Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Dua Malaikat


__ADS_3

Alana sudah memiliki keputusan, semalaman dia sudah merenungkan semuanya. Kini dok sedang membuka selang infusnya perlahan di bantu oleh suster. Kelebatan kejadian kemarin terus menari di kepalanya. Alana tersenyum getir saat melihat luka yang di timbulkan Jordan karena menarik infusnya dengan kasar.


“Di jaga kesehatannya ya nona,” ucap Dokter sambil tersenyum pada Alana.


Alana menganggukkan kepalanya, “Terima kasih Dok.”


“Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Dokter.


Alana menganggukkan kepalanya, memberi Ijin.


Setelah dokter dan suster keluar, Alana menghembuskan nafasnya. Dia memilih membersihkan tubuhnya, beruntung Stella menitipkan baju untuknya kepada suster barusan.


Air yang dingin yang membasahi tubuhnya, membuat Alana lebih rileks dan tenang. Semua rasa khawatirnya hilang, meluncur bersamaan dengan air yang mengalir melalui saluran pembuangan.


Setelah selesai dengan acara mandinya, Alana keluar dengan rambut basah. Meskipun ini ruangan VVIP tapi di sini tidak di sediakan pengering rambut, Alana hanya berusaha mengeringkannya dengan handuk.


Saat membuka pintu Alana terkejut mendapati tubuh Arvan berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Dengan tatapan yang tidak bisa Alana artikan, bahkan ini pertama kalinya Alana menatap mata Arvan.


Arvan diam menatap mata Alana, ada sesuatu yang sangat menarik dari wanita ini baginya. Tapi Arvan pun tidak tahu jawaban pastinya.

__ADS_1


Alana merasa beruntung ada Stella yang masuk, dan memecah kecanggungan ini. Dia berjalan melalui celah yang ada, lalu berjalan melewati tubuh Arvan.


“Stella terima kasih, untuk bajunya.” Ucap Alana dengan senyum mengembang.


Stella duduk di sofa yang tersedia di sana, Alana pun ikut duduk di samping Stella. Alana ragu untuk mengungkapkan keinginannya, tapi dia harus melakukan ini.


“Stella, bolehkah aku bertemu dengan Jordan di sini?”


Stella membuka matanya lebar-lebar, ucapan Alana di luar dugaannya. ”Untuk apa?” tanya Stella penasaran.


Alana menggigit kecil bibir bawahnya, dia melirik Arvan yang berjalan ke arah sofa. Alana mencoba memantapkan hatinya, “Ada sesuatu yang harus aku selesaikan dengannya,” jawab Alana sambil menundukkan kepala.


“Aku tahu Stella, tapi aku harus bertemu dengannya terlebih dahulu. Aku mohon,” ucap Alana dengan menangkupkan kedua tangannya di depan Stella berharap wanita itu memberinya ijin.


“Baiklah,” ucap Stella dengan nada terpaksa. Dengan berat hati dia memberikan ponsel miliknya pada Alana.


“Terima kasih,” ucap Alana. Alana merasa lega setelah melihat ponsel Stella layaknya ponsel di luaran, tidak seperti milik Arvan yang menurut Alana sangat tidak masuk di akal. Bahkan Alana sampai berpikir, ‘Kegunaan ponsel seperti itu untuk apa? Tapi kenapa Arvan tidak kerepotan menggunakannya?’


Alana menekan nomor ponsel miliknya, jujur Alana tidak ingat nomor ponsel milik Jordan. Alana merasa lega ternyata panggilannya langsung di jawab. “Hallo,” sapa Alana.

__ADS_1


“Ada apa nona?”


Alana tidak terkejut mendapati suara Nik yang mengangkat teleponnya. Sepertinya Nik memang memegang semua kendali atas Jordan, jika menyangkut masalah pribadi tuannya.


“Aku ingin bertemu denganmu dan Jordan di ruang rawatku.” Alana melirik Arvan, mata mereka bertemu namun dengan cepat Alana mengalihkan pandangannya.


“Baik nona, kami akan segera ke sana.”


Alana menutup teleponnya, dia menampilkan senyuman dan memberikannya pada Stella.


“Alana tetapi aku tidak bisa menemanimu. Mungkin kau bisa bertemu dengan Jordan di temani kak Arvan, soalnya aku masih ada pekerjaan.”


Alana mengangguk kecil, “Tidak apa-apa Stella, terima kasih.”


Stella memeluk Alana, “kamu jangan takut untuk melawan dia, ada aku dan kak Arvan yang akan membantumu,” ucap Stella.


Alana membalas pelukannya, “Maaf karena aku selalu merepotkan kalian.” Sejujurnya Alana merasa sangat malu, mereka terlalu baik padanya.


“Jangan pernah merasa sungkan Alana!” Stella melepaskan pelukannya, dia merasa seperti memiliki kakak perempuan. “Kalau begitu aku pamit yah.”

__ADS_1


Alana memberikan senyum terbaiknya, dia merasa sangat terharu, dewi keberuntungan sepertinya berpihak padanya dengan mengirimkan dua malaikat baik hati yang mau menolongnya.


__ADS_2