
“Arsya harus makan banyak supaya cepat besar.”
Binar kebahagiaan muncul di wajah Arsya, Alana hanya diam membisu di tempatnya.
“Papi Arysa mau makan sekarang, supaya cepat besar dan naik motor,” celoteh Arsya dengan gembira.
“Oke, yuk kita makan. Supaya anak Papi cepat besar,” ucap Jordan sambil mencubit pipi gembil Arsya.
Alana memandang dua pria di depannya, Jordan terlihat cukup lihai dalam membujuk Arsya. Lebih tepatnya mengalihkan perhatian Arsya dari keinginan membeli motor besar.
Alana berjalan mengikuti Jordan dan Arysa, dia berharap Arsya melupakan keinginan untuk membeli motornya.
Sesampainya di tempat makan yang tidak jauh dari mereka, Jordan memilih tempat duduk untuk mereka makan.
Alana hanya bisa mengekor, dan ikut bersama anak dan mantan suaminya.
Alana masih kenyang karena sebel berangkat dia memang sudah sarapan.
Berbeda dengan Arsya yang terbiasa sarapan di atas jam sepuluh siang.
Alana melirik Arsya yang sedang makan di suapi oleh Jordan, ternyata Jordan menyadari perhatian Alana.
Manik coklat Alana bertemu dengan manik hitam milik Jordan. Jantung Alana berdetak kencang, dengan cepat Alana memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Jordan tersenyum melihat tingkah Alana yang mencuri pandang, dan kini menghindari tatapan Jordan.
“Papi lagi aaa,” Ujar Arsya.
Jordan kembali menyuapi Arsya dengan perlahan. Sebenarnya Jordan ingin mengajak berbicara Alana, tapi rasa gugup itu selalu berhasil mengurungkan niatnya.
Arsya meraih sendok yang di pegang Jordan, “Arsya mau suapi Papi, buka mulutnya Papi aaaa,” perintah Arsya sambil mendekatkan sendok ke depan mulut Jordan.
Jordan tersenyum dia membuka mulutnya lebar-lebar, untuk menerima suapan dari jagoan kecilnya.
Mata Alana fokus ke layar ponselnya, tapi pendengarannya dia fokuskan pada dua orang di hadapannya yang saling menyuapi.
Ada rasa cemburu yang timbul di hatinya, melihat kedekatan Arsya dengan Jordan.
Alana ingin mengakhiri ini semua, dia sudah lelah memasang wajah datarnya.
Alana sengaja memasang wajah datarnya, dia ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah tidak memiliki perasaan pada Jordan.
Padahal dari tadi dia sudah berusaha menahan gugup, serta menenangkan jantungnya uang berdetak tidak karuan.
Alana tersenyum melihat Arsya yang mulai mengantuk.
Suapan Jordan di tolak oleh Arsya, “Arsya sudah kenyang Papi,” ucap Arsya dengan nada lemah.
__ADS_1
“Arysa mengantuk?” tanya Jordan.
Arsya menganggukkan kepalanya, dia mulai mengucek matanya.
Jordan membantu Arsya untuk minum, sebelum Arsya tertidur.
“Ayo sayang kita pulang.” Ucapan Alana di jawab Arsya dengan menggelengkan kepalanya.
Arsya malah naik ke pangkuan Jordan dan memeluk Jordan serta menyandarkan kepalanya di dada Jordan.
“Arsya masih mau bersama Papi,” ucap Arsya sambil menguap, dia sudah mulai kehilangan kesadaran karena rasa kantuk.
Baru saja Alana ingin berbicara namun suaranya tertahan karena Jordan yang mengisyaratkan untuk tidak berbicara dengan menempelkan telunjuk di bibirnya.
Alana memilih mengalah, dia tidak ingin berdebat dengan Jordan.
Alana menundukkan kepalanya, tapi dia masih bisa melihat jelas Jordan yang sedang membelai rambut Arsya dengan sangat perlahan.
“Alana.”
Mendengar Jordan yang memanggil namanya Alana berusaha mengacuhkannya.
Alana tidak ingin berbicara dengan Jordan dalam waktu dekat ini, apalagi jantungnya sudah tidak karuan hanya karena Jordan memanggil namanya.
__ADS_1
Jordan tersenyum kecil melihat Alana yang pura-pura tidak mendengar panggilannya.