
Setelah selesai berpakaian Jordan keluar menghampiri Nik. Dia mendengar suara tangis Arsya yang menggema di kamar sebelah.
Jordan mengeluarkan kartu akses dan membuka pintu. Matanya tertuju pada Arsya yang menangis di atas tempat tidur.
Jordan menghampiri Arsya dan memeluknya, “Ini Papi, sayang. Sudah jangan menangis.”
Arsya menghentikan tangisnya, dia memeluk erat Jordan karena ketakutan. Dia tidak pernah terbangun di tempat asing dan sendirian.
“Papi, Mami ke mana?” Arsya mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Jordan.
Jordan mengusap kepala Arsya dengan lembut, “Mami sedang istirahat, di kamar sebelah.”
“Mami kelelahan?” tanya Arsya dengan nada khawatir.
“Iya, Mami kelelahan. Sekarang Arsya ikut Papi yuk. Kita belum makan siang.”
Arsya menganggukkan kepalanya, setelah mengisi perut. Seharian ini Jordan habiskan bermain dengan Arsya. Berjalan-jalan ke mall yang berbeda tepat di depan hotel tempat mereka menginap.
Sementara Nik berjaga di depan pintu kamar Alana sesuai perintah Jordan. Dan Jordan tidak perlu khawatir jika Alana mencari mereka, karena ada Nik di sana.
Arsya asyik bermain dengan Jordan mencoba semua wahana bermain yang ada di mall.
Jam di pergelangan tangan Jordan sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi tidak ada kabar dari Nik tentang Alana.
“Papi, lihat Arsya bisa makan sendiri.”
Jordan mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel, dia perhatiannya kini fokus pada Arsya yang sedang menyuapkan sushi yang mereka pesan.
__ADS_1
“Anak Papi hebat sekarang, nanti Papi beri hadiah seorang adik bayi untuk Arsya.”
“Adik bayi itu apa Papi?” tanya Arsya dengan wajah kebingungan.
“Bayi kecil untuk teman bermain Arsya, jadi Arsya tidak akan kesepian lagi karena ada teman bermain.”
Arsya mengangguk antusias, “Mau Papi, Arsya ingin punya teman bermain.”
Jordan mengacak puncak kepala Arsya, “Tapi kalau sudah ada adik bayi, Arsya enggak boleh merepotkan Mami ya. Harus mandiri, kalau bangun dan tidak mendapati Papi atau Mami nanti tidak boleh menangis lagi.”
Wajah Arsya berubah sedih, “Tapi Arsya takut Papi,” rengek Arsya.
Jordan menggelengkan kepalanya. “Arsya tidak perlu takut, cukup panggil Mami dan Papi. Anak Papi kan jagoan tidak suka menangis,” ujar Jordan sambil mencubit pipi gembil Arsya yang menggemaskan.
“Iya, Papi. Arsya mau jadi jagoan kaya Spiderman.”
“Oke, nanti Papi belikan baju Spiderman untuk jagoan Papi.”
“Sama-sama, sayang.”
Setelah menghabiskan makan malamnya Jordan dan Arsya kembali ke hotel. Nik masih berdiri di tempatnya, Jordan langsung menghampiri Nik.
“Alana belum keluar kamar?” tanya Jordan dengan nada khawatir.
“Belum tuan.”
“Sekarang kamu pesankan makanan untuk Alana, setelah itu kami istirahat di kamar sebelah.”
__ADS_1
Sementara Arsya sudah tidak bisa menahan kantuknya, bahkan tubuhnya ambruk dan menabrak kaki Jordan.
Untung Jordan siaga menangkap tubuh Arsya sebelum terjerembap ke lantai.
Jordan membawa Arsya ke dalam kamarnya, lalu merebahkan tubuh Arsya di atas tempat tidur.
Tidak lupa Jordan membuka sepatu yang di pakai Arsya, dan menuruti tubuh jagoan kecilnya sebelum Jordan meninggalkan Arsya.
Saat hendak masuk ke kamar Alana, Jordan bersama pelayan hotel yang membawa makanan untuk Alana.
Jordan menerimanya dan berjalan masuk ke dalam kamar. Senyum mengembang di bibir Jordan melihat Alana yang masih tertidur pulas dengan memeluk bantal guling.
Jordan menyimpan nampan yang di bawanya ke atas nakas, lalu berjalan menghampiri Alana.
Jordan membelai pipi Alana dengan lembut, “Bangun putri tidur.”
Jordan tahu Alana sudah bangun saat dia datang, sepertinya Alana ingin bermain-main.
Jordan menggoda Alana dengan menghisap kembali bibir Alana sebentar lalu melepaskannya.
Jordan tersenyum melihat akting Alana. “Ronde kedua boleh juga.”
Alana melemparkan bantal guling yang di peluknya ke wajah Jordan. Namun sayang sebelum mengenai wajahnya, Jordan sudah berhasil menangkapnya.
Melihat senyum Jordan membuat Alana semakin kesal, dia menutup wajahnya. “Maluu,” ucap Alana di dalam hatinya.
Alana merasa benar-benar malu, karena mudah memberikan tubuhnya pada Jordan. Apalagi Jordan menebarkan benih di rahimnya.
__ADS_1
“Aaaa, aku murahan,” batin Alana.
“Sayang,” panggil Jordan lembut.