
Foto bayi kecil terpajang menyambut kedatangannya.
Hati Alana tidak karuan, kepalanya penuh dengan tanda tanya.
Alana duduk di sofa yang tersedia di sana, dia
memijat pelipisnya.
Benar-benar mengejutkan, di liriknya lagi foto
tersebut yang menampakkan wajah bayi yang lucu sekali.
Jordan berjalan menghampiri Alana yang sedang
memandangi foto besar yang ada di ruang tamunya.
Menyadari kedatangan Jordan Alana menatap pria
itu dengan tajam.
“Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Alana
dengan nada dingin.
Jordan tersenyum tipis, lalu duduk di salah
satu sofa yang agak jauh darinya.
Dia memejamkan matanya, mencoba mengingat
kenangan yang paling berkesan baginya.
_-Flashback-_
Setelah kepergian Alana, Jordan mulai
menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.
Begitu juga malam ini, di tatapnya wajah Alana
yang menjadi penyemangat hidupnya.
Foto Alana yang tengah tersenyum ke kamera.
Jordan sengaja menyimpan bingkai foto Alana di ruang kerjanya.
Hatinya resah saat melihat wajah Alana. Jordan
menghela nafasnya.
Ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk.
Jordan mengerutkan keningnya melihat nomor yang tidak dia kenal menghubunginya.
__ADS_1
Ini nomor khusus milik pribadi, tidak mungkin
orang iseng meneleponlarut malam seperti ini.
Meskipun ragu Jordan menekan tombol hijau dan
mendekatkan telepon ke telinganya.
“Hallo,” sapa Jordan.
“Aku tunggu di rumah sakit Medivron, Alana
akan melahirkan.” Telepon itu di tutup secara sepihak.
Bibir Jordan mengembang membentuk senyuman,
dia senang mendengar kabar Alana akan melahirkan.
Jordan berjalan meninggalkan ruangannya dengan
langkah tergesa, dia sudah tidak sabar untuk sampai di rumah sakit.
Mobil Jordan membelah jalanan di tengah
keheningan malam. Langit yang cerah sama seperti hati Jordan yang tidak sabar
menemui Alana.
menghampiri Arvan yang sedang duduk di ruang tunggu.
Lewat tatapannya Arvan meminta Jordan untuk
menunggu. Arvan berjalan masuk ke ruangan bersalin, tatapannya tertuju pada
Alana yang sedang menahan rasa sakit saat kontraksi.
Dengan lembut Arvan mengusap puncak kepala
Alana, “Aku enggak bisa temani kamu melahirkan, apa kamu ingin aku memanggil
Jordan untuk menemani kamu?”
Alana menarik nafasnya lalu mengeluarkan
perlahan, perutnya benar-benar sakit.
“Aku enggak ingin ketemu dia lagi, aku bisa melahirkan
sendiri,” ucap Alana sambil berusaha tersenyum di saat sakit di perutnya semakin
mendera.
“Aku tunggu di luar.”
__ADS_1
Alana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Di tatapnya punggung Arvan yang menghilang di balik pintu.
Jordan berdiri saat Arvan mendekat ke arahnya.
“Kau tunggu di sini, Alana tidak ingin di temani.”
“Baik, Lord,” jawab Jordan.
Ada rasa sakit di hatinya, kalau saja bukan
karena kebodohannya mungkin sekarang Jordan bisa membantu Alana menemaninyasaat
melahirkan.
“Duduk!”
Mendengar perintah Arvan, Jordan kembali
duduk. Perasaannya campur aduk tidak karuan.
Dengan ekor matanya Arvan bisa melihat dengan
jelas kegelisahan Jordan. Pria itu tidak henti-hentinya mengusap wajahnya
dengan kasar.
Arvan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan
Jordan, dengan senyum tipis yang terbit di wajahnya.
Seorang suster keluar dengan mendorong boks
bayi. Arvan memasukkan ponsel yang sedang ia pegang.
Jordan berdiri dan menghampiri suster
tersebut. Untuk pertama kalinya Jordan mengeluarkan air matanya di depan umum.
Dia benar-benar bahagia melihat bayi yang
sangat mirip dengannya. Hatinya bergetar, keinginannya terwujud sudah.
Dengan perlahan Jordan membawa bayi itu ke
dalam pangkuannya.
Jordan mengecup kening bayi itu dengan
hati-hati.
“Keadaan istri saya bagaimana sus?”
__ADS_1