Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Ibu Kandung Averyl


__ADS_3

Eduard duduk di pinggiran tempat tidur. Tepat di samping tubuh Averyl yang masih terlelap. Eduard menepuk pipi Averyl dengan perlahan seraya berkata. “Bangun putri tidur!”


Averyl merasa tidurnya terganggu. Bukannya bangun ia malah berganti posisi memunggungi Eduard. Emosi Eduard mencuat. Untuk pertama kalinya ia merasa di abaikan. Sia*lan!


Kesabarannya sudah tidak bersisa. Bukan bersisa Eduard memang tidak memiliki stok rasa sabar. Ia mendekat ke arah telinga Averyl seraya merapalkan mantra andalannya. “Kalau tidak banyun juga, jangan salahkan aku jika menghamilimu secara paksa!”


Bagikan mimpi buruk di tengah tidur yang nyenyak mata Averyl seketika terbuka sempurna. “Astaga barusan itu apa?” gumam Averyl.


“Bangun putri tidur!” bentak Eduard.


Manik Averyl seketika melirik ke samping pada asal suara yang cukup memekakkan telinga. “Untuk apa kau di sini?”


Satu alis Eduard terangkat sempurna. “Aku tidak salah dengar. Jelas-jelas ini kamarku. Harusnya aku yang bertanya kenapa kau di kamarku. Ah aku lupa, semalam kau kan menikmati permainan kita.” Eduard tersenyum penuh arti.


Averyl terkejut bukan main, seingatnya semalam ia tidak melakukan apa pun. Ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Sialan Eduard mengerjaiku.


Tangan Averyl menarik bantal di sampingnya, lalu memukul Eduard dengan membabi buta. “Sialan dasar manusia zaman batu!”


Tidak terima di pukul terus menerus oleh Averyl, tangan Eduard merebut bantal tersebut dan melemparkannya ke sembarang arah. Ia membetulkan posisi dasinya yang melenceng akibat kerusuhan Averyl. “Berani-beraninya kau melunturkan ketampananku.”


Averyl tertawa mendengar ucapan Eduard yang terlalu percaya diri. “Kau terlalu percaya diri Tuan Eduard. Bahkan jika di bandingkan dengan Tuan Arsya, Anda tidak ada apa-apanya.”


“Berani-beraninya kau membandingkan calon suamimu dengan pria lain?” Nada dingin Eduard di tanggapi dengan pertanyaan oleh Averyl.


“Memangnya siapa yang mau menikah denganmu?” Eduard menggeser posisi duduknya. Lalu merapikan tuksedo yang di kenakannya.


“Memangnya kau sudah menyiapkan uang yang saya minta?” Averyl menjawab pertanyaan Eduard dengan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Sudah saya duga. Simon sudah menyiapkan pernikahan kita yang akan di laksanakan besok pagi. Dan malam adalah acara pestanya.” Manik Averyl membulat sempurna.


“Apa katamu besok?”


“Iya. Bersiaplah karena aku tidak akan pernah melewatkan malam pertama,” ujar Eduard seraya tersenyum penuh arti.


Wajah Averyl seketika pucat pasi. Dia tidak mungkin menikah dengan pria yang baru di kenalnya. Terlebih Eduard tidak memiliki hati. Belum lagi segudang gair*ah prianya yang belum tentu bisa Averyl tangani. Tidak ... Tidak ... Ini semua tidak boleh terjadi, tapi bagaimana cara membatalkannya?


Averyl menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak mendapatkan ide sama sekali. Eduard bukan tandingannya. Meskipun pria itu banyak bicara seperti wanita tapi tangannya terlalu lihai untuk melempar pisau tepat pada sasarannya.


“Jangan berpikir untuk kabur, apalagi membatalkan pernikahan kita. Karena Simon sudah menyiapkan semuanya dengan sangat sempurna tanpa celah sedikit pun.” Baru saja di pikiran, betulkan Eduard banyak bicara. Dan Averyl tidak menyukai itu. Terlalu cerewet.


“Hmmmm,” jawab Averyl seenaknya.


“Bersiaplah kita ke rumah orang tuaku!” Perintah Eduard.


Simon hendak mengetuk pintu kamar Eduard. Namun pintu lebih dulu terbuka dan menampakkan tubuh tegap Eduard.


“Tuan,” ucap Simon. Eduard yang melihat wajah serius Simon tahu bahwa asisten pribadinya itu ingin membicarakan hal penting.


“Di ruang kerja!” Simon mengangguk dan berjalan di belakang Eduard.


Sesampainya di ruang kerja Eduard mereka duduk di sofa. Simon mengeluarkan berkas dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya pada Eduard.


Eduard membaca dengan saksama isi berkas tersebut. Wajah serius Eduard tampak sedikit terkejut, namun tidak lama ekspresi wajahnya kembali normal. Setelah selesai membacanya, ia menatap Simon dengan pandangan serius.


“Sembunyikan fakta ini dari Averyl. Aku tidak ingin pernikahan ini batal hanya karena Averyl tahu Namira adalah ibu kandungnya.”

__ADS_1


“Baik Tuan.”


***


flashback


Rintik hujan malam itu membuat suasana rumah sakit tampak sepi. Lorong rumah saki tersebut tanpak temaram. Angin bertiup kencang menabrak tubuh seorang wanita yang berjalan menyusuri lorong dengan menggendong seorang bayi. Langkahnya tampak tergesa.


Sesampainya di tempat parkir wanita tersebut menghampiri seorang pria yang berdiri tegap di depan sebuah mobil. Pria tersebut menunduk memberi hormat.


“Bawa bayi ini pergi jauh, dan pastikan semuanya aman,” ucap wanita tersebut. Ia memberikan bayi yang di gendongnya pada pria di hadapannya.


Pria tersebut menerima bayi itu. Ia menatap majikannya. “Tapi Nyonya Namira, saya harus bawa bayi ini ke mana?”


“Ke mana saja, terserah kau. Pastikan dia mendapat tempat yang layak. Nama bayi itu Eduard, pastikan nama itu yang akan terus melekat dalam dirinya.”


Pria tersebut mengangguk. “Baik Nyonya Namira, kalau begitu saya pergi dulu.” Wanita yang di panggil dengan sebutan Namira mengangguk.


flashback off


***


Untuk bab selanjutnya aku up sore nanti atau malam ya.


Terima kasih dukungannya. Love u all


💕

__ADS_1


__ADS_2