
Jam kerjanya sudah berakhir. Mulai besok ia tidak bekerja lagi di MA Grup, surat pemecatan sudah ada di dalam tasnya. Averyl mengedarkan pandangannya, meneliti setiap penjuru ruangan miliknya. Mungkin esok ia akan kembali, bukan untuk bekerja, tapi membereskan semua barang miliknya.
Helaan nafas keluar dari mulutnya. Harapan serta doa ia panjatkan. Ia sudah bosan mengumpat, hidupnya sudah terlalu buruk untuk ia perbaiki. Pandangannya tertuju pada perutnya yang masih rata, ia membelainya dengan perlahan.
“Aku harus mendapatkan perkerjaan lain untuk menggugurkan mu, kamu akan lebih bahagia jika tidak lahir ke dunia yang menyakitkan ini.” Sebuah senyum masam tercetak jelas di wajah Averyl.
Langkahnya terlihat berat meninggalkan ruang kerjanya. Ia hanya butuh pulang dan istirahat. Kejadian hari ini terlalu melelahkan.
...💕💕💕...
Averyl terbangun dini hari, ia meraih ponsel miliknya. Beberapa pesan dari Syila ia buka.
SYILA
[Vreyl, kamu beneran di pecat?]
[Gue ke apartemenmu ya? Boleh?]
[Jangan mabuk lagi 😭]
[Nanti aku bantu cariin kerjaan buat kamu yah, jadi gak perlu khawatir. Oke 😘]
Averyl menggelengkan kepalanya kala membaca pesan terakhir dari Syila dengan emoticon cium. Ia masih waras meskipun tidak pernah berkencan dengan pria, bukan berarti ia suka sesama.
Tanpa berniat membalas Averyl memilih menyimpan ponselnya. Ia berjalan menuju meja kerja yang ada di sudut kamarnya. Laptop yang semula mati kini menyala setelah Averyl menekan tombol power.
Averyl masuk ke situs lowongan kerja, ia mencoba melamar pekerjaan di beberapa perusahaan.
Waktu terus bergulir hingga Mentari mulai naik memberi kehangatan untuk penduduk bumi. Averyl memilih bersiap untuk pergi ke kantor mengambil barang-barang miliknya.
Averyl telah sampai ruangannya, ia mulai membereskan satu persatu barang milikinya. Dering ponselnya berbunyi. Averyl merogoh kemejanya.
Dahinya berkerut, seseorang tanpa nama menelepon. Tanpa menunggu lama ia menekan tombol hijau, siapa tahu dari perusahaan yang menerima lamaran kerjanya.
“Hallo. selamat pagi,” sapa Averyl dengan ramah.
[Selamat pagi Nona Havelaar]
__ADS_1
Averyl mengembuskan nafasnya kasar. Ia tahu betul siapa pemilik suara pria di sebrang sana yang meneleponnya.
“Mengganggu!” ketus Averyl.
[Aku bisa saja membuatmu kembali bekerja di perusahaan Arsya, asal kau mau menikah denganku.]
Averyl memilih bungkam, malas berbicara dengan pria tidak jelas.
[Mudah bagiku mengembalikan seseorang yang sudah di pecat, mendapatkan kembali posisinya.]
“Buang-buang waktu berbicara denganmu, tidak penting!” geram Averyl. Ia memutus sambungan tersebut secara sepihak. Malas kalau harus mendengar ocehan pria sombong. Tanpa bantuannya, Averyl yakin bahwa ia akan mendapatkan perkerjaan kembali.
Eduard sepertinya sudah tidak waras menurut Averyl. Bagaimana bisa pria itu menawarkan kembali pekerjaannya dengan menikah dengan pria yang tidak jelas asal usulnya. Berkencan dengan pria saja sebuah kesalahan bagi Averyl, apalagi menikah. Yang ada dirinya akan semakin menderita.
Telepon Averyl kembali berdering. Meskipun kegiatannya terganggu Averyl masih berharap bahwa panggilan tersebut dari perusahaan yang akan memberikannya pekerjaan. Tapi rasa kesal itu semakin membuncah melihat napa ‘Papa’ tertera di layar ponselnya.
Helaan nafas keluar dari mulut Averyl sebelum menekan tombol hijau lalu menempelkannya ke telinga.
[Dasar anak durhaka, mana uang yang aku minta?] Suara di seberang sana terdengar tegas dan penuh penekanan.
[Aku tidak mau tahu, sampai lusa uangnya tidak kau siapkan. Kau harus menikah dengan rekan bisnisku!]
Panggilan tersebut sengaja Averyl akhiri, ia malas berurusan dengan ayah kandungnya. Semua masalah yang mampir ke dalam kehidupannya bagaikan beban yang nyata.
