Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Salah faham


__ADS_3

Proses pemaknaan telah selesai. Eduard masih diam memandangi makam sang ibu. Eduard melirik ke arah Simon saat ponselnya berbunyi.


“Saya izin untuk menerima telepon.” Anggukan kecil dari Eduard memberi tanda bahwa Simon mendapat izin.


Simon bergerak sedikit menjauh dan segera menerima telepon dari Arsya.


[Simon]


“Ya Tuan Arsya, apa ada sesuatu hal yang penting?”


[Averyl mengajukan pengunduran diri. Tapi saya belum dapat kabar apa pun dari kalian. Jadi bagaimana?]


“Nanti saya akan telepon kembali.” Simon segera menutup teleponnya. Ia tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Apalagi kematian mengenaskan yang terjadi pada ibu Eduard tidak boleh bocor sampai ke publik, termasuk keluarga Jordan.


Simon mendekat ke arah Eduard. Dari tatapan Eduard Simon bisa menyimpulkan bahwa Eduard ingin tahu. “Nona Averyl me-“


Dengan cepat Eduard menyela ucapan Simon. “Berhenti! aku tidak ingin mendengar apa pun tentang dia.”


“Tuan tapi Nona Averyl tidak sepenuhnya bersalah.” Simon merasa harus membela Averyl. Apalagi perlakuan Eduard terhadap Averyl sangat tidak pantas. Bagaimanapun juga Simon tidak ingin Eduard menyesal di kemudian hari.


Eduard berjalan keluar dari area pemakaman menuju mobil, di ikuti Simon yang berjalan di belakangnya.


“Bagaimana perkembangan kasusnya?”


“Aku belum mendapatkan laporan baru. Tapi ada informasi yang baru aku dapatkan.”


“Katakan,” titah Eduard ia berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun ke arah lain. Sementara di balik pohon yang rindang Namira tersenyum.


“Setelah perusahaannya gulung tidak. Namira dan Pram telah resmi berpisah. Namira membawa serta putra tunggal mereka. Saya tidak tahu apa yang di lakukan Namira, yang jelas Intelijen kita tidak bisa menemukan keberadaan Namira.”


***


Arsya menatap Averyl lekat-lekat. “Sebenarnya ada apa Averyl? Simon dan Eduard tidak tahu kalau kamu akan resign.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa Tuan, ini memang keputusan sepihak saya,” jawab Averyl berusaha meyakinkan Arsya.


“Saya perlu bicara terlebih dahulu dengan Eduard.”


“Awalnya ini kejutan untuk Eduard. Karena aku akan memiliki lebih banyak waktu luang, untuk bersama Eduard. Tapi Tuan sudah memberitahunya.” Averyl bohong mengatakan itu. Lebih tepatnya ia sudah melakukan pemeriksaan tentang kehamilannya. Dokter menyarankan untuk lebih banyak istirahat.


“Nanti akan aku pertimbangan kembali. Kalau tubuhmu masih lemas pulang saja.”


“Baiklah Tuan, saya permisi.” Averyl memilih pulang saja. Ternyata ucapan dokter benar. Padahal ia hanya membuat sarapan saja, berakhir pingsan di kantor. Ia merasa masih memiliki keberuntungan karena Arsya tidak tahu tentang kehamilannya.


***


Averyl sampai di apartemennya, ia tidak ingin pulang ke rumah Eduard. Ingin mencari ketenangan, sambil memikirkan langkah yang harus di mulainya.


Averyl bukan perempuan yang mahir akan masalah cinta. Tapi kini ada malaikat kecil di perutnya. Kalau tidak ada mungkin Averyl merasa bebas memilih jalan hidupnya, termasuk pergi dari Eduard.


Averyl membelai perutnya yang masih rata. “Kamu tenang saja ya, Ibu akan berusaha lebih keras lagi agar Papa tidak marah pada Ibu.”


