Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Umpan Untuk Papi


__ADS_3

Wajah gembira Arsya membuat Jordan dan Alana tersenyum, mereka bisa bersama memberikan kasih sayang yang sebelumnya tidak di dapatkan oleh Arsya.


Setelah melakukan pembayaran Jordan mulai melajukan mobilnya. Gerombolan Gajah sedang memakan rumput di sekitarnya, Jordan sengaja melajukan mobilnya perlahan agar Arsya bisa melihatnya lebih lama. 


Arsya membuka kaca mobil menunjuk salah satu gajah kecil yang tampak bersembunyi di kaki gajah yang besar. “Mami, itu anaknya gajah Mi?” tanya Arsya.


“Iya itu anaknya gajah, dan yang besar itu induknya,” jawab Alana sambil memperhatikan gerombolan gajah. 


Arsya menoleh pada Jordan, “Papi Arsya  mau gajah, boleh ya Arsya bawa pulang?” pinta Arsya dengan nada memohon.


Jordan tersenyum melihat Arsya yang memohon ingin membawa pulang gajah. “Gajahnya tidak bisa di bawa pulang sayang. Tapi nanti di pulau pribadi Papi, kita pelihara gajah, ya.”


Arsya mengangguk antusias, “Habis dari sini kita ke pulau pribadi Papi ya, Arsya mau rawat gajahnya.”

__ADS_1


Alana hanya mendengarkan obrolan Arsya dan Jordan tanpa ikut menimpali. Dia tahu apa yang di lakukan Jordan semata-mata untuk membahagiakan Arsya, menurutnya ide membeli gajah tidak masalah baginya. Setidaknya membeli satu ekor gajah tidak akan membuat tabungan Jordan tandas seketika.


Selama mobil yang di kendarai Jordan melaju menyusuri jalanan, tidak ada henti-hentinya Arsya berceloteh, bertanya nama berbagai hewan yang belum pernah Arsya lihat. Arsya juga bertanya tentang makanan dari hewan-hewan yang mereka lihat. Dengan sabar Alana menjawab semua pertanyaan Arsya, sementara Jordan hanya sesekali menimpali dan fokus pada jalanan di depannya.


Matahari sudah berada tepat di atas mereka, Arsya mulai menguap. Bahkan kunjungan mereka pun baru setengah jalan. “Kita cari penginapan saja, kasihan Arsya takut badannya pegal,” ucap Alana sambil membenahi Arsya yang tertidur di dalam pangkuannya.


Jordan memutuskan untuk keluar dari kebun binatang, mobilnya melaju pada sebuah hotel yang tidak jauh dari sana. Setelah memarkirkan mobilnya di basemen Jordan dan Alana berjalan menuju lift dan langsung melakukan check-in. Jordan sengaja memesan tiga kamar, karena Alana tidak mau tidur bersamanya. 


Jordan yang tidak ingin berdebat memilih mengikuti keinginan Alana, dan satu kamar lagi dia pesan untuk Nik. Karena Jordan tidak sanggup menyetir untuk perjalanan pulang.


Jordan duduk si sofa yang tersedia di kamar Alana, memperhatikan Alana yang mengambil sesuatu di dalam tasnya.


Dahi Jordan mengerut melihat Alana memberikan satu botol minuman padanya. Tidak berpikir panjang Jordan menerima dan meneguk setengah minuman yang di berikan Alana.

__ADS_1


“Terima kasih.”


Senyum mengembang Alana muncul, rencana dia berhasil. “Sama-sama.”


Jordan merasakan tubuhnya mulai panas dingin, dia menatap Alana dengan penuh selidik.


Melihat Alana yang tampak tenang membuat Jordan kalang kabut, karena gelenyar panas itu semakin mempengaruhi tubuhnya.


Jordan berpikir bahwa Alana sengaja memasukkan obat perangs*ang ke dalam minuman. “Sepertinya kau ingin mengujiku, sayang.”


Jordan berdiri dari tempatnya lalu menatap Alana, “Aku istirahat di kamarku, jika membutuhkan sesuatu hubungi aku.”


Melihat Alana yang menganggukkan kepalanya, Jordan berjalan keluar. Dia terkejut mendapatkan seorang wanita yang tampak seksi dan menghambur ke pelukannya.

__ADS_1


Tanpa kata Jordan membawa wanita itu masuk ke dalam kamarnya, gairah itu memang menguasai dirinya. Namun jangan salah selama ini dia selalu menahan mati-matian untuk tidak menyentuh wanita dan saat ini pun hal mudah baginya untuk menekan gairah dari obat perangs*ang.


Jordan mendorong wanita itu ke atas tempat tidur, dia menatap tajam wanita seksi yang sengaja menggodanya dengan meraba dada bidangnya.


__ADS_2