
“Cepat katakan di mana keberadaan Averyl?” bentak Eduard. Simon melirik wajah tuannya yang tampak penuh amarah.
[Kau tidak perlu tahu di mana keberadaan Averyl]
Melihat Namira yang bersikukuh pada pendiriannya Eduard tidak bisa tinggal diam. Ia memberikan kode kepada Simon untuk mengirimkan bukti-bukti perselingkuhan Namira dan Gumelar.
“Aku sudah kirim email. Kalau kau tidak memberitahu di mana keberadaan Averyl sekarang. Aku akan menaikkan berita perselingkuhanmu dengan Gumelar detik ini juga. Setelah itu kau akan menikmati hidup jadi gelandangan.”
[Argh, sialan ... Aku sudah kirim lokasi keberadaan Averyl]
“Kalau sampai aku tidak menemukan kebenaran Averyl di sana, siapkan dirimu.” Eduard mengakhiri sambungan teleponnya. Ia mengecek lokasi yang di kirim Namira.
“Simon, kita pergi sekarang juga.” Eduard menunjukkan titik lokasi keberadaan Averyl.
“Baik Tuan.”
Simon sudah melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Tetapi Eduard masih saja mengumpat dan meminta lebih cepat lagi. Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit Eduard sampai juga di titik lokasi.
Dari tindakan Eduard saja Simon sudah bisa menebak bahwa Eduard jatuh cinta pada Averyl. Sebelumnya Simon tidak pernah melihat Eduard sekhawatir ini pada siapa pun. Termasuk pada kekasihnya tiga tahun yang lalu.
__ADS_1
Eduard menendang pintu menggunakan kakinya, hingga menimbulkan suara bising. Beberapa pengawal Namira mendekat, “Minggir atau akanku bantai habis kalian semua.”
Tipe perumahan kecil yang hanya memiliki dua kamar tidur memudahkan Eduard mencari keberadaan Averyl. Belum sempat membuka pintu kamar Eduard mendengar Isak tangis seorang wanita. Rasa cemasnya semakin bertambah ia membuka hendel pintu, namun terkunci. Eduard mendobrak dengan kekuatan penuh hingga pintu terbuka.
Amarah Eduard tidak bisa di kendalikan saat seorang pria berani menyentuh tubuh Averyl. Eduard memberikan pukulan pada pria tersebut hingga terjatuh ke lantai. Ia mengeluarkan senja api dan menodongkannya. Namun sebuah tangan menepuk pundaknya. “Kita pakai cara lain Tuan.”
Eduard membuang nafasnya, dan memasukkan kembali senjata apinya. “Kau urus bajingan ini!”
Eduard menghampiri Averyl yang masih terisak dan air mata yang terus mengalir. Rahang Eduard mengeras melihat kancing kemeja Averyl yang terbuka sempurna. Eduard duduk di hadapan Averyl, lalu membantu Averyl untuk duduk.
Dengan tangan yang gemetar menahan amarah dalam dirinya, Eduard berusaha mengancingkan kemeja Averyl dengan cepat. Eduard menyeka air mata Averyl dengan tangannya. “Kita pulang,” ucap Eduard seraya merapikan rambut Averyl yang menutupi sebagian wajahnya.
***
Averyl membuka kelopak matanya yang terasa berat. Saat sadar ternyata ia bersandar pada bahu Eduard dengan cepat Averyl menarik diri dan duduk tegap. Ia keluar dari mobil, yang langsung di suguhkan pada halaman rumah Eduard. “Aku ingin pulang ke apartemen,” ucap Averyl saat beradu pandang dengan Eduard.
“Di sini lebih aman.” Eduard menggenggam tangan Averyl dan mengajaknya untuk masuk. Sebenarnya Averyl ingin menolak, tapi apa yang di katakan Eduard benar. Di sini lebih aman, rasa takut itu masih memenuhi pikirannya. Kejadian kelam barusan cukup menimbulkan trauma pada Averyl.
Eduard membawa Averyl masuk ke kamarnya. “Bersihkan tubuhmu, lalu istirahat. Aku akan pergi sebentar.” Averyl mengangguk. Eduard mencoba tersenyum dan mengecup kening Averyl sebelum pergi.
__ADS_1
Averyl hanya memandang kepergian Eduard hingga menghilang di balik pintu. Averyl masuk ke kamar mandi, mencoba mengatur nafasnya saat rasa takut mulai menyelimuti hati dan pikirannya.
Averyl mencoba membuka kancing kemejanya. Baru satu kancing terlepas dada Averyl sudah sesak, bayangan perlakuan bejat Abimanyu membuat tubuh Averyl ambruk ke lantai. Ia menangis sesenggukan tanpa di tahan, mencoba mengeluarkan rasa sakit hati serta air matanya yang ia sudah tahan selama di perjalanan. Averyl tidak sekuat yang kalian pikir, ia juga sama wanita yang punya hati dan perasaan.
Sementara tubuh Eduard membeku di balik pintu kamar mandi saat mendengar tangisan Averyl yang terdengar memilukan. Tangannya mengepal menahan amarah. Ia berjalan ke luar menuju halaman rumahnya. Ia masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Mobil yang di kendarai Eduard sampai di kediaman Jordan. Dengan langkah tergesa Eduard masuk. Dengan sedikit berlari ia mencari keberadaan Arsya. Saat menemukan Arsya yang tengah bersantai membuat amarah Eduard tidak dapat di kendalikan. Ia memukul waja Arsya, hingga sudut bibirnya berdarah.
Arsya tidak terima dengan pukulan Eduard, ia membalas pukulan Eduard. Namun Eduard berhasil menghindar, lalu mencengkeram baju Arysa dan bersiap memberikan pukulan kedua.
“Cukup hentikan.” Suara Jordan berhasil menghentikan tangan Eduard yang akan mendarat di wajah Arsya.
Arsya menepis tangan Eduard yang mencengkeram bajunya. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Jordan. “Eduard memukulku tanpa sebab.”
“Kau bisa bersantai di sini sementara wanita yang katanya kau cintai hampir di perkosa,” sindir Eduard.
***
*Kalau aku jadi Averyl kecewa sih sama Arsya yang tahu Averyl menghilang, tapi masih bisa bersantai dan tidak peduli sedikitpun.
__ADS_1
Mau ngumpulin orang yang kesel sama Arsya acungkan kelingkingnya.
Sekian dulu bab hari ini, sampai jumpa besok. jangan lupa dukungannya, terima kasih 💕*