Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Langkah Pertama


__ADS_3

Averyl berusaha melepaskan diri dari Aditama. “Bapak sungguh tidak tahu malu, ini tempat umum. Berapa kali harus saya katakan kalau saya memiliki suami.”


“Jangan bohong Averyl, buktinya sampai saat ini kamu selalu sendirian menjemput anak-anak.” Aditama tidak peduli dengan tatapan orang-orang.


Tangan kiri Eduard menarik tangan Averyl, sementara tangan kanannya memberi pukulan pada wajah pria yang kurang ajar.


Aditama tersungkur ke belakang, ia menatap nyalang pada Eduard yang tiba-tiba memukulnya.


Rasanya tidak puas hanya memberikan satu kali pukulan Eduard menarik kerah Aditama agar berdiri lalu memberi pukulan lagi pada wajah Aditama di tempat yang sama hingga menimbulkan robekan di sudut bibir Aditama.


Eduard mencengkeram dengan kuat kerah baju Aditama, “Jangan pernah berani sentuh istri saya lagi!”


Aditama tersenyum miring, lalu melepaskan cengkeraman pria yang mengaku suami Averyl. Aditama tidak bisa tinggal diam di rendahkan di depan banyak orang. Banyak pasang mata yang menyaksikan pertikaian barusan.


Averyl sangat terkejut dengan kejadian barusan, hingga tanpa sadar air matanya mengalir. Eduard yang tidak tenang melihat wajah ketakutan Averyl segera menarik Averyl menuju mobil.


Eduard membuka pintu kemudi hendak masuk namun pria yang mengganggu Averyl tiba-tiba memukulnya hingga tersungkur ke aspal.


Aditama duduk di atas tubuh Eduard dan memberikan pukulan yang membabi buta pada wajah Eduard.


Eduard yang tidak siap hanya menghalangi wajah dengan kirinya, sementara tangan kanannya mencari pasir jalanan. Eduard meraupnya dan melemparkannya ke arah wajah Aditama.


Aditama menutup matanya karena matanya terkena pasir.


Eduard membalikkan posisi. Sekarang Aditama yang ada di bawahnya, seluruh amarahnya Eduard keluarkan melalui pukulan pada wajah Aditama.


Averyl membenci orang-orang, tidak ada yang melerai pertengkaran Eduard dan Aditama. Mereka malah asyik seperti mendapatkan tontonan gratis.


“Kalian tunggu di sini ya,” pinta Averyl pada Fiona dan Filio.


Averyl keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Eduard yang masih memukul Aditama. Wajah Aditama mulai memar dan berdarah di beberapa bagian. “Eduard cukup,” ucap Averyl.


“Aku tidak akan pernah mengampunimu, ini belum ada apa-apanya. Tunggu pembalasanku!” ucap Eduard sebelum memberikan pukulan terakhirnya. Ia bangun dan menghampiri Averyl.


Manik Aditama meneliti ke sekitar, ia melihat batu sebesar kepalan tangan. Ia bangkit untuk mengambilnya, lalu berlari ke arah Eduard dan memukul kepala Eduard dengan batu tersebut.


Mendapat serangan dengan benda keras di kepalanya membuat Eduard merasakan sakit yang teramat. Tubuh Eduard yang limbung membuat Averyl khawatir, belum lagi kini ia bisa melihat dengan jelas kepala Eduard mengeluarkan darah yang cukup jelas.


Wajah yang memar dan berlumuran darah tersenyum melihat pembalasannya berhasil melumpuhkan lawannya. Aditama melempar batu tersebut dan masuk ke dalam mobil dengan sedikit rasa puas di hatinya.


Mata Eduard terpejam menahan rasa sakit, tangannya memegang kepalanya. Ia berusaha berdiri, “Aku enggak papa kok, ayo kita pulang.”

__ADS_1


“Enggak papa bagaimana, darahnya mengalir cukup deras.” Averyl menuntun Eduard pada kursi di halte bus.


Eduard duduk mengikuti arahan Averyl, ia tidak tega melihat wajah pucat istrinya. Eduard menarik satu tangan Averyl ke dalam genggamannya. “Aku beneran enggak papa Averyl.”


Averyl tidak menggubris ucapan Eduard, ia menelepon ambulans lalu menelepon Arsya dan memintanya untuk datang. Ia tidak bisa meninggalkan anak-anak begitu saja.


Beruntung Arsya datang tepat pada waktunya saat ambulans datang. Wajah khawatir Averyl terlihat sangat jelas, darah dari kepala Eduard terus mengalir cukup deras.


Para medis membantu Eduard masuk ke dalam ambulans, ia mendapatkan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan.


Eduard sudah berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja, agar Averyl tidak khawatir. Namun pening di kepalanya tidak mampu di tahan lagi, Eduard memejamkan matanya. Ia merasakan genggaman tangan Averyl yang semakin erat.


