
Eduard terpaku beberapa saat, tubuhnya tidak bergerak sedikit pun. Maniknya mengikuti tubuh Averyl yang di bawa pergi oleh Arsya.
“Tuan,” panggil Simon.
“Ayo Simon, kita tidak boleh membiarkan Mami tahu masalah ini.”
Simon mengendarai mobil Eduard dengan kecepatan tinggi mengikuti laju mobil Arsya. “Simon cepat hentikan mobil Arsya sebelum memasuki rumah sakit.”
Simon berhasil menyalip mobil Arsya. Eduard turun menghampiri mobil Arsya.
Arsya melirik ke belakang, kondisi Averyl tidak baik-baik saja. Terpaksa Arsya turun dari mobil. Ia memberikan pukulan pada wajah Eduard.
“Suami macam yang tega menghabisi nyawa istrinya sendiri!”
Eduard meraba sudut bibirnya yang terkena pukulan Arsya. “Kau tidak perlu ikut campur, ini urusan rumah tanggaku!” balas Eduard dengan wajah kesalnya.
“Pria gila!” Arsya hendak masuk kembali ke mobil, namun belakangan bajunya di tarik kembali oleh Eduard.
Arsya menghindar dari pukulan Eduard, yang menyebabkan pukulan Eduard mengenai kaca mobil Arsya.
Arsya memberikan perlawanan di kala Eduard tengah memandang tangannya yang berdarah terkena serpihan kaca mobil.
“Bedebah! Simon tahan pria gila ini,” teriak Arsya. Ia kembali masuk ke dalam mobil, dan melaju dengan cepat menuju rumah sakit.
Eduard yang tidak terima memberontak dari cekalan Simon, ia masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil Arsya tanpa memedulikan panggilan Simon.
***
Alana mondar-mandir di ruang tamu. Tangannya menggenggam ponselnya erat-erat. Sesekali menggalakkan ponselnya untuk melihat kabar dari Arsya.
Alana sudah tidak sabar menunggu, ia menelepon Arsya. Tetapi tidak kunjung di angkat. Perasaannya semakin campur aduk.
“Mami kenapa mondar-mandir terus?” tanya Asyila. Ia duduk di sofa dan membuka toples camilan yang ada di pangkuannya.
“Perasaan Mami enggak enak. Arsya tidak angkat telepon Mami.” Ucapan Alana terdengar sangat khawatir di telinga Asyila.
“Santai saja kali Mam, paling Ka Arsya lagi main sosor-sosoran sama calon istrinya.” Asyila menanggapinya dengan santai, ia memasukkan keripik ke dalam mulutnya. Tidak aneh menurutnya jika Arsya susah di hubungi, apalagi pernikahan Arsya dengan calon istrinya akan di laksanakan bulan depan pasti mereka sibuk mempersiapkan pernikahan.
Baru saja Alana ingin menjawab ucapan Asyila tetapi ponselnya berdering tanda telepon masuk dari Arsya. “Arsya bagaimana?”
“Kacau Mam, Averyl masuk rumah sakit, kepalanya di hantam Eduard. Belum lagi-“ Arsya menggantung ucapannya. Ia berjalan menjauh dari Eduard.
“Cepat katakan Arsya!” ucap Alana tidak sabar.
__ADS_1
“Lebih baik Mami ke sini sekarang,” mohon Arsya.
“Baik, jangan biarkan Eduard menemui Averyl sebelum Mami sampai di sana.”
“Baik Mam,” jawab Arsya.
Alana menutup teleponnya, dan berjalan keluar rumah.
“Mami mau ke mana?” teriak Asyila.
“Kalau Papi pulang bilang saja Mami bertemu Arsya.”
Jordan yang baru saja sampai mendengar ucapan istrinya. “Ada apa sayang?”
“Averyl masuk rumah sakit.”
Jordan cukup terkejut, ia menatap Asyila. “Syila mau ikut?”
Asyila menggelengkan kepalanya. “Besok Syila ada praktik kelompok, tidak bisa di tinggalkan. Dosennya killer takut.”
“Baiklah, kamu jaga diri ya sayang.”
“Iya Pi.”
