
Awalnya Alana ragu, dia melihat sorot mata Arvan yang tenang. Dia merebahkan tubuhnya di lantai.
Jantung Alana berdetak kencang saat melihat Arvan berjongkok di kakinya. Rasa takut menyelimuti hatinya, dia takut Arvan berbuat macam-macam padanya.
“Ini teknik yang cukup berguna jika ada pria yang akan memperkosamu. Tekuk lututmu,” ucap Arvan dengan wajah seriusnya.
Alana mengikuti perintah Arvan setelah mendengar penjelasan bahwa ini teknik bela diri. Tapi jantungnya masih berdetak kencang tidak mereda sama sekali apalagi saat Arvan berada di depannya.
Arvan menarik kaki Alana hingga mengenai lehernya, “Pria yang akan memperkosa wanita akan berada di atas tubuh wanita. Jika masih dalam posisiku kamu bisa menendang lehernya. Jika dia berada tepat di atas tubuhmu tendang kepemilikannya atau perutnya. Tapi pastikan seranganmu cukup ampun hingga pria itu terjengkang ke belakang. Coba tendang leherku secara perlahan.”
Alana melakukan perintah Arvan dengan perlahan. Hingga kakinya mengenai leher Arvan.
“Lakukan dengan cepat sebelum pria itu menahan kakimu. Keluarkan tenagamu untuk menendang leherku,” ucap Arvan sambil menyimpan kembali kaki Alana ke tempat semula.
Alana mengeluarkan tenaga, namun ternyata Arvan bisa menangkap kakinya sebelum mengenai lehernya.
“Kamu kurang cepat Alana.” Arvan bangkit dari jongkoknya dan berdiri.
Alana mengikuti Arvan yang berdiri lebih dulu dan menunggu Arvan mengeluarkan suaranya.
“Aku rasa cukup untuk latihan kali ini, sebetulnya gerakannya masih banyak tapi aku butuh istirahat.”
__ADS_1
Alana menganggukkan kepalanya, “Terima kasih.”
Arvan berjalan meninggalkan Alana. Sementara Alana mengekor di belakang Arvan hingga pria itu membuka pintu dan membalikkan tubuhnya menatap Alana.
“Kau bisa istirahat di kamar depan,” ucap Arvan sambil menunjuk pintu di depan kamarnya.
Alana mengangguk dan berjalan menuju kamar yang di tunjuk Arvan dan masuk ke dalam.
Arvan tersenyum melihat Alana yang mengikuti ucapannya. Dia berjalan masuk ke kamar miliknya, lalu menuju kamar mandi.
“Pantas saja pria itu memperkosa Alana, dengan melihatnya saja sudah membuat milikku tegang seketika,” gumam Arvan sebelum menutup pintu kamar mandi.
Dia butuh mandi air dingin untuk meredakan panas di tubuhnya.
Jordan duduk di ruang rawatnya, pandangannya kosong.
Nik hanya bisa menghela nafasnya melihat tuan mudanya yang terlihat murung.
Perhatian Nik tertuju pada lengan Jordan yang memakai arm sling untuk menyangga tangannya yang patah.
“Nik,” panggil Jordan dengan nada lirih.
__ADS_1
Nik menatap mata tuannya, menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut tuannya.
“Kau harus membujuk Alana untuk kembali padaku, aku mencintainya.” Tanpa rasa malu dan ragu Jordan mengungkapkan perasaan.
Tangannya memang sakit tapi hatinya lebih terasa sakit. Dia ingin melihat Alana berada di sampingnya, memberikan perhatian penuh untuk dirinya.
“Baik tuan,” jawab Nik.
Jordan menghela nafas, dia jadi teringat kejadian saat dirinya bangun mendapati handuk basah yang menempel di keningnya.
Jika Alana ada di sini pasti istrinya itu akan merawat dirinya dengan baik seperti malam itu.
Nik kembali memperhatikan tuannya yang tampak kembali melamun. “Tuan jam makan siang hampir habis, tuan belum makan dan minum obat.”
“Nanti saja Nik,” jawab Jordan.
Di dalam hati Nik mengerang frustasi, sudah dua hari Jordan tidak mau makan.
Bahkan obat yang di berikan dokter pun menumpuk di atas nakas.
Masih utuh, dan bertambah banyak karena Jordan tidak meminumnya sama sekali.
__ADS_1
“Tuan saya pamit untuk menemui nona Alana.”
Jordan hanya menanggapi ucapan Nik dengan anggukan kecil.