
Pelayan tersebut tersenyum dan menunduk memberikan hormat. “Nyonya Emily ada di dalam tuan, mari saya antar.”
Alana mengikuti mereka yang berjalan masuk ke ruangan khusus di sana.
Pelayan tersebut mengetuk pintu sebanyak tiga kali, lalu membuka pintu tersebut.
Saat masuk Alana memperhatikan isi ruangan yang tampak simpel. Ruang kerja yang terlihat formal, dengan seorang wanita yang terlihat sedang mengandung menyambut kedatangan kami.
“Hai, sayang,” Emily langsung menghambur ke dalam pelukan Jordan.
Wajah Alana berubah seketika, dia kesal melihat wanita itu memeluk Jordan dan seenaknya memanggil suaminya dengan sebutan sayang.
Niko melirik ekspresi marah yang di tunjukan Alana, ‘Oke, ini harus di akhiri sebelum peperangan terjadi.’
“Nyonya Emily!” Panggil Nik dengan nada memperingati.
Emily menampakkan wajah kecewanya lalu melepaskan pelukannya dari Jordan.
Perhatian Emily beralih saat melihat wanita di samping Nik.
“Hai perkenalkan aku istri Mik, dan ini anak Mik,” ucap Emily semangat memperkenalkan diri sambil mengusap perut buncitnya.
Alana hanya diam, dia tidak bisa berkata-kata setelah mendengar penuturan Emily.
“Emily!” panggil Jordan dengan nada tegas.
__ADS_1
“Oke-oke. Ini bukan anak Jordan dan kami hanya sebatas teman.”
‘Teman di atas ranjang’ lanjut Emily di dalam hatinya.
“Alana,” sahut Alana memperkenalkan dirinya.
Jordan mendekat ke arah Alana, memeluk pinggang ramping Alana dari samping.
“Istriku,” Jordan mengecup pipi Alana singkat.
Perasaan Alana menghangat mendapat perlakuan manis dari Jordan.
‘Menebar kemesraan terus!’ batin Nik.
“Kapan kau menikah, Mik?” tanya Emily. Ada rasa tidak suka di hatinya saat Jordan mengakui wanita buruk rupa itu sebagai istrinya.
Alana mengangguk. “Iya,” jawab Alana singkat.
“Duduklah dulu.”
Mereka duduk di sofa yang tersedia di ruangan kerja Emily.
“Bryan bagaimana?” Jordan menatap Emily, meminta jawaban pasti.
“Bryan tidak mau menerima kami, dia hanya memberiku modal untuk membangun usaha. Agar kami tidak merepotkannya.”
__ADS_1
Alana hanya menyimak perbincangan Jordan dan Emily.
“Kau terlalu bodoh, Em!”
Emily menampakkan wajah kesalnya. “Iya aku memang bodoh. Seharusnya kamu tidak pergi dariku, supaya aku tidak bodoh seperti ini!”
Alana terkesiap mendengar ucapan Emily yang menyiratkan kemarahan wanita hamil itu. ‘Apa mereka pernah memiliki hubungan khusus' batin Alana.
“Emily!” lagi-lagi Jordan memanggil nama Emily untuk memperingati gadis itu agar tidak bicara sembarangan di depan Alana.
“Aku tinggal sebentar, aku akan mengambilkan pesananmu dulu,” ucap Emily sebelum meninggalkan ruangannya.
Emily menghapus air matanya yang turun tanpa permisi, hatinya sakit melihat Jordan yang terang-terangan memperkenalkan wanita itu padanya.
“Mana pesanan kalung milik Mik?” tanya Emily pada salah satu pegawainya yang sedang berjaga.
Pegawai Emily mengambil paper bag dan memberikannya pada Emily. “Ini Nyonya.”
Alana menerima kotak itu dan berlalu pergi. Dia berjalan kembali menuju ruangannya.
Di depan pintu Emily menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Handel pintu Emily buka dengan perlahan, dia berjalan masuk ke ruangannya dengan membawa paper bag di tangannya.
Semua mata tertuju pada Emily yang baru saja membuka pintu.
__ADS_1
Alana memperhatikan penampilan Emily yang terlihat cantik, wanita itu memakai baju yang menunjukan lekuk tubuhnya.
Bahkan perut buncit Emily tidak membuatnya terlihat seperti ibu hamil pada umumnya, yang biasanya memiliki badan yang berubah jadi gemuk.