
Averyl tengah duduk termenung di dalam apartemen miliknya, di temani secangkir kopi untuk menemani malamnya yang dingin. Ancaman Eduard masih teringat jelas di kepala Averyl. Rasa takut itu jelas masih ada. Ia meraba lehernya, bulu kuduknya sedikit berdiri saat membayangkan tangan besar Eduard Yang mencekik lehernya saat di rumah sakit. Tatapan membunuh, dengan rahang mengeras masih ada di dalam kepalanya.
Senyum masam tergambar jelas dari bibir Averyl. Sudah satu bulan sejak kejadian itu ia tidak pernah bertemu kembali dengan Eduard.
Averyl mengambil ponselnya. Ia mengecek sisa saldo tabungannya. Miris. Tabungannya selama ini habis sudah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, serta biaya rumah sakit pasca ia keguguran.
“Percuma seorang CEO tapi tidak mampu bertanggung jawab,” Gerutu Averyl.
Helaan nafas keluar dari mulut Averyl. Ia membanting ponselnya ke atas tempat tidur. Layar ponsel menyala tanda panggilan masuk dari Papa.
Dengan kasar Averyl menyambar ponsel tersebut dan menekan tombol hijau. “Ada apa lagi, aku rasa uang yang kemarin aku transfer cukup untuk menghentikan permintaanmu!”
[Cukup kau bilang, tidak!]
Bentakan dari Papa cukup membuat emosi Averyl tersulut. “Kau pikir aku ini bank berjalan yang selalu siaga menggelontorkan uang di saat kau membutuhkannya. Tabunganku habis, dan aku belum mendapatkan pekerjaan. Jadi jangan meminta uang lagi padaku!”
[Averyl ... Averyl. Justru karena itu aku menghubungimu. Sekarang kau hanya pengangguran yang tidak menguntungkan, jadi lebih baik kau tidak menolak untuk menikah dengan pria pilihanku.]
“Kau pikir aku gila sampai mau menikah dengan pria tua yang bergelimang harta untuk memuaskan keinginanmu mendapatkan hartanya.”
[Aku rasa kau juga memiliki keuntungan yang lebih banyak, kau bisa jadi Nyonya yang ongkang-ongkang kaki di rumah mewah menikmati harta suamimu.]
__ADS_1
“Aku sudah tekankan, bahwa aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun. Termasuk pria pilihanmu!” wajah Averyl memerah menahan amarah.
[Sebegitu takutnya kau dengan pengkhianatan. Sudahlah jangan main hati, kau cukup melakukan peranmu dengan memuaskan hasrat suamimu.]
“Aku bukan *******!” tangannya mengepal setelah menutup teleponnya secara sepihak. Kalau bisa memilih ia tidak pernah mau di lahirkan ke dunia, hanya untuk memuaskan keinginan Papa kandungnya.
Dada Averyl naik turun, dengan detak jantung yang berpacu cukup kencang. Amarah masih menyelimutinya, ia tidak habis pikir kenapa tuhan menghadirkan dirinya ke dunia hanya untuk merasakan sakit yang luar biasa.
Ingatan tentang janinnya membuat Averyl sedikit terluka. Tapi ia terus meyakinkan dirinya kalau itu memang yang terbaik, janin yang ada di dalam rahimnya tidak akan pernah bahagia jika berhasil lahir ke dunia.
Tersungging senyum tipis dari bibir Averyl. Sejahat apa pun dirinya serta rasa sakit yang selama ini hinggap dalam kehidupannya, ia tetaplah wanita yang memiliki hati. Meskipun ia tahu keinginan untuk melenyapkan janinnya sebuah kesalahan, tapi itu jalan yang terbaik.
***
Averyl berusaha untuk bangkit dan membawa pisau lipat miliknya, yang sengaja ia simpan pada lemari kecil di samping tempat tidurnya.
Sesekali Averyl mengerjapkan kelopaknya untuk memusatkan penglihatannya agar tidak kecolongan. Dari celah pintu kamarnya Averyl melihat empat orang pira berperawakan tinggi dan berotot berjalan menuju kamarnya.
‘Sial, mereka terlalu banyak. Aku bisa kalah! ... Ayo berpikir Vryl.’ batin Averyl.
Belum sempat memikirkan cara melawan mereka. Pintu kamar di dorong hingga tubuh lemas Averyl terjerembab ke lantai.
__ADS_1
Ia bangkit dan berdiri menghadap pria tersebut. “Sialan! Kalian siapa?” tegas Averyl sambil mengusap keningnya yang sedikit berdenyut.
Pria tersebut tidak bicara, ia mengangkat tangan untuk memerintahkan anak buahnya untuk membawa Averyl.
Averyl sedikit gelagapan, melihat tiga pria mendekat ke arahnya. Ia baru tersadar bahwa pisau yang ia pegang sudah menghilang dari tangannya.
‘Sial!’
Averyl melangkah mundur, mencari sesuatu dan melemparkannya ke arah para pria yang mendekat ke arahnya. Saat tubuhnya sampai di meja kerja ia bahkan melempar beberapa buku, namun tidak berarti apa-apa. Bahkan ia rela melempar laptop kesayangannya, tetapi laptop tersebut jatuh ke lantai dan hancur. Tidak hanya laptop, pas bunga, serta lampu tidur sudah Averyl lemparkan dengan harapan salah satu dari mereka bisa tumbang. Tapi nyatanya mereka baik-baik saja. Akibat dari rasa takut semua lemparannya melenceng karena mereka berhasil menghindar.
Sampai di sudut ruangan Averyl tidak bisa pergi ke mana-mana. “Siapa yang menyuruh kalian kemari?”
Bukannya menjawab namun ketiga pria tersebut tersenyum menyeringai yang sangat menakutkan. Averyl tidak pernah ada di posisi ini, selama beberapa tahun ia tinggal sendiri tidak pernah ada orang yang berani masuk ke apartemennya.
Saat satu pria memegang tangan kanannya Averyl mencoba memberontak, namun sayang saat sebuah sapu tangan hinggap di bagian mulut dan hidungnya Averyl kehilangan kesadaran.
***
Selamat pagi
Hari ini 3 bab dulu ya. Ada yang bisa tebak orang suruhan siapa yang membawa Averyl?
__ADS_1
jawab di kolom komentar ya, terima kasih 💕