Tangan kiri Averyl bergerak menghapus air matanya, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Eduard. Perasaan takut hinggap di kepala Averyl saat memperhatikan wajah Eduard yang pucat.


“Apa rumah sakitnya masih jauh?” tanya Averyl pada tenaga medis yang ada di sampingnya.


“Nona tenang saja, lima menit lagi sampai.”


Averyl duduk dengan gelisah, ia merasakan genggam tanggan Eduard melemah. Sepanjang perjalanan Averyl terus merapalkan doa untuk suaminya.


***


Di depan pintu ruang UGD seorang wanita mondar-mandir dengan perasaan yang resah. Bibirnya bergerak merapalkan doa-doa. Sudah setengah jam berlalu tapi belum ada kabar tentang suaminya.


Suara anak kecil tersebut berhasil merenggut seluruh perhatian Averyl. Averyl berlari menghampiri kedua anaknya memeluk mereka dengan sangat erat.


“Ayah di mana Bu?” tanya Fiona.


“Ayah baik-baik saja kan Bu?”


Averyl memandangi Filio dan Fiona bergantian. “Ayah di dalam, Ayah pasti baik-baik saja.”


Arsya, Alana dan Jordan berdiri beberapa meter di belakang anak-anak. “Maaf Averyl mama terpaksa membawa Fiona dan Filio. Mereka terus merajuk.”


Tatapan Averyl beralih pada Alana. “Tidak apa-apa Mam, maaf merepotkan.”


Dokter keluar memberikan kabar baik. Semuanya merasa lega mendengar penjelasan dokter yang menyatakan bahwa lukanya tidak parah namun tetap harus melakukan pemeriksaan lengkap.


Averyl di perbolehkan masuk ke dalam. Kakinya berjalan dengan perlahan menuju tempat Eduard terbaring lemah.


Averyl memperhatikan wajah Eduard yang lebam di beberapa bagian. Hati Averyl teriris melihat perban yang melingkar di kepala Eduard. Ia tidak kuasa meneliti dengan detail. Di peluknya tubuh Eduard dengan sangat erat.

__ADS_1


Samar-samar Eduard mendengar isak tangis Averyl. Ia mengumpulkan tenaganya untuk mengangkat tangan dan membelai belakang rambut Averyl.


Merasakan belaian dari tangan Eduard, berhasil membuat tangis Averyl semakin kencang. Rasa gelisah, takut dan senang membaur menjadi satu dalam hati Averyl.


“Kamu takut kehilanganku, tandanya kamu masih mencintai aku.”


Dengan gerakan cepat Averyl menegakkan tubuhnya. “Jangan terlalu cepat menyimpulkan, aku hanya sedih karena takut anak-anak tidak bisa melihatmu lagi.”


Eduard tersenyum sangat tipis. Lalu membuka kedua tangannya, “Kemarilah, sudah lama sekali aku tidak merasakannya. Aku sangat merindukan pelukan hangatmu, sayang.”


Meskipun ragu Averyl mengikuti keinginan Eduard. Rasanya sangat nyaman seperti dulu, bahkan jantungnya berdetak tidak karuan.


***


Sesampainya ke rumah Rangga berjalan mengekor di belakang Aditama sampai masuk ke kamar.


“Ada apa?” tanya Aditama dengan nada kesalnya.


“Rangga tidak suka melihat Ayah memukul orang lain,” ucap Rangga dengan suara yang sangat pelan karena takut.


“Itu bukan urusanmu.”


“Tapi yang Ayah pukul itu Ayahnya sahabat Rangga, Ayah tidak boleh memukul orang lagi, itu tidak baik.”


Rasa kesal Aditama belum sepenuhnya hilang, kini dengan tidak sopannya Rangga mengajarinya. Aditama melepaskan ikat pinggang berbahan kulit dengan bandul besi.


Rangga menundukkan wajahnya ketakutan.


“Kamu masih kecil tapi sudah banyak bicara dan mengajari Ayah. Sepertinya kamu harus menerima hadiah untuk keberanianmu.”


💕💕💕💕



Friends With Benefits


Terjebak dalam satu hubungan yang menggairahkan, membuat Alishia Agatha tidak bisa melepaskan Mirza dalam hidupnya. Meskipun Alishia tahu Mirza sudah menikah dengan perempuan lain.


Bagaimana dengan hubungan rumit yang mereka jalani, apa Alishia mampu bertahan di tengah terjangan ombak yang mematikan?


Penasaran, Yuk ikuti kisah Mirza dan Alishia.

__ADS_1


Hallo 🥰


Aku punya karya baru nih, udah 18 bab. Jika tertarik langsung meluncur ke profilku. Terima kasih 💕


__ADS_2