Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Pemain Bayaran


__ADS_3

“Asyila menyukai Eduard dari dulu.” Ucapan Alana bagaikan petir yang menyambar hati Averyl.


“Mami harap kamu mengerti, dan bisa berbagi Eduard untuk Asyila.”


Averyl tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya. Ucapan Alana sungguh menggores perasaan Averyl. “Tapi Mami Averyl tidak bisa berbagi Eduard dalam urusan tempat tidur,” tutur Averyl. Ia tidak ingin menjadi wanita yang hanya jadi pemain bayaran yang tidak bisa melakukan apa pun saat suaminya berselingkuh.


Averyl merasa frustrasi saat ucapannya hanya di jawab senyuman oleh Alana. Ia tidak tahu apa arti dari senyuman Alana.


***


Hidangan untuk makan malam sudah tertata rapi di atas meja makan. Jordan, Alana dan Arsya duduk dengan tenang bersiap mengambil lauk. Sementara Eduard dan Asyila duduk bersampingan tepat di depan Averyl.


“Mari kita makan,” ucap Jordan. Alana dengan sigap mengambil lauk untuk suaminya.


Begitu juga dengan Asyila yang mengambil lauk untuk Eduard. Sementara Arsya mengambil sendiri, dan Averyl hanya diam memperhatikan Asyila dan Eduard.


Arsya yang melihat Averyl hanya diam saja angkat bicara. “Mau aku ambilkan lauknya?”


“Aku bisa ambil sendiri,” jawab Averyl. Saat ia akan menyendok makanan, Arsya lebih dulu mengambilkan beberapa lauk untuk Averyl.


“Terima kasih.”


Eduard yang melihat Arsya memberi perhatian lebih pada Averyl hanya bisa mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Coba Ka ini enak.”

__ADS_1


Eduard menerima suapan dari Asyila. Ia melirik Averyl yang tampak tenang dan fokus pada makanannya. Apa kamu tidak cemburu ?


Telinga Averyl mendengar dengan jelas ucapan Asyila, tapi ia ingat pada ucapan Alana. Ada amarah yang menggumpal di hati Averyl, tapi ia tidak berbuat apa-apa selain diam.


Averyl tidak menghabiskan makannya, ia pamit lebih dulu untuk beristirahat. Averyl memilih beristirahat di kamar Eduard, tadi siang Alana yang memberi tahu kamar Eduard. Saat hendak ke kamar Eduard langkah Averyl terhenti karena Simon tiba-tiba berdiri di depan pintu.


“Baju tidur yang di pesan Tuan Eduard, untuk Nona pakai.”


Averyl menerima paper bag dari Simon dan mengecek isinya lebih dulu. Averyl tidak ingin memakai lingerie, itu terlalu ekstrim. Ia mengembalikan paper bag tersebut pada Simon. “Aku tidak ingin memakai ini, cari pakaian tidur yang tertutup.”


“Baik Nona.” Simon pergi untuk mencari pakaian sesuai dengan permintaan Averyl.


Averyl masuk ke kamar Eduard dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Averyl merapatkan handuknya. Ia tidak ingin handuknya jatuh dan Eduard melihat tubuhnya sekarang. Suara pintu yang terbuka tanpa ada ketukan lebih dulu membuat Averyl sedikit kesal. Apalagi Asyila pelakunya. Averyl memperhatikan Asyila yang masuk dan menarik tangan Eduard.


“Ayo kita keluar, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan.”


Eduard bangkit dari duduknya dan menatap Averyl sebentar sebelum berjalan menghampiri Asyila yang ada di ambang pintu.


“Hanya memakai handuk saja tubuhnya tidak membuat ka Eduard tergoda,” ucap Asyila sebelum pintu tertutup rapat.


Averyl yang mendengar penghinaan itu berjalan mengambil paper bag lalu melemparkannya pada pintu yang sudah tertutup sempurna. Nafas Averyl naik turun, Asyila sudah di luar batas. Dan berani menghinanya. Belum lagi Eduard yang hanya diam saja seolah menyetujui ucapan Asyila.


Averyl membantingkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu menutup matanya untuk meredam amarah yang belum tersampaikan seluruhnya.

__ADS_1


***


Eduard melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. “Aku harus kembali ke kamar. Besok kita berbincang lagi.”


Bibir Asyila mengerucut. Ia tidak rela mengakhiri malam secepat ini. “Sebentar lagi,” mohon Asyila dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


“Maaf Asyila.” Eduar mengacak puncak rambut Asyila sebelum masuk ke dalam rumah.


Saat masuk ke kamar Eduard di suguhi pemandangan yang berhasil membangkitkan jiwa lelakinya. Bagaimana tidak tubuh Averyl Terlentang di atas tempat tidur hanya mengenakan handuk. Kaki jenjangnya yang putih membuat gaira*hnya memberontak.


Eduard naik ke atas tempat tidur, dan memposisikan tubuhnya di atas Averyl.  Eduard hanya diam memandang wajah tenang Averyl yang tertidur pulas. Eduard tidak tega jika harus membangunkan tidur Averyl.


Averyl terbangun dari tidurnya saat merasakan embusan nafas yang menerpa wajahnya. Saat membuka kelopak matanya, wajah Eduard sudah berada tepat di depannya. Averyl melihat senyuman di bibir Eduard sebelum bibirnya di sambar oleh Eduard.


Averyl menutup matanya untuk menikmati ciuman Eduard. Meski kemampuan berciuman Averyl sangat minim ia mencoba untuk membalas ciuman Eduard.


Eduard melepaskan ciuman mereka, sebelum gairah dalam tubuhnya sudah tidak bisa ia kontrol. “Aku menginginkanmu Averyl.”


Averyl terdiam beberapa saat untuk menormalkan nafasnya. Entah setan dari mana Averyl melingkarkan lengannya di leher Eduard. Dan mencium Eduard lebih dulu.


 ***


Bagian esek-eseknya kita skip aja ya, karena ini bulan suci ramadhan. Aku takut menodai ibadah kalian semua 🙏


Jangan lupa Like, komentar, dan vote-nya ya. Agar aku semangat untuk update setiap hari. Love u all 💕

__ADS_1


__ADS_2