
Alana terkejut bukan main, mungkin wajahnya hanya kebetulan mirip saja. Tapi dia jadi penasaran dengan sosok Mira yang di sebutkan oleh Arvan. “Apa aku boleh melihat wajahnya?”
Arvan diam menatap lekat mata Alana, mencoba mencari tahu isi kepala wanita itu yang tiba-tiba ingin melihat wajah Mira. Namun Arvan tidak ingin menutupi semuanya, Alana berhak tahu. Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Mira pada Alana.
Alana memperhatikan layar ponsel Arvan yang menampakkan seorang wanita yang terlihat sangat cantik. Jika di lihat sekilas memang mirip tapi jika Alana teliti terlihat sangat berbeda. Mungkin yang sama hanya warna mata serta bentuk muka yang oval dan bentuk bibir yang terlihat sama persis.
“Tapi itu tidak mirip denganku,” ujar Alana.
Arvan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja yang dia kenakan, lalu menatap Alana. “Setelah aku lihat kalian memang berbeda. Apalagi setelah kejadian di mana kau di perlakukan kasar oleh pria itu kau hanya bisa diam dan menangis. Jika Mira ada di posisimu mungkin dia akan melawan seperti yang Stella lakukan … Mira paling senang melukis dan memasak, tapi sayang kau lemah dan tidak berbakat menggunakan peralatan dapur.”
Alana mengerucutkan bibirnya, pria di depannya tampak tersenyum puas melihat ekspresi yang di tunjukannya. “Apa kau bisa bela diri? Aku ingi seperti Stella yang bisa melindungi dirinya sendiri.” Alana berharap Arvan bisa bela diri, setidaknya dia bisa belajar dari pria di hadapannya ini.
“Tapi sepertinya kau tidak bisa bela diri, saat Stella melawan Jordan kau hanya diam saja menjadi penonton,” tutur Alana lesu. Hancur sudah harapannya untuk bisa belajar bela diri.
__ADS_1
“Kau meremehkan aku Alana?”
“Memangnya kau bisa?” tanya Alana dengan nada tidak percaya.
“Aku diam saja bukan tidak ingin menolong adikku, kamu bisa melihat sendiri dia bisa menjaga dirinya dan mengalahkan lawannya.”
Semua yang di ucapkan Arvan memang benar, Alana melihat sendiri bagaimana Stella memukul Jordan dengan tangan kosong.
“Apa kau mau mengajariku?” tanya Alana. Melihat Arvan yang diam saja membuat Alana takut kehilangan kesempatan, dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, “Aku mohon.”
“Terima kasih Lord,” ucap Alana sambil menunduk hormat. Namun dia terkejut melihat ekspresi Arvan yang tiba-tiba datar, “Apa yang salah dengan ucapanku?” tanya Alana pada dirinya sendiri.
“Jangan memanggilku dengan sebutan Lord, panggil aku Arvan!”
__ADS_1
Alana mendengar jelas suara tegas Arvan untuk pertama kalinya, tapi tidak ada rasa takut di hati Alana. Karena Alana melihat tatapan lembut dari mata pria di hadapannya.
Alana tersenyum, “Terima kasih Arvan.”
Setelah mengakhiri ucapannya Alana mendengar suara ketukan pintu, Alana memperhatikan Arvan yang berdiri dan mengacak puncak kepalanya hingga rambut Alana seketika berantakan karena keusilan Arvan.
“Itu lebih baik,” ucap Arvan dengan senyum mengembang di bibirnya. Dia berjala mendekati pintu dan menerima pesanannya. Lalu berjalan menghampiri Alana.
“Ikut aku,” pinta Arvan.
Alana berdiri dan berjalan mengekor di belakang Arvan, dia memperhatikan detail seisi rumah Arvan. Namun tidak ada yang menarik, bahkan barang-barang di dalamnya tidak menampilkan estetika keindahan dari dekorasi. Benar-benar simple menurut Alana.
“Duduklah.”
__ADS_1
Alana duduk di meja makan berbentuk persegi yang memiliki empat kursi. Dia memperhatikan Arvan yang menuangkan makanan yang dipesannya ke dalam piring.
“Perlu aku bantu?” Alana menawarkan diri, dia merasa tidak enak hati jika hanya duduk-duduk, sementara sang pemilik rumah sedang kesusahan.