
Alana berjalan mengikuti Arvan yang masuk ke dalam lift, tepat di lantai empat pintu lift terbuka. Alana berjalan mengekor di belakang Arvan, langkah Alana ikut berhenti saat Arvan menghentikan langkahnya.
Pandangannya tertuju pada nomor apartemen Arvan, “12 A,” Alana mencoba mengingat-ingat nomor apartemen milik Arvan.
Hal pertama yang menyambutnya adalah ruang tamu dengan gaya minimalis. “Duduklah dulu.” Alana menganggukkan kepalanya dan duduk di ruang tamu itu.
Alana mengedarkan pandangannya, sepertinya apartemen ini tidak terlalu besar. Jika di bandingkan rumah Jordan mungkin hanya setengah dari lantai pertama di rumah Jordan.
Tidak membutuhkan waktu lama Arvan kembali ke ruang tamu, dia melihat Alana yang tengah memperhatikan isi ruang tamu di apartemen miliknya. Dia duduk di single kursi yang berhadapan langsung dengan Alana.
Alana terkejut mendapati Arvan yang tiba-tiba duduk di depannya, “Kau mengagetkanku,” ucap Alana.
Arvan memberikan senyum tipis sebagai jawaban. “Sekarang kau mau pergi ke mana?”
Alana diam, memikirkan ke mana tempat yang ingin dia kunjungi. Ada rasa ingin pergi ke makan orang tuanya, tapi Alana tidak ingin menangis lagi.
Dia tidak ingin terlihat cengeng di hadapan Arvan yang notabenenya belum Alana kenal betul siapa pria yang ada di depannya itu.
__ADS_1
Perhatian Arvan fokus pada wanita di depannya yang sedang berpikir namun tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. “Apa kau ingin makan?” Arvan kembali bertanya.
“Sedikit,” jawab Alana sambil tersenyum canggung.
“Kau bisa masak?” Pertanyaannya di jawab oleh gelengan kepala Alana, Arvan hanya menanggapinya dengan tersenyum.
“Kalau begitu biar aku delivery saja,” ucap Arvan sambil mengeluarkan ponsel miliknya.
Alana memperhatikan Arvan yang fokus pada ponselnya, ponsel pria itu berbeda dari ponsel biasanya. Dan Alana masih ingat betul Arvan yang memiliki pistol, “Astaga, sebenarnya dia siapa?” tanya Alana di dalam benaknya.
Alana masih ingat saat Jordan memanggil Arvan dengan sebutan ‘Lord’. Alana menunggu Arvan yang masih fokus pada ponselnya, hingga tatapan mereka bertemu.
Arvan menatap bola coklat Alana dengan lekat, “Kau betul-betul tidak tahu siapa aku?”
Alana menggelengkan kepalanya, “Memangnya kau siapa?”
“Menurutmu aku ini siapa?” bukannya menjawab Arvan malah balik bertanya, dia ingin tahu jawaban apa yang akan keluar dari wanita di hadapannya.
__ADS_1
Alana diam memikirkan jawaban untuk pertanyaan Arvan, jika Jordan memanggil Arvan Lord dan Jordan terlihat ketakutan itu artinya pria ini ada di atas Jordan. “Apa kau seorang mafia?”
Arvan terkekeh mendengar ucapan Alana, namun Arvan membiarkan Alana kembali berpikir.
Satu hal yang Alana tahu pria di depannya ini tidak terlihat arogan seperti mafia, atau seperti Jordan yang tidak pernah menampakkan senyum. “Aku menyerah sebenarnya kau siapa, kenapa Jordan takut padamu?”
Lagi-lagi Arvan malah tersenyum manis, manis sekali. “Lama-lama aku bisa kena diabetes kalau liat dia tersenyum terus,” gerutu Alana di dalam hatinya.
“Aku tidak ingin di kira sombong, kamu akan tahu sendiri siapa aku sebenarnya.” Arvan tidak ingin mengaku pada Alana bahwa dia pria paling terkaya di dunia. Dirinya hanya ingin Alana merasa nyaman dan tidak canggung jika bersikap padanya.
“Lalu kau kenapa kau mau menolongku?”
Arvan terlihat diam dan menundukkan kepalanya, namun tidak lama Alana melihat Arvan menatap ke arahnya. Dari raut wajahnya Alana melihat sebuah kesedihan yang tergambar jelas dari matanya, tapi Arvan seperti sedang menutupinya.
Arvan masih ingat betul kejadian lima tahun yang lalu saat dia menyaksikan tubuh kekasihnya terbujur kaku. “Kau hampir mirip dengan orang yang aku sayangi. Saat itu aku tidak bisa menolongnya, hingga dia benar-benar pergi untuk selama-lamanya. Aku pikir dengan menolongmu bisa mengobati hatiku yang terus merasa bersalah.”
“Siapa?” Tanya Alana penasaran. Dia hanya ingin tahu siapa orang yang mirip dengannya.
__ADS_1
“Mira, mantan kekasihku.”