
Alana menatap kepergian Jodan dengan wajah datarnya, untuk saat ini dia tidak merasakan apa pun di dalam hatinya. Semuanya terlalu mengejutkan, apalagi Jordan lah penyebab kematian orang tua Alana. Helaan nafas keluar dari mulutnya, Alana menundukkan kepalanya.
Memejamkan matanya, mencoba menenangkan hatinya yang muncul empati melihat Jordan kesakitan, karena jujur rasa cinta untuk pria itu masih ada di hati Alana.
Alana merasakan seseorang mendekat ke arahnya, Alana membuka matanya tersenyum melihat Stella yang sedang menatapnya. “Alana aku tahu kamu masih mencintai pria itu, tapi aku harap kamu sadar setelah apa yang dia lakukan padaku. Mungkin aku bisa melawannya, tapi jika kamu ada di posisiku aku takut kamu tidak bisa melawan pria kasar itu.”
Stella menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. “Ikutlah bersama kakakku, kamu harus belajar banyak agar bisa menghadapi pria kasar seperti suamimu,” ucap Stella sambil tersenyum.
“Ta-“ ucapan Alana terpotong saat Stella menggenggam tangannya.
“Masa depanmu masih panjang, kamu berhak bahagia. Jangan sampai selama hidupmu kamu tersiksa dengan sikap suamimu.”
Alana mengangguk kecil, selama ini dia memang bahagia mendapat perhatian kecil yang di berikan Jordan. Tetapi Alana tidak bisa menutup hatinya semua perlakuan kasar Jordan cukup membekas di dalam benaknya.
“Alana perkenalkan ini suamiku, Arnon,” ucap Stella memperkenalkan pria yang sedang memeluk pinggangnya dari samping.
Alana tersenyum dan menunduk hormat. Sementara Arnon tersenyum melihat tingkah Alana.
__ADS_1
“Ayolah jangan mengagungkan aku seperti itu, aku bukan Arvan yang gila hormat.” Candaan Arnon memancing kemarahan Stella.
“Sayang! Kakakku tidak seperti itu,” ucap Stella dengan nada ketus. Dia benar-benar kesal melihat suaminya yang berani menjelekkan kakaknya.
“Jangan marah dong sayang, aku cuma bercanda,” Arnon berusaha membujuk Stella supaya tidak jadi marah padanya.
“Aku kembali bekerja yah, kau harus pergi dengan kakakku,” ucap Stella pada Alana yang di jawab dengan anggukan dari kepala Alana.
Stella mentap Arnon tajam, “Pergi sana, jangan harap malam ini kau bisa tidur di kamar,” ketus Stella sebelum pergi meninggalkan Arnon.
Arnon dengan cepat mengikuti langkah Stella, “Sayang kok kamu gitu, aku enggak bisa tidur kalau enggak peluk kamu.”
Arvan yang melihat raut wajah Alana mencoba berjalan mendekati wanita itu, “Jadi pergi?” tanya Arvan setelah berada di depan tubuh Alana.
Alana menganggukkan kepalanya, dia menatap tangannya yang di genggam oleh Arvan agar mengikutinya.
“Kenapa Arvan selalu bersikap seperti ini?” pertanyaan itu muncul di benak Alana.
__ADS_1
Alana memperhatikan Arvan yang membukakan pintu mobil untuknya, perasaan canggung kembali menyelimutinya. Dia merasa bukan ratu atau siapa pun yang berhak mendapat perlakuan istimewa dari Arvan.
Setelah memastikan Alana duduk nyaman di tempatnya, Arvan menutup pintu. Mengitari mobil dan duduk di balik kemudi.
Sepanjang perjalanan Alana hanya diam, dia menundukkan kepalanya menatap kakinya. Hingga suara Arvan menginterupsi.
“Lehermu akan pegal jika terus menundukkan kepala,” ucap Arvan sambil menatap Alana.
Pandangan mereka bertemu, Alana mengalihkan perhatiannya pada jalanan di depannya. “Bukankah kau tidak bisa bicara bahasa Indonesia?”
Arvan tersenyum tipis, “Sebelumnya aku memang tidak bisa berbicara bahasa Indonesia. Bahkan aku tidak mengerti jika kamu berbicara.”
Alana memberanikan diri untuk menengok ke arah Arvan yang sedang mengemudikan mobilnya. “Lalu?” tanya Alana.
“Aku belajar,” jawab Arvan santai.
Mulut Alana menganga, “Dalam satu malam?”
__ADS_1
Arvan menganggukkan kepalanya, dia tersenyum melihat wajah Alana yang tampak lucu saat menunjukkan ekspresi terkejutnya.