Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Pusat Perhatian


__ADS_3

Bagian bawah Averyl terasa sangat perih, ini pertama kalinya ia berhubungan badan dengan pria.


Dengan susah payah ia turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan langkah pelan.


Setelah selesai mandi,


Averyl keluar dengan jubah mandinya. Ia memungut baju kerjanya yang robek.


“Kenapa pria selalu bernafsu pada wanita,” gerutu Averyl.


Ia mencari tas selempang miliknya, namun suara bel di pintu menghentikan aktivitasnya.


Averyl mengumpat di dalam hatinya, setiap bagian bawahnya berdenyut nyeri.


“Selamat pagi Nona,” ucap pelayan tersebut saat pintu terbuka.


“Ada apa?” ketus Averyl. Kali ini dia sedang tidak ingin beramah-tamah dengan siapa pun.


“Saya mau mengantarkan baju untuk Nona.” Pelayan hotel tersebut memberikan paper bag pada Averyl.


“Terima kasih.”


Averyl menutup pintu setelah pelayan hotel tersebut pergi. Ternyata di dalam paper bag itu lengkap, ada kemeja, rok serta pakaian dalam.


Dering telepon mengalihkan perhatian Averyl. Ia berjalan menuju tas yang tergeletak tidak jauh dari tempat tidur.


Averyl menghela nafas sebelum menerima panggilan dari CEO tempatnya bekerja.


[Di mana kau?]


“Saya lagi di jalan Tuan, 30 menit lagi sampai,” ucap Averyl berbohong. Ia tidak tahu sekarang ia ada di mana.


[Kau tidak lupa hari ini ada rapat?]


“Saya tidak lupa Tuan.”


[Jangan sampai terlambat!]


“Baik Tuan.”


Setelah panggilan terputus, Averyl memakai baju dengan cepat. Maniknya menatap kartu nama yang ada di atas meja kecil di sampingnya.


Tangannya meraih kartu  nama tersebut. “Eduard Havelaar, CEO Haveelar Grup,” gumam Averyl.


Averyl membuang kartu nama tersebut dan berjalan keluar. Ia harus segera sampai di kantor.


Dengan bermodalkan ojek online, ia bisa sampai lebih cepat menuju MA Grup tempat ia bekerja.


Sesampai di kantor ia menyiapkan berkas rapat dan berjalan masuk ke ruangan CEO.


Setelah mendapat ijin masuk, ia membuka pintu dan berjalan masuk.


“Mari Tuan, rapatnya sepuluh menit lagi akan di mulai.”

__ADS_1


Averyl melihat Arsya yang memperhatikannya. Apa ada yang salah denganku?


Averyl merasa penampilannya baik-baik saja, baju yang di pakainya sopan seperti biasa.


“Ayo cepat!” perintah Arsya. Dia adalah CEO di perusahaan MA Grup, perusahaan milik orang tuanya yang kini ia pegang.


Mereka berjalan beriringan menuju ruang rapat. Di sana sudah ada beberapa staf yang sudah duduk di tempatnya.


***


Rapat siang itu berjalan lebih lambat, perut Averyl terasa melilit karena ia belum sempat sarapan pagi.


Ia kembali menuju ruangannya setelah rapat selesai. Baru saja ia duduk suara pintu ruangannya di ketuk. “Masuk!”


Ternyata Syila yang masuk ke ruangannya, dengan berkas di tangan kanannya.


Averyl melihat tatapan terkejut yang di tunjukan Syila. “Ada apa sih?”


“Waaa akhirnya, sahabatku buka segel juga.”


Averyl melihat binar-binar kebahagiaan di wajah Syila. Ia masih belum menyadari ucapan Syila barusan.


“Segel apa?”


Syila duduk di kursi yang berhadapan dengan Averyl. Tangannya menunjuk bagian leher Averyl.


“Itu banyak banget tanda merah, buas banget ya cowok kamu?”


Averyl mengambil ponsel dan melihat lehernya dari pantulan layar ponselnya.


Mendengar gelak tawa Syila, Averyl memukul Stabil dengan berkas yang  ada di atas mejanya.


“Terus aja ketawa sampai puas.” Ketus Averyl.


Setelah puas tertawa Syila mengeluarkan salep dari dalam saku kemejanya. “Nih pake, enggak lucu kalau kamu jadi pusat perhatian.”


Averyl menerimanya, lalu mulai mengoleskan pada bagian merah-merah di lehernya.


