Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Alana


__ADS_3

Foto bayi kecil terpajang menyambut kedatangannya.


Hati Alana tidak karuan, kepalanya penuh dengan tanda tanya.


Alana duduk di sofa yang tersedia di sana, dia


memijat pelipisnya.


Benar-benar mengejutkan, di liriknya lagi foto


tersebut yang menampakkan wajah bayi yang lucu sekali.


Jordan berjalan menghampiri Alana yang sedang


memandangi foto besar yang ada di ruang tamunya.


Menyadari kedatangan Jordan Alana menatap pria


itu dengan tajam.


“Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Alana


dengan nada dingin.


Jordan tersenyum tipis, lalu duduk di salah


satu sofa yang agak jauh darinya.


Dia memejamkan matanya, mencoba mengingat


kenangan yang paling berkesan baginya.


_-Flashback-_


Setelah kepergian Alana, Jordan mulai


menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.


Begitu juga malam ini, di tatapnya wajah Alana


yang menjadi penyemangat hidupnya.


Foto Alana yang tengah tersenyum ke kamera.


Jordan sengaja menyimpan bingkai foto Alana di ruang kerjanya.


Hatinya resah saat melihat wajah Alana. Jordan


menghela nafasnya.


Ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk.


Jordan mengerutkan keningnya melihat nomor yang tidak dia kenal menghubunginya.

__ADS_1


Ini nomor khusus milik pribadi, tidak mungkin


orang iseng meneleponlarut malam seperti ini.


Meskipun ragu Jordan menekan tombol hijau dan


mendekatkan telepon ke telinganya.


“Hallo,” sapa Jordan.


“Aku tunggu di rumah sakit Medivron, Alana


akan melahirkan.” Telepon itu di tutup secara sepihak.


Bibir Jordan mengembang membentuk senyuman,


dia senang mendengar kabar Alana akan melahirkan.


Jordan berjalan meninggalkan ruangannya dengan


langkah tergesa, dia sudah tidak sabar untuk sampai di rumah sakit.


Mobil Jordan membelah jalanan di tengah


keheningan malam. Langit yang cerah sama seperti hati Jordan yang tidak sabar


menemui Alana.


menghampiri Arvan yang sedang duduk di ruang tunggu.


Lewat tatapannya Arvan meminta Jordan untuk


menunggu. Arvan berjalan masuk ke ruangan bersalin, tatapannya tertuju pada


Alana yang sedang menahan rasa sakit saat kontraksi.


Dengan lembut Arvan mengusap puncak kepala


Alana, “Aku enggak bisa temani kamu melahirkan, apa kamu ingin aku memanggil


Jordan untuk menemani kamu?”


Alana menarik nafasnya lalu mengeluarkan


perlahan, perutnya benar-benar sakit.


“Aku enggak ingin ketemu dia lagi, aku bisa melahirkan


sendiri,” ucap Alana sambil berusaha tersenyum di saat sakit di perutnya semakin


mendera.


“Aku tunggu di luar.”

__ADS_1


Alana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Di tatapnya punggung Arvan yang menghilang di balik pintu.


Jordan berdiri saat Arvan mendekat ke arahnya.


“Kau tunggu di sini, Alana tidak ingin di temani.”


“Baik, Lord,” jawab Jordan.


Ada rasa sakit di hatinya, kalau saja bukan


karena kebodohannya mungkin sekarang Jordan bisa membantu Alana menemaninyasaat


melahirkan.


“Duduk!”


Mendengar perintah Arvan, Jordan kembali


duduk. Perasaannya campur aduk tidak karuan.


Dengan ekor matanya Arvan bisa melihat dengan


jelas kegelisahan Jordan. Pria itu tidak henti-hentinya mengusap wajahnya


dengan kasar.


Arvan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan


Jordan, dengan senyum tipis yang terbit di wajahnya.


Seorang suster keluar dengan mendorong boks


bayi. Arvan memasukkan ponsel yang sedang ia pegang.


Jordan berdiri dan menghampiri suster


tersebut. Untuk pertama kalinya Jordan mengeluarkan air matanya di depan umum.


Dia benar-benar bahagia melihat bayi yang


sangat mirip dengannya. Hatinya bergetar, keinginannya terwujud sudah.


Dengan perlahan Jordan membawa bayi itu ke


dalam pangkuannya.


Jordan mengecup kening bayi itu dengan


hati-hati.


“Keadaan istri saya bagaimana sus?”

__ADS_1


__ADS_2