
Eduard memperhatikan tubuh Averyl dari atas hingga ke bawah, ia terkejut mendapati Averyl memakai gaun pengantin. “Berani-beraninya kau menikah dengan pria lain setelah melenyapkan darah dagingku!”
Averyl menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak pernah mau menikah dengan siapapun. Termasuk Kau! ... jadi cepat lepaskan, aku harus pergi."
Rahang Eduard mengeras. Berani sekali wanita ini, menolak ketampanan diriku!
Averyl terkejut saat tangannya di tarik oleh Eduard mendekati pintu mobil. Tanpa rasa manusiawi Eduard mendorong tubuh Avery hingga terjerembab di kursi penumpang.
Baru saja Averyl bisa duduk dengan sempurna, namun tubuh Eduard yang baru saja masuk menabrak kening Averyl hingga jidatnya terasa sakit. "Aaaw," keluh Averyl.
"Dasar Bodoh! Simon cepat jalan!" Mendengar perintah dari tuannya, Simon segera melajukan mobilnya.
Sementara supir Gumelar berusaha mengejar mobil Averyl dengan berlari. "Nona tunggu jangan pergi!" Teriak supir.
Averyl bisa bernafas dengan lega, saat melihat supir Gumelar sudah tertinggal jauh. Namun suara Eduard mengejutkannya.
"Jangan bernafas lega dulu, kau masih berurusan denganku." Averyl tersenyum masam. Kenapa Manusia Purba ini selalu menggangu hidupku?
"Kau mengataiku dengan sebutan apa?" Averyl tercengang dengan pertanyaan Eduard. Padahal barusan ia bergumam dalam hati, tetapi mengapa Eduard mengetahuinya. Apa ia seorang Cenayang Handal?
"Aku tidak mengataimu," jawab Averyl dengan nada tidak peduli.
“Cepat katakan! kau pikir aku tidak tahu.”
Averyl masih saja berusaha mengelak. “Sudah aku bilang, aku tidak mengataimu.”
“Cepat katakan!” Mendengar bentakan Eduard yang memekakkan telinga Averyl mengendus sebal.
“Manusia Purba!”
Manik Eduard membola seketika. “Simon kita ke rumah sakit sekarang juga, mata wanita ini sepertinya perlu di periksaan!”
Sementara di balik kemudi Simon tersenyum tipis. Tuan muda tidak suka ada satu orang pun yang merendahkan ketampanannya. Apalagi Averyl berani sekali mengatai Eduard manusia purba.
“Mataku masih normal, percuma ke rumah sakit hasilnya pasti sempurna,” elak Averyl.
__ADS_1
“Kau!” Eduard menunjuk wajah Averyl.
Tanpa rasa takut Averyl menyingkirkan tangan Eduard yang tidak sopan menunjuk wajah.
"Apa?" ucap Averyl dengan nada berani.
"Simon berhenti!" Mendengar perintah Eduard. Simon segera menepi dan menghentikan laju mobil yang dikendarainya.
"Keluar!"
Seakan mendapat udara segar, Averyl segera keluar dari dalam mobil. "Terima kasih atas tumpangannya Tuan," teriak Averyl sambil melambaikan tangan.
Rahang Eduard mengeras melihat tubuh Averyl menjauh begitu saja. "Simon kenapa kau biarkan dia pergi? bawa dia kembali!"
Simon melirik Eduard lewat kaca spion tengah. "Tunggu apalagi, cepat!"
"Baik Tuan," jawab Simon. Sepertinya tuan Eduard amnesia, padahal barusan ia yang menyuruh wanita itu keluar.
Tidak ingin mendapat masalah Simon berlari mengejar Averyl. Averyl berjalan belum terlalu jauh, namun teriakan dari arah arah belakang menarik perhatiannya. "Nona Averyl."
"Nona harus kembali," ujar Simon.
Averyl menaikkan satu alisnya. "Kembali untuk apa?"
"Lihat ke sekeliling Nona!" Averyl mengikuti perintah Simon. Benar saja mereka memandang heran pada Averyl. "Nona tidak mungkin kembali ke apartemen dengan memakai gaun pengantin seperti ini. Biar saya antar," tawar Simon.
Averyl memandang gaun yang di pakainya. Ucapan Simon benar. Apalagi semua uang dan dompetnya masih di rumah Papa. Averyl tidak mungkin kembali ke sana, yang ada Papa akan menyiksanya habis-habisan.
"Baiklah kalau begitu, aku menerima tawaranmu." Avery berjalan mengekor di belakang Simon menuju mobil.
Simon bisa bernafas lega setelah berhasil mengabulkan perintah Eduard. Namun nyatanya semua kegilaan ini belum usai, saat Averyl duduk dengan santainya di kursi depan samping pengemudi.
"Simon keluarlah, urus rapat hari ini! Jangan sampai aku mendengar keluhan klien!" ucap Eduard dengan nada santai. keluar dari dalam mobil.
Akhirnya Simon keluar dan membiarkan Eduard duduk di balik kemudi. "Hati-hati Tuan." Lewat tatapan matanya, Eduard memberikan jawaban 'iya' untuk ucapan Simon.
__ADS_1
"Kenapa Simon keluar? ia sudah berjanji mengantarkan aku ke apartemen," ujar Averyl.
Wajah Averyl masam seketika saat melihat senyum mengerikan dari bibir Eduard. Tuhan selamatkan aku.
***
Arsya tengah sibuk dengan berkas-berkas di atas mejanya. Namun suara pintu ruangan yang terbuka tanpa di ketuk menarik perhatiannya. Ia cukup terkejut dengan kedatangan Jordan yang tiba-tiba, tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu.
"Papi," ucap Arsya. Ia menutup berkas yang sedang di pelajarinya.
Jordan duduk di hadapan Arsya putra sulungnya. "Bagaimana kabarmu Nak?"
"Arsya baik-baik saja Pi," jawab Arsya sambil tersenyum.
"Papa dengan kau dan Eduard sedang berselisih paham?" Jordan kemari sebenarnya bukan tanpa alasan.
Wajah Arsya terlihat kesal. "Bagaimana tidak, dia hampir saja membuat perusahaan ini gulung tikar."
Jordan menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Arsya. "Kau ini terlalu berlebihan, Eduard tidak mungkin melakukan itu," jawab Jordan mencoba meyakinkan Arsya.
"Papa tidak percaya, ini lihat sendiri!" jawab Arsya dengan nada sedikit emosi, seraya memberikan sebuah surat perjanjian yang di buat oleh Eduard.
Jordan membacanya dengan seksama. "Sampai kapan kau akan memisahkan diri terus. Papi rasa Eduard bisa membantumu memajukan perusahaan ini kembali."
Arsya meredam emosinya. Sudah bertahun-tahun ia selalu di pandang rendah oleh Jordan, hanya karena Eduard selalu berhasil membuat Papinya bangga.
"Arsya sudah memberikan yang terbaik untuk Papi. Tapi kenapa Papi tidak pernah menghargai usaha Arsya. Yang selalu Papi banggakan hanya anak pungut itu!" ucap Arsya dengan berapi-api.
"Bicara yang sopan, dia itu kakakmu!" perintah Jordan dengan nada dinginnya. Ia tidak habis pikir mengapa Arsya tidak bisa menerima Eduard.
***
*Penasaran gak nunggu lanjutannya?
Jangan lupa dukungannya ya, like dan komentar. Terima kasih 🙏
__ADS_1
Sampai jumpa besok 😘💕*