
“Kau belum makan?” anak kecil tersebut mengangguk. Eduard menatap wajah Averyl. “Kau ingin ikut turun dan pergi ke mini market. Atau menunggu di sini?”
“Aku ikut,” jawab Averyl. Mereka keluar dari mobil. “Kau ingin makan, ayo ikut aku!” Averyl sedikit terkejut mendengar suara Eduard yang tidak seperti biasanya. Saat berbicara dengan anak kecil itu terdengar lebih lembut.
Averyl berjalan mengikuti Eduard dan anak kecil yang berjalan di depannya. Averyl menggosok Kelopak matanya. Ia merasa tidak salah melihat seorang Eduard mau berpegang dengan anak jalanan yang penampilannya sedikit lusuh.
Eduard masuk ke mini market dan membawa keranjang belanja. “Ambil saja makan yang kamu inginkan,” ujar Eduard sambil menyerahkan keranjang belanja pada anak kecil.
Anak kecil itu menerima dan mengambil satu kotak roti gandum dan memasukkannya ke dalam keranjang. “Ini saja Tuan.”
Eduard memandang manik anak kecil tersebut dengan pandangan tidak percaya. Mungkin jika dulu ada orang baik seperti dirinya, Eduard akan mengambil beberapa makanan untuk mengisi perutnya beberapa hari kedepan. Tapi anak kecil itu hanya mengambil roti gandum saja. “Ambil saja semua kebutuhanmu, jangan sungkan.”
Anak kecil itu tampak berpikir dan menatap jajaran rak di depannya. Ia mengambil satu kotak susu rasa stroberi. Eduard teringat mami Alana, mami angkatnya itu sangat menyukai susu rasa stroberi. “Ini Tuan sudah,” ujar anak kecil dengan senyum mengembang.
Eduard menerima keranjang belanja tersebut. “Mari ikut aku.” Averyl memperhatikan anak kecil yang mengekor di belakang Eduard. Sementara Averyl membeli coklat panas. Saat berjalan menuju kasir. Averyl memandang keranjang yang di bawa Eduard kini penuh berisi makanan.
__ADS_1
Setelah membayar belanjaannya Eduard dan anak kecil tersebut keluar lebih dulu meninggal Averyl yang masih mengantre di dalam. “Terima kasih banyak Tuan, semoga Tuhan memberkatimu.” Eduard tersenyum dan mengusap kepala anak kecil dengan penuh kasih sayang. Averyl baru kali ini merasa di acuhkan dan tidak di anggap keberadaannya oleh Eduard. Averyl membayar coklat panas dan keluar menyusul Eduard yang tengah duduk di kursi yang di sediakan di pelataran mini market.
Averyl menyesap coklatnya dengan perlahan. Ia mengikuti arah pandang Eduard yang tertuju pada seberang jalan. Sebuah ruko kosong. Di depannya ada dua orang anak kecil yang terlihat gembira memakan makanan yang baru saja di beri Eduard. Ada tanda tanya besar di hati Averyl melihat tingkah yang tidak biasa dari diri Eduard. “Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” pertanyaan Averyl tidak mendapat jawaban juga.
Averyl sedikit kesal melihat tingkah Eduard. Ia menempelkan coklat panas ke pipi Eduard. Eduard mengaduh. “Apa yang kau lakukan?” tanya Eduard dengan nada membentak.
“Kau harus kembali ke dalam, sepertinya telingamu tertinggal. Makanya kau terlihat seperti orang bodoh saatku tanya,” ketus Averyl.
“Apa katamu, aku bodoh?” Averyl mengacuhkan pertanyaan Eduard. Ia bangkit dari duduknya dan menyodorkan tangannya, “Kembalikan kunci mobilku!”
Sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Eduard dan Averyl. Seorang pria turun dan menatap Averyl dan Eduard secara bergantian. “Kalian sedang apa di sini?”
Averyl menarik tangannya dari cekalan Eduard. “Dia membawaku ke sini, aku ingin pulang tapi dia tidak memberikan kunci mobilku.”
Amarah Eduard muncul ke permukaan saat Averyl menyebut Eduard dengan sebutan ‘Dia’. Eduard menarik tangan Averyl dengan kasar. Arsya yang melihat itu menarik tangan Averyl yang terbebas. “Eduard lepaskan!”
__ADS_1
“Anak kecil kau tidak perlu ikut campur!” Arsya tidak terima di panggil anak kecil oleh Eduard. “Averyl adalah milikku, kau tidak berhak mengatur hidupnya lagi!” Balas Arsya.
Eduard menarik Averyl cukup kencang hingga tangan Averyl terlepas dari cekalan Arsya. Eduard menyembunyikan Averyl di belakang tubuh kokohnya. Ia mengeluarkan senjata api dan menodongkannya pada Arsya. “Kalau kau masih ikut campur jangan pernah salahkan aku jika tembakanku merenggut nyawamu!”
Tidak ingin kalah dari Eduard, Arsya mengeluarkan senjata api dan menodongkannya pada Eduard. “Kau pikir kau siapa, kau tidak akan menjadi Eduard Havelaar yang seperti sekarang. Mungkin kau akan mati di jalanan seperti teman-temanmu!”
Melihat keadaan yang semakin memanas Averyl hanya diam membisu mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Eduard dan Arsya.
“Aku tahu betul. Papi yang berjasa atas keberhasilanku, dan kau tidak berhak mengatur hidupku. Sepertinya Papi tidak akan merasa kehilangan jika kau mati sekalipun.” Hinaan Eduard benar-benar menembus di ulu hati Arsya. Tangannya mencengkeram kuat senjatanya, ia sudah muak melihat Eduard yang terlalu banyak bertingkah.
***
Selamat malam semuanya 😘
Ternyata menghadapi harimau pubertas cukup memusingkan juga. Ada yang mau bantu memisahkan Eduard dan Arsya? Tapi hati-hati ya takut kena tembak nanti jadi jatuh cinta lagi 😅
__ADS_1
Sekian dulu cuap-cuap tidak jelasnya, sampai jumpa esok. Semoga hari kalian menyenangkan 💕