Tubuh Averyl terasa lelah, ia memilih untuk beristirahat sejenak sebelum kembali pulang.


“Ah kenapa aku tidur lama sekali,” keluh Averyl. Ia mencari ponselnya, ternyata ponselnya tergulung selimut.


Ponsel Averyl sepertinya habis baterai karena tidak mau menyala. Akhirnya Averyl mencharge ponselnya dan pergi bersiap untuk mandi.


Setelah selesai mandi ia mengecek ponselnya. Ada tiga panggilan dari Simon. Seulas senyuman terbit dari bibir Averyl, ia merasa senang karena Eduard masih mengkhawatirkannya.


Averyl segera pergi dari apartemen. Ia tidak ingin terlambat dan tidak bisa bertemu Eduard. Averyl sudah menyiapkan amplop berisi hasil pemeriksaan janinnya. Berharap Eduard akan kembali seperti sebelumnya yang penuh cinta, kelembutan dan kasih sayang.


Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Averyl sampai. Ia turun dari mobil dengan senyum mengembang berjalan masuk. Namun langkah terhenti saat melihat Eduard berdiri satu meter di depannya dengan tatapan tajamnya.


Senyum gembira dari wajah Averyl berubah menjadi rasa takut, saat kilatan manik Eduard menampilkan amarah.


“Dari mana saja kau tidak pulang semalaman?”

__ADS_1


Pertanyaan Eduard terdengar pelan namun tegas. Averyl menelan salivanya karena gugup. Berusaha tersenyum tipis untuk menutupi rasa gugupnya. “Aku ke apartemen, ketiduran di sana. Maaf aku tidak memberi kabar padamu.”


“Katakan yang sebenarnya!”


Averyl tidak menyangka Eduard akan membentaknya. “Aku ketiduran di apartemen.”


“Bohong!”


Averyl menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bohong.”


Kelebatan foto yang Simon dapatkan teringat jelas di kepala Eduard. Eduard menarik rambut Averyl, hingga wajahnya menengadah ke atas sambil meringis. “Kau sudah berani berbohong padaku?”


“Aaw, Ed sakit lepaskan,” pinta Averyl dengan nada memohon. Bukannya di lepaskan Averyl malah merasakan Eduard semakin menarik rambut panjang Averyl.


Air mata Averyl terjatuh. Ia menangis bukan sakit karena rambutnya di Jambak Eduard, tapi hatinya yang terluka. Averyl tidak menyangka Eduard akan bersikap sejahat ini.


“Aku tidak berbohong Ed.”


Eduard melepaskan rambut Averyl. Tangannya berpindah pada pundak Averyl, lalu mendorongnya hingga membentuk tembok.


Mata Averyl terpejam, tulang punggungnya terasa amat sakit akibat dorongan Eduard yang kencang.


“Ternyata kau pembohong yang bodoh!”


Averyl yang sudah sangat kesal menyingkirkan tangan Eduard yang ada di pundaknya. “Harus berapa kali aku katakan? Aku tidak berbohong,” jawab Averyl dengan sedikit meninggi.


Eduard mengeluarkan ponselnya. “Lalu ini apa?”


Averyl terkejut melihat dirinya sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang tidak sengaja bertemu saat melakukan pemeriksaan kandungannya. “Aku bisa jelaskan.”


Eduard tersenyum menyeringai, ia melemparkan ponselnya hingga mengenai bagian pelipis Averyl.


Dengan serangan yang tiba-tiba Averyl tidak bisa menghindar. Kini kepalanya sangat pusing, Averyl meraba bagian pelipisnya yang terasa nyeri. Ia melihat darah di jari tangannya. Tangan Averyl mengepal, air matanya mengalir deras membasahi pipinya.

__ADS_1


Suara isakan kecil dari mulut Averyl tidak di hiraukan oleh Eduard. Ia pergi begitu saja dengan amarah dan rasa cemburu yang memenuhi hatinya.


__ADS_2