Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Penyesalan


__ADS_3

Aditama memakai kembali pakaiannya, ia sudah puas bermain dengan tubuh Averyl. Malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak.


Tubuh polos Averyl tertutup dengan selimut, tangannya mengepal erat. Setelah mendengar pintu kamar yang tertutup Averyl berteriak sekencang-kencangnya. Dadanya terasa amat sesak, air matanya bahkan tidak berhenti mengalir dari satu jam yang lalu.


Perlakuan biadab Aditama terus berputar berulang kali di kepala Averyl. Penyesalan yang teramat dalam di rasakan Averyl. Bukan ini yang ia mau. Sudah lima tahun lamanya ia menjaga dengan baik kehormatannya untuk Eduard. Tapi kini di rusak oleh pria tidak baj*ingan.


Averyl merasa dunianya hancur, semuanya terasa sangat sia-sia. Averyl memukul-mukul dadanya sangat kencang berharap rasa sakit di hatinya pergi.


Averyl merasa dirinya sangat kotor, ia berjalan menuju kamar mandi. Merebahkan tubuhnya di dalam bathtub. Tangannya yang gemetar menyalakan keran air. Averyl membersihkan tangannya dengan air, tangannya lebam karena Aditama mengikatnya dengan sangat kencang.


Pandangan Averyl tertuju pada dadanya yang di penuhi bekas kiss Mark yang di lakukan Aditama. Averyl membenturkan kepalanya berkali-kali. kini air di dalam bathtub mulai naik hingga menenggelamkan tubuh Averyl.


Averyl memandang sendu langit-langit kamar mandi. Pandangannya kini tertutup air, bayangan tangis Filio dan Fiona membuat Averyl merasakan sakit. Belum lagi wajah kecewa Eduard sebelum Averyl pergi tergambar jelas. Averyl yakin Eduard akan sangat membencinya jika tahu istrinya di pakai orang lain.


Averyl merasa sangat lelah, ia sudah tidak sanggup menahan rasa sakit lagi.


***


Sudah satu jam sejak Averyl keluar dan tidak kembali menimbulkan rasa khawatir Eduard. Ia mencoba menelepon Averyl tersambung namun tidak kunjung di angkat.

__ADS_1


Eduard melepas kembali selang infus yang membebat tangannya. Ia berjalan keluar lewat pintu belakang lalu memberhentikan taksi.


Eduard menelepon Simon meminta bantuan untuk menemukan keberadaan Averyl. Setelah menemukan lokasi Averyl, Eduard segera menyusul.


Hatinya sangat resah saat melihat isi kamar hotel yang berantakan, serta baju yang Averyl pakai tergeletak di lantai dengan keadaan robek di beberapa bagian. “Sial*an,” umpat Eduard.


Suara Gemercik air menarik perhatian Eduard. Ia masuk ke kamar mandi. Betapa terkejutnya Eduard saat melihat bathtub dengan keadaan air yang meluber, di dalamnya ada tubuh Averyl.


Eduard mengangkat tubuh Averyl, lalu di lentangkan di lantai. Jari Eduard mengecek nafas Averyl. Eduard mulai kalut, tapi ia berusaha tetap tenang dan mengecek nadi Averyl. Eduard segera memberi nafas buatan untuk Averyl.


“Bangun Averyl aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada dirimu,” batin Eduard. Ia terus memberikan nafas buatan Averyl.


Rasa sesak saat kesulitan bernafas masih terasa di ingat Averyl. Maniknya kini tertuju pada wajah Eduard yang tampak khawatir. Averyl menahan tangis sebisanya, namun sayang ia tidak sekuat yang di pikirannya. Air matanya Averyl mengalir dengan sangat deras.


Eduard membopong tubuh Averyl ke atas tempat tidur dan menyelimutinya. Eduard duduk di samping tubuh Averyl yang tertutup dengan selimut.


“Ed,” Averyl tidak sanggup meneruskan ucapannya.


Untuk saat ini yang Eduard pikiran adalah keselamatan Averyl. “Tidak apa-apa. Kamu gak perlu takut lagi. Ada aku di sini.”

__ADS_1


Eduard berusaha menenangkan Averyl, ia memberi kecupan di kening Averyl. Eduard menelepon Simon untuk meminta bantuan.


***


Eduard tidak memedulikan kesehatannya lagi. Yang terpenting untuk Eduard adalah keselamatan Averyl.


Eduard telah meminta dokter datang ke rumahnya untuk memeriksa Averyl. Beruntung Averyl baik-baik saja. Kini Eduard membawa nampan berisi sup hangat serta obat yang harus di minum Averyl.


Kedatangan Eduard seperti angin lalu, Averyl terlihat sibuk dengan isi kepalanya. Matanya terlihat kosong.


Eduard duduk di samping Averyl. Satu hal yang Eduard sadari kejadian malam ini mengguncang hati dan pikiran Averyl. Bukan hanya Averyl, Eduard juga merasakannya. Suami mana yang bisa menerima istrinya berada di kamar hotel yang berantakan dengan tubuh penuh kiss Mark dan melakukan percobaan bunuh diri.


Eduard menarik tangan Averyl, dan menggenggamnya. “Makan ya, aku bawakan sup hangat.”


Eduard menyuapi Averyl. Suapan pertama di terima dengan baik. Namun saat suapan kedua Averyl menutup mulutnya.


“Aku ingin istiraha.”


Ucapan Averyl terdengar seperti bisikan namun Eduard masih mendengarnya. Eduard bergeming ia memperhatikan Averyl yang merebahkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Matanya terpejam, namun Eduard tahu Averyl tidak tidur.

__ADS_1


Eduard menyimpan sup tersebut, lalu ikut berbaring di samping Averyl dan memeluknya. “Aku pastikan orang itu lenyap dari muka bumi.”


__ADS_2