
Halo selamat sore menjelang malam semuanya ?
Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan ini.
Hayo siapa yang jawab Eduard, sini mampir kita buka puasa bersama 😂
Gak banyak basa basi, yok kita lanjut.
Selamat membaca 💕
***
Averyl menghela nafas, tanpa perlu pria di depannya membalikkan tubuh pun Averyl sudah tahu siapa pria tersebut, dari gaya rambutnya saja sudah ketahuan kalau itu Eduard.
Averyl mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Ia minum dengan santai dan berjalan menuju meja makan lalu duduk. Di pandangnya pria itu yang masih sibuk berkutat dengan masakannya di atas kompor. Averyl merasa tidak perlu bertanya mengapa Eduard bisa masuk ke apartemennya, dengan kekuasaan dan uangnya ia rasa Eduard tidak kesulitan untuk bisa masuk ke apartemen.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan masakannya Eduard menatanya di atas piring dan membawanya ke meja makan. Ia sedikit tidak tega melihat wajah lelah Averyl, padahal jelas-jelas tadi ia masih marah dan ingin memasukkan sianida ke makanan Averyl. Karena wanita itu berani-beraninya membuang makanan pemberian Eduard.
Saat Eduard berbalik Averyl melihat pemandangan yang baru ia jumpai. Eduard Havelaar tampak lebih tampan dari biasanya dengan buliran keringat di wajahnya, serta kemeja ketatnya menunjukkan otot-otot Eduard yang tersembunyi. Terlihat seksi.
Eduar menyimpan piring untuk Averyl dan menuangkan air mineral pada gelas kosong Averyl.
Averyl memandang takjub pada hidangan yang di buat Eduard. Penataannya benar-benar rapi seperti seorang chef, Averyl menelan air liurnya yang memenuhi rongga mulut. Ia tidak menyangka seorang Eduard pandai memasak, benar-benar tipe pria idaman. “Makanlah.” Tidak banyak bicara Averyl mencoba masakan Eduard.
Eduard memperhatikan dengan seksama raut wajah senang Averyl yang akan menyantap hidangan.
Dengan semangat Averyl mengambil sendok serta garpu dan mulai memakannya. Di suapan pertama Averyl mengunyah makanan dengan sumpah serapah di dalam benaknya. Rasanya ia menyesal memasukkan Eduard dalam kategori pria idaman. Meskipun tampilan makannya cantik dan menggugah selera tapi rasanya nol besar. Asin, manis, dan sedikit pahit. Dengan susah payah Averyl menelan makannya. “Kau ingin meracuni aku?”
Averyl membanting sendoknya, hingga menimbulkan suara dentingan yang cukup keras. Ia bangkit dari meja menuju lemari pendingin.
Melihat kemarahan Averyl dengan cepat Eduard mencobanya. Baru saja makanan itu mendarat di lidahnya Eduard berlari mencari wastafel dan memuntahkan makanan yang ada di mulutnya. Sial kenapa rasanya aneh begini!
__ADS_1
Eduard berjalan menghampiri Averyl yang kembali duduk di meja makan dengan beberapa macam buah-buahan yang di bawanya. “Maaf aku tidak bermaksud memberikan makanan tidak enak itu padamu.” Baru kali ini Averyl melihat raut wajah penuh penyesalan milik Eduard. Tapi ia tidak ingin terlena hanya karena merasa kasihan melihat wajah Eduard. Averyl memilih mengacuhkan Eduard dan fokus mengupas buah.
“Aku akan pesankan makanan, untuk makan malam kita,” ujar Eduard berinisiatif. “Tidak perlu aku sudah tidak berselera,” ketus Averyl. Apa yang di katakannya benar adanya, namun perutnya yang belum terisi dari siang tadi terus berteriak meminta jatahnya. Dengan terpaksa Averyl memilih untuk makan buah saja.
Eduard memilih mengalah dan diam memperhatikan Averyl yang tampak tenang memakan buah. “Kenapa, kau ingin?” Pertanyaan Averyl di jawab dengan menggelengkan kepala oleh Eduard.
Setelah perutnya terisi, Averyl merapikan meja makan dan memilih masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya.
Averyl memilih berendam untuk merelakskan tubuhnya yang terasa lelah. Rutinitas mandinya sudah selesai, Averyl memakai baju tidurnya. Ia berjalan keluar dari kamar mandi dan kembali di kejutkan dengan penampakan Eduard yang berbaring di tempat tidur Averyl mengenakan baju tidur. “Kenapa kau masih di sini, ingin apartemenku. Bukan tempat umum jadi pergi sana!”
Bukannya pergi setelah di usir sang pemilik, Eduard malah sengaja menarik selimut dan memejamkan matanya.
Kemarahan Averyl tidak bisa di tahan lagi, dia naik ke atas tempat tidur. Mengambil bantal guling dan memukuli wajah Eduard dengan sekuat tenaga mengeluarkan amarah yang sudah ia tahan sejak dulu. “Averyl sudah.” Bahkan suara Eduard saja sudah tidak di pedulikan lagi oleh Averyl.
Eduard mengambil alih bantal guling dari tangan Averyl lalu membuangnya. Sebelum Averyl berhasil melarikan diri Eduar lebih dulu menarik Averyl ke dalam pelukannya. Nafas memburu Averyl terdengar memenuhi ruangan yang sunyi. Sementara Averyl mengatur nafasnya, ia mendengar debaran jantung milik Eduard yang terdengar jelas dalam jarak sedekat ini.
__ADS_1
Averyl terkejut saat mendapat kecupan di kepalanya, ia hendak bangkit namun tubuhnya di tahan Eduard. “Lepaskan!”perintah Averyl. Dalam jarak sedekat ini, Averyl bisa merasakan deru nafas Eduard. Bukan hanya itu saja, jantung Averyl berdetak cukup keras saat memperhatikan manik Eduard. Tatapan mengunci yang di berikan Eduard berhasil membuat Averyl kalang kabut. Alarm dalam tubuhnya menyuruh Averyl lari dari tempat itu. Namun tubuhnya kaku, Averyl hanya bisa diam seraya memandang wajah Eduard.
Tangan Eduard menuntun punggung Averyl supaya lebih dekat. Dia ingin kembali merasakan bibir manis milik Averyl. Tidak. Bukan hanya bibir saja, tapi seluruh tubuh Averyl.