
“Mami rasa sebaiknya kalian berpisah saja.”
Eduard merasa kecewa mendengar ucapan Maminya. Tapi ia paham betul perasaan Alana.
“Enggak Mam, sampai kapan pun Eduard tidak akan pernah berpisah dengan Averyl. Eduard sudah menunggu lima tahun lamanya, agar bisa bersama Averyl.”
“Lima tahun tidak ada artinya kalau kamu masih sama seperti dulu, Mami kecewa!” Alana pergi meninggalkan Eduard dan Arsya.
Eduard menatap Arsya memberikan isyarat untuk membujuk Mami.
“Satu hal yang pasti, hari ini Lo membuat kesalahan besar! Semoga aja Averyl tidak langsung mengusirmu,” tandas Arsya juga pergi meninggalkan Eduard sendirian.
***
Hari yang bahagia itu terasa sangat hampa, meskipun semua orang yang ada di rumah tertawa. Tapi perasaan mereka tak tenang dan terus menengok ke arah kamar Averyl.
Fiona dan Filio merasakan ada sesuatu yang terjadi pada ibu mereka. Tapi Asyila dan Arsya berhasil mengalihkan perhatian mereka dengan melakukan berbagai macam permainan.
Alana memang ikut bergabung, tapi hatinya terus gundah. Pendengarannya ia pertajam, karena menghawatirkan terjadi sesuatu pada menantunya.
Rasa bersalah, dan penyesalan tidak hilang begitu saja. Ia memang bodoh tidak bisa mengontrol emosinya hanya karena rasa cemburunya. Tapi ia berusaha menutupi semua rasa itu dengan tertawa riang ikut bermain bersama kedua anaknya.
Siang berganti malam, Alana berpamitan untuk pulang karena Jordan menjemput. Melihat wajah istrinya yang tampak murung dan masuk ke mobil dengan cepat membuat tanda tanya. Ia menatap Eduard dan memeluk erat putranya. “Ada apa Ed, kenapa Mami murung?”
“Ada masalah kecil Pi,” jawab Eduard.
“Maaf ya Papi tidak sempat ikut merayakan kepulanganmu.”
“Papi cepat!” teriak Alana.
Jordan tersenyum kikuk, “Sepertinya malam ini selain kelelahan mengatasi perusahaan Papi juga harus mengatasi badmood-nya Mami, Papi pulang dulu ya.”
Eduard tersenyum kecil, “Hati-hati Pi.”
Setelah kepergian mobil orang tuanya Eduard masuk ke dalam rumah.
“Iiiiii gemezzzz banget deh, Tante pasti kangen sama pipi gemoy kamu,” ucap Asyila dengan tangan yang mencubit kedua sisi pipi Filio.
__ADS_1
Melihat penderitaan sang Kaka, Fiona tersenyum sambil meledek sang Kaka.
“Tante itu ada opa Taehyun,” ucap Filio sambil menunjuk ke arah pintu masuk.
Asyila yang terkecoh menengok, namun tidak ada siapa-siapa. Yang ada Eduard yang baru masuk, wajah kecewanya tergambar jelas.
Berhasil membuat tantenya lengah Filio berlari sekuat tenaga menuju kamarnya.
Arsya dan Fiona tertawa bersamaan melihat kepintaran Filio yang berhasil melarikan diri.
“Yah Tante di tinggal, awas ya kamu Filio. Lain kali tidak akan Tante lepaskan,” ancam Asyila.
Fiona menghampiri Asyila dan memeluknya erat. “Tante hati-hati nyetirnya, tidak boleh mengebut ya.”
“Siap boz,” ucap Asyila sambil menggerak-gerakkan tangganya memberi hormat pada Fiona.
“Mau gue antar?” tawar Arsya.
“Gak perlu, gue kan wonder woman. Jaga aja tuh raja hutan sesuai perintah Mami jangan sampai mengaum lagi.”
“Urusan mudah, tinggal gue lakban aja mulutnya,” jawab Arsya sengaja memperkeruh keadaan.
“Pada pulang sana, rumah gue bukan tempat penampungan korban bencana cinta buta,” ucap Eduard membalas sindiran kedua adiknya.
Arsya yang merasa tidak terusik diam saja, berbeda dengan Asyila yang menghampiri Eduard dan memukul badan Kakanya menggunakan tas yang ia pakai.
