan menutup kedua wajahnya. Ia merasa tidak becus menjadi seorang ibu. “Maafkan Mami,” batin Alana.
Eduard beranjak dari duduknya, panggilan Jordan pun ia hiraukan. Eduard memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Gudang yang tampak usang dan gelap tidak menimbulkan rasa takut sedikitpun bagi Eduard. Ia berjalan masuk. Kedua pria yang berjaga menunduk memberikan hormat pada Eduard.
Eduard berjalan menuju ruangan tempat Aditama di sekap. Ruangan yang lembab dan apek menyambut kedatangan Eduard.
Senyum remeh yang di tunjukan Aditama terlihat sangat menyebalkan. Eduard mengambil kursi dan duduk tepat di hadapan Aditama yang terikat pada kursi.
“Hallo Tuan Eduard Havelaar yang terhormat,” ledek Aditama.
Eduard memberikan pukulan pada bagian hidung Aditama.
Meskipun hidungnya mengeluarkan darah Aditama masih bisa tersenyum. Bagi Eduard senyum Aditama terlihat sangat menyebalkan.
“Bagaimana dengan Averyl, apakah dia hamil? ... Aku sudah menitipkan benih-benih yang cukup banyak di rahimnya yang sangat lembut dan hangat.”
Eduard bangkit dari duduknya. Ia mengangkat kursi miliknya dan menghantam Aditama.
__ADS_1
Pukulan Eduard seperti tak di indahkan oleh Aditama, senyumnya makin terlihat menyebalkan. “Sepertinya kedua anak kembarmu akan segera mendapatkan adik baru.” Wajah kesal Eduard berhasil menjadi kesenangan Aditama.
Eduard memukul Aditama bertubi-tubi menggunakan kursi. Wajah dan badan Aditama penuh memar dengan darah segar yang mengalir. Eduard merasa tidak puas menghukum Aditama. Pria itu terlalu bajingan untuk di lepaskan.
Saku di ponsel Eduard berdering. Eduard membuang kursi yang di pakai untuk memukul Aditama ke sembarang arah.
“Eduard cepat kemari, Averyl sudah sadar.”
Eduard menutup telepon sepihak ia segera bergegas menuju rumah sakit.
Malam itu Filio terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Ia berjalan menuju dapur. Melihat pintu kamar orang tuanya yang terbuka memunculkan rasa keinginan tahu Filio.
Filio melihat ke sekeliling yang tampak sepi. Dengan perlahan ia masuk ke kamar namun ia tidak melihat keberadaan orang tuannya. Filio terkejut melihat tempat tidur yang penuh dengan darah.
Filio berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidur. Ia mengambil bingkai foto Averyl dan memeluknya dengan erat.
Laci pada meja kecil tersebut sedikit terbuka. Filio membuka meja tersebut dan menemukan sebuah botol obat yang isinya sudah habis.
Dengan gerakan cepat ia kembali menyimpan botol tersebut dan berlari menuju kamarnya.
***
Saat pertama kali membuka mata, yang Averyl rasakan adalah sakit yang teramat di bagian perutnya.
Dada Averyl terasa amat sesak, tapi tidak ada satu butir pun air yang mengalir dari kelopak matanya. Averyl terdiam mengingat memori terakhirnya, ka meminum seluruh obat penggugur kandungan yang ia beli.
Tangan Averyl meraba perutnya. Untuk kedua kalinya ia kehilangan janin yang pernah tumbuh di rahimnya. Suara pintu yang terbuka menarik perhatian Averyl.
Saat tubuh Eduard mendekat, Averyl melihat wajah Eduard yang tampak khawatir. Tangan Averyl menyeka keringat yang ada di dahi Eduard.
Eduard menarik tangan Averyl yang ada di wajah. Ia menggenggamnya dan mengecup tangan lemah Averyl berkali-kali.
Bibir pucat Averyl bergerak mengatakan sesuatu. “Ed aku ingin kita pisah.” Ucapan Averyl terdengar sangat pelan, namun terasa amat menyakitkan bagi Eduard.
Eduard menggenggam erat tangan Averyl. “Tidak Averyl. Harus berapa kali aku katakan aku tidak akan pernah melepaskanmu.”
Averyl menutup kelopak matanya. Menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Hatinya terasa sangat sakit mendengar penuturan Eduard.
Eduard memeluk tubuh Averyl. “Apa pun yang terjadi jangan pernah berpikir untuk pergi.”
..._-TAMAT-_
...
__ADS_1