
Setelah badan Averyl menempel pada dada, tangan Eduard mulai merangkak naik ke leher dan mulai mengikis jarak di antara mereka. Bibir Averyl mendarat sempurna di bibir Eduard, baru saja Eduard menyesapnya tubuh Averyl seketika memberontak.
Averyl berhasil bangkit, ia menampar Eduard yang telah lancang menciumnya. Averyl berlari keluar kamar dan menutup pintu. Di depan pintu kamarnya Averyl bersandar pada dinding mencoba menenangkan nafasnya yang memburu. Ia meletakkan tangannya di depan dada merasakan debaran jantungnya yang berdetak cukup kencang. Astaga Averyl, kau bodoh sekali.
Sementara di dalam kamar Eduard menghela nafas kasar, malam indah yang di impikannya gagal total. Sial! Eduard meraba pipinya yang di tampar Avery. Eduard merasa harus mengasuransikan wajahnya, untuk berjaga-jaga. Eduard tidak ingin wajah tampannya menjadi hancur karena Averyl senang sekali menganiaya.
Eduard bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Ia membuka baju tidurnya dengan malas, tiga puluh menit yang lalu ia baru selesai mandi. Dan sekarang ia harus mandi kembali dengan air dingin. Benar-benar malam yang penuh kesialan.
***
Dengan berat hati Averyl memilih tidur di sofa, andai saja kejadian ciuma tadi tidak terjadi ia bisa berdebat dengan Eduard. Averyl merebahkan tubuhnya di atas sofa yang sempit kakinya sedikit menjuntai ke bawah. Di pandangnya langit-langit ruang tamunya, Averyl meraba bibirnya adegan ciuman tadi terekam jelas di dalam ingatan. Bahkan sensasi setelah membayangkan kejadian tadi berhasil membuat debaran jantungnya. Averyl menggeleng-gelengkan kepalanya. Tenang Averyl itu hanya tabrakan bibir, bukan ciuman layaknya pasangan yang di mabuk cinta.
Suara pintu kamar yang terbuka cukup mengejutkan Averyl. Ia memilih menghindar dari Eduard dengan menutup matanya dan pura-pura tidur.
__ADS_1
Eduard yang melihat Averyl tertidur di sofa tidak tega. Ia menghampiri Averyl dan merengkuh tubuh kecil Averyl.
Averyl mengutuk kebodohannya. Ini tidak sesuai rencana, mengapa Eduard malah menggendongnya. Apalagi Averyl dapat merasakan Pipinya bersentuhan dengan dada bidang Eduard tanpa penghalang.
Dengan perlahan Eduard merebahkan tubuh Averyl di atas tempat tidur. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Averyl. Tidak lupa Eduard memberikan kecupan di kening pipi serta bibir Averyl. Dari gerakan terkejut Averyl, Eduard sudah bisa menebak bahwa Averyl hanya pura-pura tidur. Dengan sengaja Eduard mencari kesempatan untuk menikmati bibir tipis Averyl. Cium*an sepihak itu terjadi cukup lama, hingga bibir Averyl sedikit membengkak. Eduard tersenyum dan keluar dari kamar.
Saat suara pintu tertutup Averyl membuka kelopak matanya. Wajahnya tampak frustrasi, Avery merasa bodoh seharusnya ia membuka mata dan mendorong Eduard untuk menjauh. Tapi di dalam lubuk hati Averyl ia menikmati ciuman tadi, kalau saja egonya tidak besar mungkin ia sudah membalas ciuman Eduard.
“Bodoh! ... Bodoh!” ucap Averyl sambil memukul bibirnya. Ia bangkit dan menatap meja rias. Dari pantulan cermin Averyl dapat melihat jelas bibirnya yang bengkak.
***
Pagi itu Averyl sudah siap untuk berangkat ke kantor. Sebelum membuka pintu kamarnya Averyl menarik nafas panjang dan menampilkan wajah cueknya. Ia tidak boleh memberikan celah sedikit pun untuk Eduard masuk ke dalam kehidupannya.
__ADS_1
Averyl mulai membuka pintu tapi apartemennya tampak kosong. Ia berjalan ke dapur dan menemukan roti panggang di atas piring dengan secarik kertas. “Makanlah jangan di buang. Aku minta maaf untuk kejadian semalam,” lirih Averyl membaca pesan Eduard.
“Dengan mudahnya dia meminta maaf setelah membuat bibirku bengkak, itu tidak sebanding,” gerutu Averyl. Ia duduk dan memakan sarapannya dengan sedikit emosi.
Setelah menyelesaikan sarapannya Averyl bangkit dan mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja ruang tamu. Muncul rasa penasaran di dalam benaknya karena Eduard menghilang tanpa pamit. Kenapa aku harus memikirkannya, ia sesuatu yang tidak penting.
Kali ini Averyl berangkat kerja dengan mengendarai mobil sendiri. Sepertinya nanti ia harus memiliki supir. Ia merasa lebih nyaman dan bisa bersantai seperti kemarin saat berangkat kerja antar Eduard.
Sesampainya di basemen kantor Averyl keluar dari mobil. Ia menunduk hormat pada Arsya yang ternyata baru keluar juga dari mobilnya. “Ikut saya ke ruangan!” Averyl mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Arsya sampai keruangannya.
Averyl cukup terkejut saat Arsya mengeluarkan sebuah amplop berisi foto dirinya dan Eduard yang sedang di kamar Averyl dengan posisi saling berpelukan. “Berani-beraninya kau tidur dengan Eduard tanpa sepengetahuanku!” bentak Arsya.
***
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya berupa komentar, like, votenya. Terima kasih untuk kalian semua yang sudah memberikan dukungannya.
Sampai jumpa di bab selanjutnya 💕