“Enak enggak Veryl?”


Averyl tidak ingin menjawab pertanyaan Syila, ia memilih fokus mengoleskan salep.


“Kayaknya kalau sampai segitu banyak, buas banget deh cowokmu,” ucap Syila menggoda Averyl. Mereka saling mengenal dari bangku SMA, jadi Syila tahu betul kalau Averyl tidak pernah berpacaran atau dekat dengan pria.


“Bersik! Udah sana kalau enggak ada yang penting.” Averyl malas mendengar pernyataan yang di lontarkan Syila.


“Jahat banget ngusir-ngusir segala. Titip ya buat Tuan Arsya.”


“Hmmm.”


“Sekalian titip salam rindu dari aku.”


Melihat sahabatnya yang senyum-senyum tidak jelas, rasanya Averyl malas berdekatan dengan Syila.

__ADS_1


“Gak usah sok titip salam, di putusin Ardi nangis.” Averyl tidak suka jika sahabatnya itu keganjenan dengan pria lain, sementara statusnya sudah bertunangan.


Syila mengerucutkan bibirnya, “Jahat banget sama teman sendiri ngedoainnya putus lagi. Jangan dong nanti putus beneran gimana?”


“Makanya jangan suka selingkuh!”


“Aku gak selingkuh,” tandas Syila membela dirinya.


“Udah sana keluar aku banyak kerjaan.” Setelah Syila keluar ia jadi ingat mobilnya masih di klub, setelah bekerja ia harus ke sana untuk mengambil mobil.


***


Satu bulan berlalu begitu cepat, Averyl sibuk dengan pekerjaannya. Ia sudah tidak memikirkan nasib buruk karena telah kehilangan mahkotanya.


Jam kerja sudah selesai dua jam yang lalu, Averyl masih sibuk dengan pekerjaannya. Sampai pintu ruangan terbuka ia mengalihkan perhatiannya. Ternyata Syila yang datang ke ruangannya, tidak heran sahabatnya itu tidak pernah mengetuk pintu jika jam kerja sudah selesai.


“Jadikan anterin aku?”


Averyl menunda pekerjaannya, karena ia telah janji dengan Syila untuk mengantar sahabatnya itu ke dokter kandungan untuk mengecek alat kontrasepsi yang di pakai Syila.


“Ini udah ko.”


Syila memperhatikan wajah Everly yang tampak pucat, “Kamu sakit Veryl?”


Averyl menggeleng, ia merasa baik-baik saja. Hanya saja tubuhnya jadi mudah lelah.


“Yaudah yuk,” ajak Averyl setelah membereskan pekerjaannya.


Mereka menuju klinik yang tidak jauh dari kantor, menggunakan mobil Averyl.


“Veryl kamu enggak mau pasang juga? Bahaya loh kalau sampai hamil di luar nikah.”


Kebetulan di perempatan jalan lampu berubah merah, Averyl menengok ke arah Syila.


“Buat apa, aku enggak punya pacar.”


“Terus waktu itu?” tanya Syila penasaran.


“Aku minum!”


Syila berdecap kesal. “Apalagi sih yang mereka pinta?”


Saat lampu jalanan berubah jadi hijau, Averyl kembali melajukan mobilnya.


“Aku lagi enggak mau bahas itu.” Masalah keluarganya terlalu rumit, dan Averyl tidak pernah senang membahasnya. Apalagi Syila tipe orang yang bar-bar, ia selalu marah dan mengirimi pesan pada adik tirinya.


“Kalau ada apa-apa cerita ya, jangan sampai mabuk lagi aku gak suka liat kamu kayak gitu.”


Averyl tersenyum mendengar suara Syila yang hampir menangis, selain bar-bar sahabatnya itu bawa perasaan setiap ada masalah. Ratu drama, begitu julukan Averyl untuk Syila.


“Iya nanti aku gak minum lagi.” Averyl memang tidak suka dengan wine, tapi jika masalahnya cukup berat pelariannya hanya klub. Hanya saja satu bulan yang lalu dia sial, karena kehilangan mahkotanya oleh pria yang tidak ia kenal sama sekali.


Bahkan sampai kini Averyl tidak bisa mengingat dengan jelas apa saja yang ia lakukan malam itu.

__ADS_1


Mobil yang di kendarai Averyl memasuki area parkir. Mereka berdua beriringan berjalan memasuki klinik tersebut.


Saat mencium bau khas rumah sakit, perut Averyl sedikit mual.


__ADS_2