Janin yang ada di rahimnya belum berhasil Averyl aborsi. Kehilangan pekerjaan yang menjadi penopang hidupnya. Belum lagi gangguan laki-laki gila bernama Eduard yang berhasil menghancurkan kehidupannya.
“Aaaargh!” Averyl menjambak rambutnya kasar. Ia memukuli bagian perutnya dengan kepalan tangannya sendiri.
“Seharusnya kau tidak perlu hadir, karenamu hidupku semakin berantakan.” Saat perutnya terasa sakit Averyl mengentikan pukulan pada perutnya. Tubuhnya lemas, dan rasa sakit itu semakin mendera. Air mata Averyl menetes seketika beriringan dengan perutnya yang terasa amat sakit, satu tangannya membelai perut Averyl yang masih rata. Wajahnya meringis menahan sakit.
Dari kewanitaannya Averyl merasakan sesuatu mengalir keluar. Reflek maniknya melihat ke arah paha yang mengalir sebuah darah berwarna merah dan kental. Averyl hanya mampu menggigit kecil bibir bawahnya, rasa sakit di perutnya sama sekali tidak mereda. Tubuhnya lemas, pandangannya mulai mengabur. Tubuh Averyl ambruk ke lantai tidak sadarkan diri.
Suara ketukan di ruangan kerja Averyl terus terdengar. Bahkan ketukan itu kini terdengar menjadi sebuah panggilan. “Averyl!”
“Vreyl buka! Sini biar aku bantu.” Sudah hampir sepuluh menit Syila berdiri tapi ia tidak mendengar suara pergerakan dari dalam. Rasa cemasnya semakin menjadi-jadi. Ia pergi ke ruangan Arsya yang berada di sampingnya.
Beruntung tidak ada rapat dan Syila di ijinkan masuk. “Tuan,” panggil Syila seraya menunduk hormat.
__ADS_1
“Ada keperluan apa?”
“Tuan saya ingin melihat cctv ruangan Averyl, tadi pagi saya melihatnya datang ke kantor tapi ruangannya di kunci. Dan Averyl tidak membuka pintu serta menjawab panggilan saya.”
Arsya tahu betul raut wajah khawatir milik Syila yang selalu ia lihat saat masih kecil mereka bermain bersama. Ia mulai mengecek cctv ruangan Averyl.
Arsya terkejut melihat Averyl tergeletak di ruangannya dengan tubuh bersimbah darah. Syila yang melihat wajah terkejut Arsya berlari ke belakang pria itu untuk melihat layar monitor.
Air mata Syila menetes dengan deras, ia menarik lengan Arsya untuk bangkit agar mengikutinya. “Tuan cepat selamatkan sahabat saya.”
***
Rahang Eduard mengeras. Giginya bergemeletuk mendengar penjelasan dokter yang menyatakan bahwa Averyl keguguran.
Ia keluar dari ruangan dokter tanpa permisi. Langkah lebarnya berjalan menuju ruang rawat Averyl. Sementara Simon mengekor di belakang tuannya.
“Keluar!” Suara tegas dan tatapan tajamnya ia tunjukkan untuk wanita yang tengah duduk menyuapi Averyl dengan semangkuk bubur di tangannya.
Mendapat perintah yang menakutkan Syila menyimpan mangkuk dan berjalan meninggalkan ruangan Averyl. Sebelum menutup pintu Syila memandang Averyl sejenak untuk meminta izin dan Averyl mengangguk kecil.
Setelah terdengar pintu yang terututup tanpa belas kasihan Eduard mencengkeram rahang Averyl dengan sangat kuat. Sementara Averyl meringis kesakitan.
“Apa yang kau lakukan? Kau menyakitiku lepaskan!” ucap Averyl sambil menahan lengan Eduard berusaha melepas cengkeraman pada rahangnya.
“Kau telah melenyapkan bayiku, bodoh!”
Pancaran kemarahan dari Eduard membuat Averyl menarik lengannya. Dadanya terasa sakit, seperti ada sesuatu yang hilang darinya saat mendengar ucapan Eduard.
“Janin itu telah pergi?” tanya Averyl dengan suara lirih.
Tangan Eduard berpindah ke leher Averyl. “Kau wanita bodoh dan tidak tahu diri!”
Averyl hanya diam membisu saat dirinya mulai kesusahan bernafas. Jika ini takdirnya mati, dia tidak takut jika harus mati.
“Tuan kau bisa membunuhnya,” Simon berusaha mengingatkan Eduard.
Eduard menarik tangannya. Ia memperhatikan Averyl yang terbatuk-batuk karena ulahnya. “Kau akan mendapatkan hukuman dariku, karena berani melenyapkan anakku!”
__ADS_1