
Jordan hanya bisa diam mendengar penjelasan dokter, tubuhnya terasa lemas. Setelah dokter keluar, Jordan memilih memejamkan matanya.
Seprai yang terkena muntahan Jordan sudah di bersihkan, Alana berani naik ke atas tempat tidur mendekati Jordan yang menutup matanya. “Kamu tidak bahagia mendengar aku hamil?” lirih Alana.
Jordan membuka matanya, berusaha tersenyum meskipun sesuatu di lambungnya kembali memberontak meminta di keluarkan.
“Aku bahagia mendapat kabar baik ini, hanya saja penderitaan ini cukup menyiksaku.” Jordan menarik tangan Alana lalu mengecupnya. “Terima kasih.”
Alana menghambur ke dalam pelukan Jordan, ia memang kasihan melihat kondisi Jordan yang seperti sekarang. Tapi ini juga karena ulahnya, jadi Alana tidak ingin larut dalam rasa kasihannya.
***
Sudah satu minggu Jordan terus muntah jika ada sesuatu yang masuk ke dalam perutnya, ia hanya bisa minum air putih saja. Sama seperti waktu Alana mengandung Jordan harus di berikan cairan untuk menopang nutrisi untuk tubuhnya.
Jordan tidak merasa keberatan dengan penderitaan ini, setidaknya dia bisa menepati janjinya untuk memberikan Arsya adik bayi. Siang itu seperti biasa Alana merebahkan tubuhnya di samping Jordan, entah kenapa Alana merasa nyaman berdekatan dengan Jordan, ia hanya menganggap ini keinginan bayinya.
Jordan mengusap perut Alana yang masih datar, “Papi harus menderita seperti ini untuk menyambut kedatanganmu, jadi kamu baik-baik saja di perut Mami ya.”
Alana mengulum senyum mendengar ucapan Jordan, “Jadi kamu merasa menderita?” ucap Alana dengan nada ketus, padahal ia sedang pura-pura.
“Sayang, kamu itu apaan sih.” Protes Jordan.
__ADS_1
“Kamu kok yang mau, penderitaan itu. Jadi tidak usah bawa-bawa janin di kandunganku.”
Jordan menghela nafas, ia menarik tangan Alana untuk menyentuh miliknya. “Bagian ini yang menderita, andai aja aku memiliki tenaga untuk menyalurkannya.”
Refleks Alana menarik tangannya, dia memberikan cubitan keras di pinggang Jordan. “Otak kamu harus di cuci kayaknya, kotor banget isinya. Lagi kayak gini juga enggak tahu kondisi!”
“Aaw … aaw sakit sayang lepas.” Jordan menarik tangan Alana agar pinggangnya terbebas dari cubitan sang istri.
“Aku kan Cuma kasih tahu, bukan aku yang menderita tapi dia.” Tunjuk Jordan pada bagian bawahnya.
Alana memberikan wajah geramnya, dia bangkit dari tidurnya dan keluar dari kamar dengan wajah kesal.
“Mami.”
“Arsya mau bertemu Papi, boleh?” Alana berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Arsya.
“Boleh, Papi ada di dalam.”
Wajah Arsya terlihat sangat gembira mendapat ijin dari Alana, “Terima kasih Mami.” Arsya memberikan kecupan di pipi Alana.
Alana tersenyum, dia membukakan pintu kamar agar Arsya masuk ke dalam. Alana hendak menutup pintu kembali, namun gerakannya tertahan mendengar suara Jordan.
__ADS_1
“Mau ke mana, kemarilah.” Jordan tahu Alana sedang kesal, padanya. Dia tidak ingin Alana stres dan itu akan mempengaruhi janinnya.
Dengan berat hati Alana berjalan masuk ke dalam, dia melihat Arsya sudah merebahkan tubuhnya di samping Jordan. Alana memilih duduk di pinggiran tempat tidur, namun tangannya di tarik oleh Jordan.
“Tidurlah bersama.”
Arsya sedang memeluk Jordan memilih melepaskannya, dan ikut membujuk Alana. “Iya, Mami. Ayok temani Papi tidur.”
Jika ada Arsya di tengah-tengah mereka Alana tidak bisa menunjukkan kekesalannya begitu saja, dia tidak ingin Arsya mencontoh yang tidak baik dalam diri Alana.
Mereka berbaring di atas tempat tidur dengan posisi Arsya berada di tengah-tengah Jordan dan Alana.
“Papi, dede bayi untuk Arsya mana?” Arsya sudah tidak sabar dengan janji sang Papi.
Jordan mengulurkan tangannya, untuk menyentuh perut Alana. “Adih bayi Arsya masih ada di perut Mami.”
Arsya yang merasa penasaran ikut menyentuh perut Alana, “Tapi tidak ada suara bayi, Papi,” rengek Arsya.
Jordan mengecup puncak kepala Arysa, “Adik bayinya masih kecil, jadi suaranya tidak terdengar. Arsya mau di panggil apa oleh adik bayi?”
“Biasnya panggilannya apa Papi?”
__ADS_1
Jordan mencoba memikirkan untuk jawaban Arsya, “Arsya mau di panggil Kakak atau Abang?”
“Abang kayaknya bagus Pi.”