Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Rasa Peduli


__ADS_3

Simon masih melihat amarah Eduard. “Maaf Tuan, perlakuan Tuan kali ini sangat keterlaluan.”


“Tidak ada kata keterlaluan untuk penghianat,” tegas Eduard dengan lirikan tajamnya.


“Ini jebakan Tuan. Namira sempat membawa Averyl pergi, dengan cara seperti ini Tuan akan melepaskan Averyl,” tutur Simon. Berusaha berpikir jernih.


“Jebakan apa? Mereka sekongkol. Sengaja Averyl meminta dinner agar aku bisa lengah. Foto itu saja sudah jadi bukti, kalau mereka tidak sekongkol kenapa bertemu di tempat yang tidak ada CCTV? Itu tandanya mereka tidak ingin pembicaraan mereka di ketahui orang lain.” Eduard membuka berkas kasus pembunuhan ibunya.


Simon teringat pelipis Averyl yang berdarah. “Tuan bolehkah saya memberi perintah pada dokter untuk memeriksakan kondisi Averyl?”


“Tidak perlu!” Rasa benci itu mulai menguasai diri Eduard. Perbuatan Namira sangat biadab. Semua orang yang ada di rumah itu habis di bantai. Eduard memejamkan matanya saat rasa sesak itu muncul di hatinya. Ia masih teringat jasad sang ibu yang di potong menjadi tiga bagian. Bahkan seluruh pegawainya habis menjadi potongan kecil, seperti daging yang di cincang kasar.


Simon yang masih ada di hadapan Eduard tidak pernah melihat Tuannya sehancur ini. Ia mengerti mengapa Eduard sebenci ini, selama sepuluh tahun Eduard menemukan ibunya dalam keadaan depresi berat. Harapan mendapat kasih sayang dari ibu kandungnya tidak Eduard dapatkan. Harapan ibunya sembuh selalu menjadi prioritas utama Eduard, tapi kini nyawa sang ibu pergi karena ulah Namira. Namira adalah salah satu musuhnya selalu gegabah dan sembrono dalam mengambil keputusan.


***


Averyl memandangi pantulan wajahnya dari cermin. Luka di pelipisnya sudah mulai mengering, bahkan memarnya sudah hilang sempurna. Tapi sampai saat ini pun Eduard tidak ada berkunjung ke kamar mereka. Yang Averyl tahu Eduard tidur di kamar yang bersampingan dengan ruang kerja.


Averyl keluar dari kamar. Ia berjalan menuju ruang kerja Eduard. Sebelum masuk Averyl melihat ke sekitar untuk memastikan tidak ada yang melihatnya. Meskipun ada CCTV tetapi kemungkinan Eduard mengecek rekamannya sangat kecil jika Averyl bermain dengan sangat rapi.


Setelah di rasa aman Averyl masuk ke ruang kerja Eduard. Beruntung pintunya tidak di kunci.


Averyl masuk dan menutup pintunya dengan perlahan. Averyl meneliti ruang kerja Eduard yang cukup rapi. Ia berjalan mendekati meja kerja Eduard. Dengan gerakan hati-hati Averyl membuka laci kerja Eduard agar tidak menimbulkan suara.


Averyl mengambil tumpukan berkas tersebut dan memeriksanya satu persatu. Isinya hanya tentang pekerjaan. Tetapi ada satu map berwarna lavender yang menyelip di antara berkas tersebut yang di dominasi dengan warna putih.

__ADS_1


Averyl membuka isi map tersebut. Ternyata isinya informasi mengenai dirinya sendiri. Halaman demi halaman Averyl baca. Ia cukup tercengang dengan pernyataan bahwa ia adalah anak dari seorang wanita bernama Namira.


Belum sempat membaca keseluruhannya suara langkah membuat Averyl kalang kabut. Ia segera mengembalikan berkas tersebut ke tempat asalnya. Lalu bersembunyi di bawah meja kerja.


Averyl menggigit kecil bibirnya saat pintu ruangan terbuka. Ia merapatkan tubuhnya agar tidak terlihat. Namun tiba-tiba ponselnya yang ada di saku berdering.


“Keluar Siala*n!”


Averyl merogoh ponselnya dan mematikan panggilan tersebut.


“Keluar!” Averyl terkejut saat mendengar bentakan Eduard hingga kepalanya terkantuk pada meja kerja.


Eduard yang melihat seseorang bersembunyi di meja kerjanya segera menariknya hingga keluar.


“Apa yang kau cari?”


Averyl menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku hanya melihat-lihat.”


Eduard mencek*ik leher Averyl. “Berani sekali kau masuk ke ruanganku tanpa ijin!”


Averyl memegang tangan Eduard dan berusaha menyingkirkannya. “Ed lepaskan, kamu salah faham.”


Averyl kesulitan bernapas karena cekikik*an Eduard yang cukup kencang. “Ed a-aku mohon le-lepaskan.”


Averyl sudah tidak kuat lagi, ia tidak bisa bernafas. Tuhan tolong selamatkan aku dan bayiku.

__ADS_1


Eduard melepaskan tangannya dari leher Averyl. Meskipun Averyl bersalah Eduard tidak ingin mengotori tangannya.


Tubuh Averyl lemas, ia duduk di kursi kerja Eduard. Mencoba menormalkan nafasnya agar teratur kembali. Tenggorokan Averyl terasa sangat sakit.


Averyl merasa tidak kan Eduard sangat tidak biasa, apalagi aura yang Eduard pancarkan seperti sebuah kebencian. Sepertinya ada sesuatu yang ia tidak ketahui hingga menyebabkan Eduard berbuat seperti ini. Bahkan tidak ada rasa peduli dalam diri Eduard, dan ia bisa setenang itu pergi meninggalkan Averyl setelah ia cekik.


“Averyl kamu kuat, ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan kekejaman Gumelar. Kamu harus bisa mengungkapkan semuanya,” gumam Averyl pada dirinya sendiri.


***


Sore itu Averyl kembali ke rumah. Ia telah selesai melakukan visum, hasilnya akan keluar dua hari lagi. Averyl melakukan ini untuk berjaga-jaga. Dan bisa di jadikan bukti kuat di pengadilan. Averyl berencana untuk berpisah dari Eduard di kemudian hari jika Eduard masih bersikap kasar.


“Averyl,” sapa Alana.


“Mami,” Averyl berusaha menghilangkan rasa terkejutnya dan menghampiri Alana untuk memeluk mertuanya.


“Kamu baik-baik saja sayang?” tanya Alana. Ia melihat luka di pelipis Averyl. “Ini kenapa?”


***


***Kalau kalian jadi Averyl, mau pilih jujur atau berbohong? tulis di kolom komentar ya 🙏


Jangan lupa dukung aku dengan like, komentar, vote dan hadiahnya. Terima kasih 🙏


Sampai jumpa esok, love u 💕***

__ADS_1


__ADS_2