
Setelah Jordan pergi Alana menghapus air matanya, perasaan canggung menyelimuti hatinya.
Setelah mengetahui Arvan bukan orang sembarangan rasanya Alana ingin pergi. Dia tidak ingin terjebak di dalam lubang yang sama.
Dia takut bahwa Arvan sama seperti Jordan, mempunyai sikap arogan. Alana menghela nafasnya, dia menatap mata Arvan dengan ragu-ragu.
Arvan memperhatikan setiap gelagat Alana, mungkin wanita itu ingin mengatakan sesuatu tapi sepertinya dia ragu. “Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?”
Alana mengangguk kecil, lalu menundukkan kepalanya.
Arvan tersenyum tipis melihat tingkah Alana. “Marilah aku akan mengantarmu,” ucap Arvan sambil merangkul bahu Alana.
Arvan memberikan jaketnya agar Alana pakai, untuk menutupi bagian dadanya yang sedikit terbuka akibat ulah kadar Jordan.
Alana menatap tangan Arvan yang berada di bahunya, dia merasa risi. Tetapi menolak pun dia tidak enak hati, pria ini sudah terlalu baik padanya.
Alana bisa bernafas lega, saat memasuki lift Arvan melepaskan rangkulannya. Dia mencuri-curi pandang wajah Arvan.
“Ada yang salah dengan wajahku?”
__ADS_1
Alana menggelengkan kepalanya, malu bukan main. Ternyata aksinya tertangkap basah oleh sang pemiliknya.
Alana berjalan beriringan dengan Arvan menuju area parkir. Alana melihat Jordan yang menarik rambut Stella hingga membentur bagian belakang mobil yang terparkir.
Langkah Alana terhenti, dia seperti merasakan apa yang Stella rasakan. Air mata Alana menetes melihat Jordan mencekik leher Stella menggunakan tangan kanannya.
Alana berlari mendekati mereka, dengan jelas Alana mendengar ucapan Jordan.
“Kamu yang telah berani menghasut istriku, perempuan sialan!” bentak Jordan.
Dari kejauhan Arvan memperhatikan Jordan yang tampak brutal, bukan dia membiarkan adiknya dalam bahaya. Hanya Arvan tahu betul bagaimana adiknya yang pandai dalam bela diri.
Namun Jordan tidak melepaskan cekikan di leher Stella, Alana malah melihat Jordan semakin erat mencekik leher Stella.
Air mata Alana berurai dia menatap ke dalam mata Jordan, sama seperti kejadian tadi hanya kabut amarah yang ada di mata Jordan.
Jordan tidak menghiraukan ucapan Alana, fokusnya hanya satu. Yaitu pada wanita yang sedang kesulitan bernafas karena cekikan di lehernya, “Ini balasan untukmu wanita bodoh! Kau harus mati di tanganku,” ucap Jordan sambil tersenyum kecut.
Air mata Alana tidak berhenti, dia terus berusaha menarik tangan Jordan agar melepaskan tangannya dari leher Stella.
__ADS_1
Stella menampilkan senyum tipisnya, “Oke kita akhiri drama ini, karena aku hampir kehabisan napas,” gumam Stella. Dia memberikan pukulan telak di perut Jordan, hingga Jordan merasa kesakitan dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Stella membetulkan jas dokter kebanggaannya, bahkan dia sempat mengikat rambutnya dengan cepat.
Melihat Jordan yang masih meringis kesakitan, Stella berjalan pelan menghampirinya.
Air mata Alana berhenti seketika, dia terkejut melihat Stella yang memiliki kemampuan bela diri.
Stella memasang kuda-kudanya, dia sudah siap menerima serangan Jordan. Saat Jordan hendak memukul wajahnya, dengan cepat Stella menangkis tangan Jordan menggunakan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya sudah siap memberikan pukulan di wajah Jordan.
“Hanya begitu kemampuanmu? … yang ada kau mati di tanganku,” ucap Stella meremehkan Jordan.
Jordan semakin gelap mata, amarahnya benar-benar tidak bisa di bendung lagi. Dia merasa di remehkan oleh wanita di hadapannya, Jordan mengepalkan tangannya.
Dia tidak memedulikan ucapan Nik yang memintanya berhenti, Jordan kembali memberikan serangan pada Stella.
Stella saat itu lengah hingga Jordan berhasil memukul pipinya, “Sialan kau pria arogan!” teriak Stella.
Kesabarannya sudah habis, dia berjalan mendekati Jordan memberi beberapa pukulan, hanya saja tidak semua pukulannya tepat sasaran Karena Jordan berhasil menangkisnya.
__ADS_1