Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Sembilan Puluh Sembilan Persen


__ADS_3

“Averyl tunggu,” teriak Eduard. Tetapi sepertinya Averyl tidak ingin berbicara dengan Eduard, ia terus berjalan menuju mobilnya.


Averyl hendak membuka pintu namun tangannya ditarik oleh Eduard. “Lepas!”


Eduard tidak melepaskan tangan Averyl dari genggamannya. “Aku tahu kau marah padaku.”


“Bukan sekedar marah. Tapi aku membencimu!” bentak Averyl seraya menarik tangannya.


“Aku mohon, berikanlah aku kesempatan. Aku tidak akan mengecewakanmu, aku berjanji,” Eduard berkata dengan tulus. Tetapi reaksi Averyl biasa saja bahkan ia membuka pintu mobilnya hendak masuk.


“Averyl aku mohon,” Eduard kembali menarik tangan Averyl.


“Orang yang berjanji di hadapan Tuhan saja berani berselingkuh, apalagi kamu yang menikahiku tanpa persetujuanku.” Averyl semakin muak melihat Eduard yang berlutut di hadapannya.


“Averyl Samantha maukah kau menerimaku sebagai suamimu,” ucap Eduard seraya mengulurkan tangannya yang memegang cincin pemberian Arsya.


“Kau pikir aku akan luluh?” Averyl masuk ke mobil dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Jordan. Sementara Eduard bangkit dari berlututnya dan memandang kepergian Averyl.


“Ed kau hutang penjelasan pada kami,” teriak Arsya.

__ADS_1


Eduard berjalan menghampiri keluarganya. Ia masuk dan duduk di sofa. Alana, Jordan, serta Arsya menunggu Eduard berbicara. Namun Eduard hanya memandang kotak pemberian Arsya.


“Eduard,” panggil Alana lembut.


Eduard mengangkat wajahnya dan menatap keluarganya. “Aku menjebak Averyl agar mendapatkan tanda tangannya. Setelah mendapatkan tanda tangannya aku mendaftarkan pernikahan kami.”


Alana melirik Jordan sinis. Jordan yang tahu maksud Alana, memberikan senyum terbaiknya untuk sang istri.


“Kenapa kau gegabah sekali Ed,” ujar Arsya menimpali.


“Kalau kau tidak menggagalkan rencanaku, aku tidak mungkin kepayahan untuk mencari ide agar Averyl mau menikah denganku. Apalagi kau seenaknya saja membuat rencana yang sangat merugikan untukku.” Eduard beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu. Namun ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap keluarga yang sudah menerimanya dengan baik. “Terima kasih untuk kejutan ulang tahunnya. Tapi aku harus pergi untuk menemui Averyl.”


***


“Averyl.” Averyl tahu siapa pemilik suara yang memanggilnya dari belakang. Averyl bangkit. Benar tebakannya, Eduard yang barusan memanggilnya. Averyl berjalan menghampiri Eduard lalu memberikan pukulan pada pipi Eduard.


Pukulan Averyl tidak terlalu terasa untuk Eduard. Eduard hanya diam memandang wajah Averyl yang penuh amarah.


“Aku sudah menceritakan semuanya penderitaan yang aku rasakan. Harusnya kau mengerti kalau aku tidak pernah ingin menikah,” ujar Averyl dengan nada marahnya.

__ADS_1


“Maka dari itu berikan aku kesempatan, agar kau merasa bahagia. Aku berjanji tidak akan bermain gila dengan perempuan mana pun,” janji Eduard.


“Aku tidak ingin membuang-buang waktu berhargaku, hanya untuk hidup denganmu.”


Eduard memikirkan cara agar Averyl memberinya kesempatan. Ia menarik nafas mencoba meyakinkan diri bahwa tawarannya kali ini tidak akan di tolak oleh Averyl. “Berikan aku waktu tiga bulan, jika kau ingin mengakhiri pernikahan ini aku tidak akan menolak. Dan jika kita berpisah lima puluh persen hartaku untukmu.” Averyl menggelengkan kepalanya. “Satu bulan. Tujuh puluh lima persen,” tawar Eduard.


“Satu bulan. Sembilan puluh sembilan persen hartamu untukku.” Di dalam hatinya Averyl berharap Eduard akan menolaknya. Karena jika Eduard menerimanya, itu sama saja Eduard bunuh diri. Sembilan puluh persen hartanya jika di berikan pada Averyl, sudah dapat di pastikan Eduard tidak memiliki apa-apa.


“Baik, aku akan meminta Simon untuk membuat perjanjiannya sekarang juga.”


Averyl mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia memberikan kesempatan untuk Eduard. Ini ide cukup gila yang Averyl miliki, meskipun jika mereka berpisah dalam sekejap Averyl akan kaya raya melebihi Gumelar.


Averyl merasa harus merayakan dirinya yang masuk ke dalam neraka yang telah di buatnya.Ini sangat gila.


***


Simon menyambut kedatangan Averyl dan Eduard. Mereka berjalan beriringan menuju ruangan Eduard. Averyl membaca dengan seksama surat perjanjian yang telah di siapkan oleh Simon. Semua isinya masuk akal, Averyl harus melaksanakan tugasnya sebagai istri termasuk di atas tempat tidur. Averyl ingin menolak, ia tidak bisa berhubungan badan lagi dengan Eduard.


Averyl memandang wajah Eduard dan Simon yang tampak serius menatap wajah Averyl. Averyl mengambil bolpoin yang di sediakan Simon, ia hendak membubuhkan tanda tangannya di atas materai untuk menyetujui perjanjian tersebut. Namun Averyl mengurungkan niatnya dan menatap serius manik Eduard. “Aku tidak bisa menandatangani surat perjanjian ini.”

__ADS_1


__ADS_2