
“Istri anda baik-baik saja, sekarang sedang
dalam tahap pembersihan rahimnya.”
Jordan merasa lega saat dokter mengatakan
Alana baik-baik saja.
“Mari tuan kita ke ruangan perawatan bayi,”
ucap suster.
Jordan menyimpan anaknya ke dalam boks bayi degan
perlahan.
“Kau ikut suster, aku yang akan menunggu
Alana.”
“Terima kasih, Lord.” Jordan berjalan
mengikuti suster.
Setelah sampai di ruang perawatan Jordan
kembali memperhatikan wajah menggemaskan milik anaknya.
“Anak bapak laki-laki, kita menyediakan sesi
pengambilan foto bapak mau ambil tema apa?”
Jordan merasa kebingungan, seharusnya ini di
bicarakan terlebih dahulu dengan Alana.
“Apa istri saya sudah tahu?”
“Nyonya Alana hanya meminta yang terbaik,”
jawab suster.
“Saya ikut saja.”
“Baiklah, tunggu sebentar ya tuan.”
Saat pengambilan sesi pemotretan Jordan hanya
diam memperhatikan wajah anaknya yang menggemaskan.
Sementara di ruang bersalin pembersihan rahim Alana
sudah selesai, hanya tinggal
memindahkan Alana ke ruang perawatan.
Arvan tersenyum
melihat wajah Alana yang tampak lelah, “Bagaimana?”
__ADS_1
Alana berusaha
menampilkan senyumnya, “Luar biasa.”
“Apa kau ingin aku
menghubungi Joran kalau anak kalian sudah lahir?”
“Jangan.” Alana
menggelengkan kepalanya, matanya menatap Arvan dengan memohon.
“Aku tidak mau kalau
dia sampai tahu dan membawa anakku secara paksa,” ucap Alana dengan suara
parau. Hatinya bergejolak, Alana rasanya ingin menangis tapi dengan sekuat
tenaga dia menahannya. Dia tidak ingin kembali pada Jordan hanya karena ia
sudah melahirkan seorang anak untuk Jordan.
“Dia juga ayah dari
anakmu. Ada aku di sini yang akan menendangnya jika dia memaksamu.”
“Aku tidak ingin
bertemu dengannya,” jawab Alana sambil menundukan kepalanya.
***
selesai, Jordan keluar dari ruang rawat yang akan Alana tempati karena mendapat
pesan dari Lord Arvan.
Jordan mengecup kening
anaknya sebelum meninggalkan ruang rawat Alana, Jordan menunggu di tempat yang
agak jauh dari ruangan Alana.
Setelah lima belas
menit berlalu, Jordan berdiri karena Arvan sudah berada di depannya.
“Sekarang kamu pulang,
Alana tidak ingin menemuimu.”
“Baik Lord,” jawab
Jordan. Jordan menunduk hormat sebelum berjalan meninggalkan Arvan. Hatinya sakit,
karena kebodohannya dia tidak bisa bersama dengan keluarga kecilnya. Air mata
yang Jordan tahan turun seketika, dia menghapus air matanya dengan kasar
menggunakan tangannya.
__ADS_1
Arvan memperhatikan punggung
Jordan yang mulai meninggalkannya, ia melihat Jordan mengusap air matanya saat
dia berjalan.
“Aku tidak bisa
melakukan apa-apa, jika kehadiranmu akan menyakiti perasaan Alana,” gumam
Arvan.
_-Flashback off-_
“Cepat jawab,” ucap
Alana dengan sedikit kesal karena Jordan hanya diam dan melamun.
Jordan tersentak
mendengar ucapan Alana, namun Jordan menampilkan senyumnya. “Malam saat tepat
kamu melahirkan, Lord Arvan meminta ku untuk datang ke rumah sakit.”
Sebenarnya ucapan
Jordan mengejutkan nya, bahkan dia tidak tahu kalau Jordan ada di sana, namun Alana memilih diam menunggu kelanjutan
dari ucapan Jordan.
“Lord Arvan bilang, kalau kamu tidak ingin aku menemani mu saat melahirkan … aku sempat melihat anak
kita, terima kasih sudah mau melahirkan Arysa,” ucap Jordan tulus sambil
tersenyum pada Alana.
“Lalu foto itu?” Alana
menunjuk foto yang di pasang Jordan.
“Maaf, aku lancang
meminta foto itu pada bagian rumah sakit.”
Alana diam mebisu, memikirkan
semua ucapan Jordan dan kejadian tiga tahun lalu saat dia melahirkan. Alana
mencoba memikirkan beberapa kemungkinan.
Jika saat itu Jordan
ada di sana kenapa dia tidak memaksa untuk bertemu dengan Arsya, padahal dia
bisa melakukan apapun. Apa Jordan sudah berubah?
Alana menepis pendapatnya, mana mungkin Jordan berubah. Jordan pasti takut pada Arvan. “Sepertinya
itu masuk Akal, Jordan takut pada Arvan,” gumam Alana di dalam hatinya.
__ADS_1