***
Tatapan tajam Eduard melayang pada Simon yang baru saja sampai di rumah sakit. Saat Simon berdiri di sampingnya Eduard berbicara dengan sangat pelan, “Tutup mulutmu, tidak perlu banyak bicara!”
Eduard tidak terkejut melihat kedatangan orang tuanya, sebab ia mendengar dengan jelas Arsya telah mengadu.
Eduard hanya diam terpaku saat Alana berdiri di depannya dengan wajah yang penuh amarah. Ia pun tetap diam saat pipinya di tampar oleh Alana.
“Mami kecewa sama kamu Ed!”
Eduard hanya diam, tidak berani menatap manik ibunya.
“Mami tidak pernah mengajarkan kamu untuk ringan tangan pada wanita, apalagi dia istrimu sendiri. Seseorang yang seharusnya kamu jaga. Serta mendapatkan cinta dan kasih sayang dari kamu.” Alana menekan dada bidang Eduard dengan telunjuknya.
Alana berbalik, menyeka air matanya. Ia berjalan menuju ruang UGD. Seorang dokter keluar dan tersenyum ramah.
“Bagaimana keadaan menantu saya dan janinnya Dok?”
Mendengar pertanyaan Alana berhasil membuat Eduard tercengang. Ia tidak tahu sama sekali tentang kehamilan Averyl.
__ADS_1
“Luka di kepala Averyl tidak terlalu parah, hanya luka luar saja. Kandungannya sempat mengalami pendarahan, Beruntung Tuan Arsya tidak terlambat membawa nona Averyl kemari sehingga janinnya baik-baik saja.”
Jordan dapat melihat binar bahagia dari wajah Eduard. Ia merapalkan doa di hatinya, berharap Averyl mau memaafkan kesalahannya putra sulungnya.
“Syukurlah, apa saya sudah boleh menjenguk Averyl?”
“Boleh nyonya silakan,” jawab dokter.
“Terima kasih dokter.” Dengan cepat Alana masuk seorang diri.
Hati Alana hancur melihat tubuh Averyl yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Alana mendekat dan duduk di kursi yang tersedia. Ia membelai dengan lembut perban yang melingkar di kepala Averyl.
Alana cukup terkejut melihat leher Averyl yang di perban. Hatinya hancur mengingat rekaman video Eduard yang berani menyayat leher Averyl.
Tangis Alana pecah, ia menggenggam erat tangan Averyl. Rasa bersalah Alana cukup besar, ia menyesal membiarkan Averyl bersama Eduard. Seharusnya saat Alana tahu semuanya ia membawa Averyl pergi dari Eduard.
“Maafkan Mami sayang,” lirih Alana di sela tangisnya.
Averyl mendengar suara tangisan yang cukup kencang. Perlahan ia membuka kelopak matanya, dan terkejut mendapati Alana yang menangis.
“Ma janin Averyl?” tanya Averyl. Ia sangat mengkhawatirkan calon buah hatinya.
Alana menyeka air matanya. “Dia kuat seperti kamu,” ucap Alana seraya membelai perut Averyl.
Averyl tersenyum sangat tipis. Perasaan sangat lega, ia tidak kehilangan lagi. Manik Averyl melirik pada pintu, ada rasa takut yang menyelimuti hatinya.
Teringat akan tujuannya, ia harus pergi sebelum Eduard datang. Averyl bangkit berusaha untuk duduk, tapi perutnya sakit.
“Averyl sayang, jangan banyak bergerak kamu mengalami pendarahan.”
“Tapi Mam, Averyl harus pergi.”
Suara ketukan pintu di ikuti panggilan pada Alana. “Mam.”
Dari suaranya saja Averyl tahu bahwa itu Eduard. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, tangan Averyl gemetar. Sekelebat bayangan tentang kejadian sebelum ia pingsan terputar jelas dalam ingatannya.
“Eduard masuk ya Mam,” ucap Eduard sedikit berteriak dari luar.
***
Kalau kalian ada di posisi Alana, akan membiarkan Eduard masuk atau menghalangi Eduard?
Jawab di kolom komentar ya 🥰
__ADS_1
Jangan lupa dukung aku dengan like, komentar, vote dan hadiah. Terima kasih 💕
Sampai jumpa di bab selanjutnya, semoga sehat selalu 🥰