
Alana duduk di tempat bersantai yang ada di kolam itu, dia memperhatikan air yang tampak tenang.
Dengan lampu yang temaram, Alana diam memikirkan semua kejadian yang menimpanya.
Banyak hal buruk di masa lalu yang menyerangnya bertubi-tubi, bahkan sampai saat ini dia belum menemukan kebahagiaan dirinya, selain melihat Arsya gembira.
Hatinya kosong dan hampa, meskipun ada nama seorang pria yang jelas masih membekas di hatinya.
Jordan, pria yang merenggut kesuciannya serta pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta meskipun sikap pria itu kasar.
Alana malah semakin emosi jika mengingat itu semua, dengan tidak sabar dia beranjak dari duduknya dan berjalan dengan cepat meninggalkan area berenang.
Namun sayang, karena langkah tergesanya sandal yang Alana pakai menginjak genang-an air yang membuatnya kehilangan ke seimbangan dan jatuh ke dalam kolam.
Jordan yang baru saja keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Alana malah mendengar suara air dari kolam berenang miliknya.
Dia mendapati Alana yang berada di dalam kolam dengan wajah kesal, bahkan gadis kecilnya itu memukul air kolam dengan sekuat tenaganya hingga air kolam itu mengenai tubuh Jordan yang berdiri tidak jauh darinya.
“Apa kau butuh bantuan?”
Perhatian Alana fokus saat mendengar suara Jordan. “Tidak," jawab Alana dengan nada ketus.
Jordan berjalan mengambil handuk yang tersimpan di lemari khusus di ruangan itu.
Alana menaiki tangga yang terdapat di kolam itu, dia berjalan dengan santai hendak meninggalkan area tempat berenang.
__ADS_1
Namun sayang langkahnya terhenti saat mendapati sebuah handuk menyelimuti tubuh basahnya.
Alana memperhatikan tangan Jordan memeluk tubuhnya, pandangannya jatuh pada lengan Jordan yang berada di atas perutnya.
Jordan merasa senang karena Alana tidak memberontak saat dia memeluk tubuh gadis kecilnya dari belakang.
Jordan saat merindukan aroma tubuh Alana, yang sangat memabukkan.
“Lepas!”
Mendengar suara getir Alana, dengan berat hati Jordan melaksanakan pelukannya.
Dia menatap punggung Alana yang berjalan menjauh darinya, senyum Jordan mengembang.
Jordan berjalan menuju dapur untuk membuatkan susu hangat untuk Alana.
Tapi Alana ingin menunjukkan pada Jordan bahwa dirinya bukan Alana yang dulu, dia ingin melihat Jordan yang berjuang untuknya dan Arsya.
Alana mandi dengan secepat kilat, lalu bergegas menuju ruang ganti pakaian.
Kini tubuhnya masih terasa sangat dingin, dia tidak pernah menyentuh air dini hari.
Alana melirik ke arah pintu yang terbuka, ternyata Jordan yang masuk dengan membawa segelas susu stroberi.
Jordan memberikan satu gelas susu yang di peganya ke hadapan Alana.
__ADS_1
Alana tidak ingin munafik, jujur dia membutuhkan sesuatu yang akan membuat tubuhnya terasa hangat
Dia menerima satu gelas susu dari Jordan, “Terima kasih.”
Jordan tersenyum dan mengacak puncak kepala Alana, lalu berjalan ke sisi kanan tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.
Meskipun wajahnya biasa saja, tapi hati Alana bahagia mendapat perhatian dari Jordan.
Apalagi pria itu masih ingat susu kesukaannya, Alana meminum susu hangat tersebut hingga tandas lalu membaringkan tubuhnya kembali.
Pagi itu Alana terbangun lebih dulu, dia mengerjapkan matanya.
Alana berjalan untuk membuka gorden, dia menatap halaman lewat jendela tempatnya berdiri.
Jordan yang melihat Alana sedang menikmati keindahan pagi, berjalan dengan perlahan dan memeluk gadis kecilnya dari belakang.
Alana terkejut mendapati Jordan yang memeluknya, dadanya berdegup kencang.
Apalagi kepala Jordan bersandar di pundaknya, Alana bisa merasakan embusan nafas Jordan menggelitik lehernya.
“Aku tidak tahu apa alasan pasti kamu kembali ke sini, yang aku tahu kamu masih menciptakan benteng tinggi dariku,” ucap Jordan dengan lembut. Dia mengecup pipi Alana cukup lama.
Kepala Jordan bersembunyi di ceruk leher Alana, “Aku minta maaf, atas semua kesalahan yang aku perbuat di masa lalu ... Aku tahu kamu tidak akan mudah memaafkan aku.”
“Apa yang kamu berikan padaku di masa lalu sangat menyakitkan,” ujar Alana mengeluarkan isi hatinya.
__ADS_1
“Aku tahu. Maka dari itu beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku mohon.”
Hati Alana bergetar mendengar permintaan Jordan, Alana memejamkan matanya dia mencari kata-kata yang pas untuk menjawab permohonan Jordan.