“Sialan, liat aja ya. Bakal gue buktikan, dia akan bertekuk lutut di kaki gue!”
Eduard menahan tas Asyila agar tidak bisa memukulnya lagi. “Oke, awas aja kalau kemari Cuma buat nangis-nangis gara-gara di tolak lagi.”
Arsya yang tahu adiknya sedang PMS segera melerai mereka. “Sepertinya kalau telepon Mami lebih seru lagi.”
Asyila pergi dengan perasaan kesal tanpa berpamitan pada Eduard dan Arsya. Ia tidak ingin Mami sampai murka karena hal sepele, yang akan berimbas pada penyitaan ATM. Apalagi mami sedang marah karena Asyila menolak perjodohan.
Eduard memastikan kedua anak-anaknya sudah di kamar dan bersiap untuk tidur.
Eduard ke dapur untuk mengambil air. Ia melihat Arsya yang tengah menyiapkan makanan di atas nampan.
__ADS_1
“Makanan buat Averyl,” Arsya memberikan nampan yang telah di siapkannya pada Eduard.
Eduard menerimanya dan berjalan menuju kamar Averyl. Hatinya sedikit mencelos, Arsya saja ingat pada kesehatan Averyl. Tapi Eduard suaminya sendiri sampai lupa pada istrinya.
Sesampainya di pintu kamarnya Averyl. Eduard mengetuk pintu, “Averyl,” panggil Eduard.
Eduard menunggu pintu terbuka, tapi Averyl belum juga membukanya.
Saat hendak melakukan percobaan kedua Eduard untuk mengetuk, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka menampilkan tubuh Averyl yang terbalut piama dengan rambut yang di gulung handuk.
Setelah membuka pintu, Averyl bejalan menuju meja rias. Ia duduk dan membuka handuk di kepalanya.
Eduard masuk ke dalam kamar Averyl. Ia menyimpan nampan yang ia bawa di meja. Lalu menghampiri Averyl yang tengah mengeringkan rambutnya.
“Biar aku bantu,” Eduard mengambil alih pengering rambut dari tangan Averyl.
Averyl memandangi wajah serius Eduard dari pantulan cermin.
Merasa di pandangi Eduard menghentikan aktivitasnya dan ikut memandang Averyl dari pantulan cermin.
“Ada menatapku seperti itu?”
Averyl hanya menggeleng. Eduard kembali melanjutkan pekerjaannya hingga rambut Averyl kering.
Averyl duduk di sofa mengambil nampan untuk bersiap makan. “Aku ikut ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.”
“Silahkan,” jawab Averyl singkat.
Gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi. Averyl masuk ke walk in closet, membuka lemari dan mengambil pakaian tidur untuk Eduard kenakan. Di sana tidak banyak baju milik Eduard, hanya ada beberapa stel pakaian baru yang sudah Averyl siapkan untuk menyambut kedatangan Eduard.
Averyl berencana pergi berbelanja besok untuk membeli baju Eduard. Pandangannya tertuju pada baju tidur untuk Eduard. Ada rasa berlebihan dalam dirinya, padahal bisa saja Eduard mengambil bajunya sendiri.
Averyl mengambil kembali baju tersebut dan menyimpannya kembali. Tapi entah mengapa hati kecilnya menyuruh Averyl untuk menyiapkan baju Eduard. Sehingga ia kembali mengambil piama tersebut dan menyimpannya.
Averyl keluar dan duduk di sofa yang ada di kamarnya, lalu menikmati makan malamnya. Makanan yang di bawakan Eduard habis tak bersisa, mungkin karena perutnya seharian tidak di isi tanpa sadar menghabiskan semuanya.
Setelahnya Averyl merasa menyesal, padahal ia sedang menjalani program diet. Karena baju-bajunya terasa ketat saat di pakai, sudah pasti berat badannya bertambah cukup banyak.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar mandi Eduard tengah berperang dengan batinnya sendiri. “Pergilah hasrat busuk, aku sedang tidak membutuhkan ini,” umpat Eduard dengan suara berbisik di bawah guyuran air dingin.
Sudah lima belas menit Eduard berdiri di bawah guyuran shower tapi nafsunya masih menggebu-gebu, bahkan ingatannya masih tergambar jelas tubuh sintal Averyl di balik piama yang membentuk lekuk tubuhnya. “Sial!!!” batin Eduard.