
“Ayok cepat antarkan aku pulang,” mohon Averyl.
Eduard yang tengah menikmati makan siangnya merasa terganggu, dengan ucapan Averyl yang terus menerus meminta di antarkan pulang. Ia membanting sendok dan garpu hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
“Bisa diam tidak!”
Bukannya takut Averyl malah semakin menjadi, ia sudah lelah memohon dari tadi. “Tidak! sebelum kau antarkan aku pulang ke apartemen.”
Eduar mengambil pisau makan, dan melemparkannya. Bidikannya tepat sasaran. Averyl diam membisu saat sebuah pisau mendarat tepat di samping wajahnya. pisau yang di lemparkan Eduard menancap pada sandaran kursi.
Eduard mendekat ke arah Averyl. Ia membungkuk mengambil pisau tersebut. “Menurut lah anak manis, sebelum pisau ini menancap tepat di bola mata indahmu,” ujar Eduard tepat di telinga Averyl.
Ucapan Eduard berhasil membuat bulu kuduk Averyl berdiri. Mulutnya membisu, dadanya terasa sesak. Tenggorokannya tercekat.
Eduard kembali duduk dan memakai pisau barusan untuk mengiris daging yang ada di piringnya. Sementara Averyl memperhatikan setiap gerakan Eduard yang memotong daging dengan santai dan memasukkannya ke dalam mulut.
__ADS_1
Saat pandangan mereka bertemu Averyl segera menunduk, ia fokus pada makanan di piringnya. Kini nyalinya terbang entah ke mana. Sepertinya Eduard bukan orang yang mudah di remehkan.
Di dalam benaknya, Eduard tersenyum bangga telah berhasil membuat wanita cerewetnya bungkam dalam sekejap. Setelah makan siangnya selesai Eduard berdiri dan berjalan meninggalkan Averyl yang masih duduk di kursinya.
Averyl bingung harus melakukan apa, ia ingin kembali ke apartemennya. Tapi untuk mengeluarkan suara saja rasa takut itu kembali. Derap langkah Eduard semakin menjauh Averyl berjalan dengan kekuatan seribu langkah untuk menyusul Eduard.
Tuan antarkan aku pulang. Suara itu hanya ia yang mampu mendengarnya, karena untuk berbicara saja Averyl tidak memiliki keberanian.
Eduard membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Ia membalikkan tubuhnya saat mendengar suara langkah Averyl yang masih mengikutinya. “Kau yakin ingin ikut masuk ke kamarku?”
Mendengar suara Averyl yang mirip kucing kejepit mengundang senyuman dari bibi Eduard. Wanita keras kepala yang terus membantah kini bagaikan raja hutan yang tunduk pada majikannya.
“Masuk!”
Ingin sekali Averyl memberontak dan memilih berlari namun ia tidak memiliki keberanian. Ia menyerah dan memutar tubuhnya mengikuti langkah Eduard yang berjalan ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Averyl berdiri kikuk di ambang pintu kamar mandi menunggu perintah Eduard selanjutnya. “Kenapa berdiri di situ, masuk!” Perintah Eduard berhasil membuat Averyl mereguk saliv*anya. Ia maju satu langkah dan kembali mematung.
“Kemari!”
Dengan berat hati Averyl melangkah maju, dan berdiri tepat di depan Eduard. Eduard merapatkan tubuhnya ke tubuh Averyl. “Tubuhmu bau, sepertinya kau harus mandi,” ucap Eduard di telinga Averyl.
Baru saja Averyl hendak menjauh namun tangan Eduard melingkar di tubuhnya. Suara resleting gaun yang di kenakannya menambah kepanikan Averyl. Tanda bahaya dalam tubuhnya menyala. Tangannya bergerak dengan mendorong tubuh Eduard agar menjauh, namun dorongan tersebut tidak cukup kuat untuk melepaskan dekapan Eduard.
“Tuan jangan macam-macam!” Averyl berusaha mengeluarkan ancamannya, meskipun dirinya benar-benar takut sekarang.
Senyum mengerikan yang di tunjukkan Eduard berhasil menyurutkan keberanian Averyl. Tapi bukan Averyl jika pantang menyerah.
Baru saja Averyl ingin mengeluarkan jurus menendang puasaka, namun Eduard sudah mengambil seribu langkah untuk menghindar. Kini Eduard berada tepat di belakang Averyl.
Averyl menahan nafasnya saat sebuah pisau yang terasa dingin mendarat tepat di lehernya. Averyl tidak bisa melakukan apa pun, satu gerakan saja akan mengakibatkan lehernya tersayat oleh pisau itu.
__ADS_1
“Aku senang bermain-main denganmu sayang. Mari kita lanjutkan permainan ini.” Ucapan dingin Eduard berhasil menambah kengerian dalam diri Averyl. Tamatlah riwayatku.