Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Dua Tamparan


__ADS_3

Alana tahu itu mobil Jordan yang berada di sampingnya, tetapi Alana menghiraukannya dia tetap berjalan.


Sayangnya harapan Alana sirna melihat mobil yang di kendarai Nik melaju meninggalkannya.


Rasa sakit itu cukup menyayat hati Alana, bagaimana tidak dia merasa seperti tidak ada artinya lagi.


 Bahkan kepergiannya pun sepertinya tidak berarti bagi Jordan. Alana menghapus air mata yang berani turun membasahi pipinya.


Sakit di pipinya tidak bisa mengalahkan rasa sakit di hatinya. Rasa di abaikan, tidak di hargai, dan tidak di anggap berarti, cukup membuat luka lebar di hatinya. 


‘Apa ini akhir dari segalanya?’ air mata Alana kembali turun. Tetapi dengan cepat di hapusnya, Alana tidak ingin di kasihani orang lain.


Dia berjalan tanpa arah, helaan nafas terus keluar dari mulutnya. Alana sudah keluar dari perumahan elite dan berjalan tanpa tujuan.


Hari memang belum siang, tetapi teriknya membuat Alana merasa kepanasan. Keringat bercucuran di kening dan lehernya.


Alana melihat taman kecil yang tidak jauh dari depan perumahan. Dia memilih duduk untuk beristirahat sejenak.


Alana meraba pipinya, sakit dari tamparan Jordan sudah hilang. Tapi membekas di hatinya, Jordan sepertinya tidak punya hati. Bagaimana bisa Alana marah tapi pria itu malah menghinanya lagi.


Bukannya meminta maaf Jordan malah menampar pipinya, Alana mengepalkan tangannya. Dia benar-benar kesal dengan sikap Jordan.

__ADS_1


“Kenapa aku harus mencintai pria  seperti dia. Tidak punya hati,” keluh Alana di dalam hatinya.


Raut wajah Alana menggambarkan isi hatinya, antara sedih dan marah berbaur menjadi satu.


Matahari beranjak naik, udara siang itu semakin terasa panas. Alana merasa sangat kepanasan, ini pertama kalinya setelah hampir satu bulan Alana hanya berdiam diri di ruangan ber AC.


Alana menyeka keringatnya, dia berjalan keluar dari taman. Sepanjang jalan Alana melirik ke sana kemari, berharap bertemu orang-orang yang mengenalnya.


Namun nasibnya terlalu sial, Alana menghentikan langkahnya begitu mobil tiba-tiba berhenti di depannya. Alana membeku di tempatnya, melihat dua wanita yang dia kenal tersenyum sinis menatapnya.


“Derita apalagi ini tuhan?” batin Alana.


Syila berjalan dengan senyum bahagianya, bagaimana tidak bahagia dia bisa membalas perlakuan Alana dengan mudah saat tidak ada Jordan. “Sepertinya dia sudah di tenang oleh Jordan Nit,” seringai menyeramkan muncul di bibir Syila.


Wajah Alana semakin kusut, sepertinya dia tidak akan mudah membela diri. Memangnya siapa yang mau membela Alana, Jordan? bahkan pria itu tidak mementingkannya.


Syila dan Nita benar-benar seperti mendapatkan angin segar di tengah rasa suntuknya.


Bagaimana tidak mereka bertemu dengan wanita yang sudah menghilangkan masa depannya. Perbuatan Alana membuat Nita dan Syila marah bukan main.


Jordan membuat blacklist untuk mereka, sehingga Nita dan Syila tidak bisa mendapatkan pekerjaan layak karena citra buruk yang di buat Jordan membuat perusahaan besar menolak lamaran mereka.

__ADS_1


“Seharusnya kau lari bodoh!” bentak Nita.


Alana masih diam di tempatnya, dia tidak ingin bertemu mereka di saat seperti ini. Alana memang wanita lemah, hanya Jordan yang membuatnya memiliki kekuatan untuk melawan siapa pun yang tidak suka padanya.


Nita menampar Alana dengan sekuat tenaganya, senyum Nita melebar melihat pipi Alana yang merah menyala. “Itu balasan untukmu!”


Alana menghembuskan nafasnya, pipi yang di tampar Jordan kini sakit kembali akibat tamparan Nita. Alana ingin pergi dari sana, namun tangan Syila mencekalnya.


“Mau ke mana?”


Alana menarik tangannya dari cekalan Syila. Syila yang tidak terima mendorong Alana hingga wanita itu jatuh. 


Alana merasakan sakit di bokongnya yang bersentuhan dengan aspal jalanan. Alana baru saja bangkit untuk berdiri namun rasa pening di kepalanya membuat penglihatan Alana menjadi buram dan menghitam dalam seketika.


Nita dan Syila saling pandang, mereka masuk ke dalam mobil dengan cepat dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Membiarkan tubuh Alana yang jatuh di jalanan dengan keadaan tidak sadarkan diri.


Nita memukul setir mobilnya, dia melirik Syila yang duduk di sampingnya. “Wanita lemah yang bodoh! Apa tadi ada yang melihat aksi kita?”


“Sepertinya tidak,” jawab Syila.


Nita menghela nafasnya, setidaknya kejadian ini tidak akan memperburuk keadaan.

__ADS_1


__ADS_2