Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Nyonya Emily


__ADS_3

“Ayok buruan,” titah Jordan.


Alana masih diam, dia masih merasa kesal pada Jordan.


Jordan berjalan lebih dulu menuju pintu, lalu menutup pintu ruangannya, sementara Alana sudah berkaca-kaca dengan bibir mengerucut.


Niko yang di luar tengah duduk di mejanya langsung berdiri dan berjalan mengikuti Jordan ke lantai bawah.


“Apa pemilik toko masih ada, Nik?”


Nik menekan tombol lift, lift Khusus itu terbuka perlahan. Sepi tidak ada siapa pun di sana.


Jordan dan Nik masuk, menekan tombol lift untuk sampai di lobby.


Pintu baru saja tertutup, dan Jordan baru mengingat jika Alana tidak ada di dalam lift.


Saat pintu lift terbuka, Jordan berjalan mendekati meja resepsionis. Para pekerja di sana menunduk hormat pada CEO mereka.


Jordan mengambil gagang telepon, dia menghubungi nomor ruangan di kantornya.


Alana yang masih dalam mode kesal, hanya diam saat telepon di meja Jordan beberapa kali berdering.


Suara dering telepon itu hilang, namun kini di gantikan dengan suara telepon di dalam tas Alana.


Alana berdecap kesal, dia membuka tas kecilnya. Merogoh ponsel yang masih terus berbunyi.


Saat melihat siapa pemilik nama orang yang meneleponnya rasanya Alana ingin membanting ponsel tersebut ke lantai.


Hanya saja dia cukup tahu diri untuk melakukan hal gila itu. Dengan terpaksa Alana menekan tombol hijau.


“Apa?” sapa Alana ketus.

__ADS_1


“Aku tunggu di bawah sekarang!”


Suara Jordan sepertinya tidak ingin di bantah sama sekali. Alana terpaksa bangkit, dia keluar dari ruangan Jordan.


Nik hanya memberikan tatapan datarnya saat melihat kedatangan Alana dengan wajah penuh amarah.


Dia tidak ingin ikut campur. Biarkan tuan dan nona yang menyelesaikan masalah mereka.


 Jordan berjalan dengan santai keluar setelah melihat Alana keluar dari dalam litf.


Alana mengepalkan tangannya, saat melihat Jordan mendahului pergi sebelum Alana sampai di depannya.


Saat keluar dari loby hawa panas menyambut kedatangan Alana. Padahal jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.


Tetapi matahari membuat seseorang yang terkena sinarnya merasa kepanasan seperti Alana.


Keringat di dahi serta lehernya mulai membasahi kulit Alana. Saat masuk ke dalam mobil, pendingin itu menyambut kedatangan Alana.


Jordan melirik Alana sekilas lalu perhatiannya kembali pada ponsel di dalam genggamannya.


Alana yang merasa seperti penghuni yang tidak di anggap memilih menyandarkan tubuhnya.


Menutup matanya, menikmati angin segar dari pendingin mobil.


Aroma kopi menggelitik hidungnya, Alana menjadi ingin merasakan rasanya minum kopi yang dingin, sepertinya akan menyegarkan tenggorokannya.


“Nik,” panggil Alana.


Jordan mengalihkan perhatian saat mendengar suara Alana yang memanggil Nik.


“Iya nona?” sahut Nik.

__ADS_1


“Kalau ada kedai kopi mampir sebentar yah,” pinta Alana.


Jordan mengernyitkan dahinya, dia merasa kebingungan dengan permintaan Alana.


Selama dua minggu ini Jordan tidak pernah melihat Alana minum kopi, kenapa sekarang tiba-tiba meminta Nik.


“Baik nona,” jawab Nik. Sebenarnya dia tidak tahu di mana tempat ngopi yang tepat untuk nona Alana.


Karena baik Nik atau pun Jordan tidak ada yang suka menikmati kopi.


Jordan melirik Nik lewat kaca spion tengah, memberikannya tatapan untuk tidak mengabulkan keinginan Alana sekarang juga.


Nik hanya menganggukkan kepalanya secara, sebagai tanda dia mengerti.


Sesampainya di tempat tujuan mereka semua turun dari mobil.


Alana mengernyitkan dahinya saat melihat Niko dan Jordan masuk kedalam sebuah toko perhiasan.


“Selamat datang tuan,” sapa wanita yang berdiri dengan tegak menyambut kedatangan mereka.


“Apa nyonya Emily masih ada?” tanya Nik.


 ***


Maaf ya udah buat nunggu lama-lama cuma update 1 bab doang.


Laptopku rusak, aku gak terbiasa nulis di hp. Jadi mohon bersabar yah jika aku tidak bisa update banyak bab 🙏


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2