
Alana pulang dengan tubuh lelahnya, namun dia tersenyum melihat Arsya yang menyambut kedatangannya.
“Mami,” teriak Arysa sambil menghambur ke pelukan Alana.
Alana berjongkok dan memeluk tubuh jagoan kecilnya.
“Aku merindukan mami,” ucap Arsya di dalam pelukan hangat milik ibunya.
Alana mengusap punggung Arsya dengan penuh kasih sayang, “Mami juga merindukanmu, sayang.”
Arsya melepaskan pelukannya, memberikan wajah gembiranya.
“Mami aku mau ice Cream,” ucap Arsya sambil tersenyum malu-malu.
Alana menggelengkan kepalanya. Dia melihat wajah menggemaskan yang di tunjukan Arsya karena Alana tidak mengizinkannya untuk memakan ice Cream.
Alana mengecup bibir Arsya mengerucut, “Jangan terlalu banyak,” Alana selalu luluh jika Arsya meminta sesuatu padanya.
“Horeee ice Cream, i’m coming,” teriak Arsya dengan gembiranya sambil berlari ke dapur.
Alana hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Arsya yang sangat menggemaskan.
Dia berjalan masuk mencari pelayan yang bekerja di rumahnya.
“Ada yang bisa saya bantu nona?”
Alana memperhatikan dua wanita yang ada di hadapannya. Mereka adalah TKW yang Alana pekerjaan di rumahnya.
__ADS_1
“Tolong bantu bereskan semua sebagian barang-barang penting. Besok kita berangkat ke Indonesia,” ujar Alana.
Pengasuh Arsya angkat bicara, “Untuk berapa hari nona?”
Alana diam, kemudian dia menatap dua wanita di hadapannya.
“Untuk beberapa tahun ke depan ... baju Arsya cukup beberapa saja nanti kita beli di sana.”
“Baik nona,” jawab kedua perempuan tersebut bersamaan.
Alana berjalan menghampiri Arysa yang sedang memakan ice Cream di ruang keluarga.
“Sayang besok kita akan pergi ke Indonesia,” ucap Alana setelah duduk di samping Arsya.
Arsya menghentikan aktivitasnya, dia menoleh pada ibunya.
“Kenapa harus pergi, kan Dady ada di sini. Kalau Arsya jauh dari Dady, siapa yang akan memperhatikan Arysa?”
Di saat itu Arsya ingin kembali protes, namun saat merasakan ibunya menangis. Arsya mengurungkan niatnya, dia membalas pelukan ibunya dengan erat.
“Mami jangan menangis, Arsya tidak suka melihat Mami menangis.”
Butiran bening Alana semakin deras membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya Alana mendengar ucapan Arsya yang memintanya berhenti menangis.
Sama seperti Jordan yang tidak suka melihatnya menangis. Alana menghentikan tangisnya. Dia membersihkan pipinya yang basah menggunakan tisu.
Arsya memperhatikan ibunya yang kini tersenyum padanya.
__ADS_1
“Sekarang Arsya ke pergi ke kamar, pilih mainan yang mau Arsya bawa. Nanti biar mami yang bereskan,” ucap Alana dengan lembut.
Dia berusaha menahan air matanya. Hatinya bergejolak melihat wajah Arsya yang sangat mirip dengan papinya, Jordan.
Arsya hanya mengangguk, dia tidak ingin melihat ibunya menangis lagi.
Setelah memastikan Arsya masuk ke kamarnya Alana berjalan menuju kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi miring.
Alana merogoh ponsel yang ada di saku blazernya. Air matanya turun kembali begitu melihat wajah Jordan di ponselnya.
Ada rasa sakit yang menyeruak di hatinya.
“Apa keberadaanku tidak pernah berarti bagimu? Bahkan setelah empat tahun ini, perasaanku masih sama seperti dulu ... Aku mencintaimu Jordan,” ucap Alana dengan berurai air mata.
Alana hanya bisa menangis memeluk ponselnya. Ada rasa sakit yang cukup dalam di hatinya, meskipun ada rasa rindu pada pria itu.
Logikanya selalu menyangkal semua perhatian kecil Jordan, selama ini dia selalu berlindung dengan benteng yang dia buat.
Benteng itu sangat kuat, dalam menjaga hatinya. Alana selalu berkata pada dirinya bahwa Jordan adalah pria yang tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki hati.
Itulah alasan Alana tidak memberitahu Jordan bahwa dirinya tengah mengandung benihnya.
Alana ingin bebas, dia tidak ingin terkurung karena kehamilannya.
Alana rasa Jordan tidak akan pernah bisa berubah, dari sikap kasarnya.
Setelah membereskan mainannya, Arsya masuk ke kamar Alana. Di lihatnya wajah ibunya yang sembab dan pipinya basah karena air mata.
__ADS_1
Perhatian Arsya tertuju pada ponsel Alana yang menyala. Menampilkan foto pria, Arsya memperhatikan wajah pria itu.
“Dia siapa?” tanya Arsya di dalam hati kecilnya.