
Selama membaca 😊
💕💕💕
Averyl terbangun dengan kepala yang terasa berdenyut. Ia mencoba mengedarkan pandangannya. Ruangan yang ia tempati tidak asing. Setiap seluk beluknya ia hafal betul meskipun sudah hampir beberapa tahun ini tidak ia tempati.
Terdengar suara pintu yang di buka dengan perlahan oleh seseorang menarik perhatian Averyl. Ia menengok dan mendapati asisten rumah tangga yang sudah ia kenal sejak kecil bernama Minah. Perhatiannya tertuju pada sebuah nampan berisikan semangkuk sup iga yang sangat ia rindukan.
“Non apa baik-baik saja? ... Ini bibi bawakan sup non pasti lapar.”
Averyl hanya tersenyum dan bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk. Ia menerima semangkuk sup yang aromanya sangat menggiurkan. Tanpa menunggu lebih lama, Averyl menyuapkan sup tersebut ke dalam mulutnya. Rasanya luar biasa, sup iga buatan Minah tidak pernah gagal.
“Bibi senang liat Non baik-baik saja, tapi bibi juga sedih setelah tahu tujuan Tuan bawa Non ke sini untuk apa.”
Averyl menelan makanan yang ada di rongga mulutnya dengan susah payah. Ia mencoba memberikan senyuman tipis dan kembali melanjutkan makannya.
“Bibi tenang saja, Averyl akan baik-baik saja. Tidak usah cemas,” ujar Averyl meyakinkan Minah dengan seulas senyum manis.
__ADS_1
Minah mengelus lembut rambut Averyl dengan penuh kasih sayang. Sejak ia di amanahkan oleh Gumelar sang majikan yang tidak lain ayah kandung Averyl. Setitik air mata meluncur dari kelopak Minah, bagaimana bisa seorang ayah tega menikahkan putrinya dengan pria tua bangka demi harta. Padahal selama ini Minah tidak pernah sekalipun melihat Averyl mendapatkan kasih sayang dari Gumelar sedikit pun.
Averyl dan Minah terlonjak saat pintu kamar di buka dengan sedikit kasar. Di sana Gumelar berdiri dengan tegap, dengan tatapan memerintahkan Minah untuk keluar. Tanpa kata Minah beranjak dari kamar Averyl, pandangannya tertuju pada tiga orang wanita yang berjalan di belakang Gumelar.
Averyl menatap malas ke arah Papanya, ia menyimpan mangkuk pada nakas di samping tempat tidurnya. “Dandani putriku hingga menjadi pengantin wanita yang sangat cantik malam ini,” perintah Gumelar pada tiga wanita yang ia pesan untuk mempercantik Averyl di hari pernikahannya.
“Papa gila! Aku tidak mau menikah dengan siapa pun,” tegas Averyl dengan bola mata yang memancarkan kemarahan.
Gumelar mendekat ke arah tempat tidur Averyl, ia tersenyum sinis. “Aku tidak menerima bantahan. Kau sudah sangat kurang ajar padaku.”
“Kenapa aku harus tunduk padamu? Padahal kau tidak pernah memperlakukan aku seperti putrimu sendiri,” ujar Averyl dengan berapi-api.
Averyl tersenyum sinis. “Aku tidak pernah meminta di lahirkan. Seharusnya kau yang tahu aku tidak akan pernah ada jika tidak datang dari ****** bajingan sepertimu!”
Satu tamparan keras mendarat di pipi putih Averyl hingga meninggalkan bekas merah. Averyl menyentuh pipi kanannya yang terasa panas dan perih. Ia sudah terbiasa merasakan tamparan di pipinya, namun kali ini sakitnya luar biasa. Tangannya mengepal menahan amarah.
Keadaan kamar Averyl sangat hening, hanya deru nafas yang terdengar. Sementara tiga wanita yang berdiri di belakang Gumelar hanya diam membisu menyaksikan adegan seorang anak dan ayah yang tidak pernah mereka lihat secara langsung di hari pernikahan.
__ADS_1
“Berani kau menghinaku sekali lagi, aku pastikan wanita ******* itu akan mati di tanganku saat itu juga.” Ancaman Gumelar berhasil. Kini Averyl tertunduk dengan nafas yang tidak beraturan menahan amarah.
Tidak ada yang bisa Averyl lakukan jika menyangkut wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Sebejat apa pun wanita itu, Averyl tidak akan pernah lahir ke dunia tanpa perjuangannya.
Terlepas dari alasan sang ibu memberikannya pada Gumelar, Averyl sampai detik ini tidak tahu alasan pastinya. Bahkan sampai kini ia tidak pernah melihat bagaimana cantiknya seorang wanita yang berhasil melahirkannya ke dunia.
Salah seorang dari ketiga wanita yang datang bersama Gumelar kini tengah mempercantik wajah polos Averyl. Tatapan kosong serta kesedihan terlihat jelas olehnya, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Ini adalah tugasnya, nama baiknya di pertaruhkan jika tidak berhasil mendandani Averyl.
“Ku mohon bantu aku pergi dari sini,” ujar Averyl dengan wajah datar setengah memohon.
“Nona tolong jangan berbuat macam-macam. Tuan Gumelar bisa-bisa menghabisi saya jika Nona berhasil lolos.”
“Berapa pun yang kau minta aku akan mengabulkannya, aku tidak mau menikah.”
Sang perias menghela nafasnya, karena Averyl banyak berbicara lipstik yang sedang ia aplikasikan melenceng dari jalur dan merusak riasannya.
“Kalau nona terus berbicara, saya akan memanggil tuan Gumelar supaya diam. Waktu yang di berikannya tidak banyak, dan saya tidak mau di salahkan jika sampai semuanya terlambat karena Nona.”
__ADS_1
Averyl hanya memandang sengit pada wanita yang lebih galak darinya. Sepertinya ia harus mencari cara lain, wanita di hadapannya ini tidak berguna sama sekali untuk kelangsungan hidupnya. Iya kelangsungan hidupnya, Averyl tidak mau menikah dengan siapa pun apalagi dengan pria tua yang bergelimang harta. No! Tetapi bagaimana caranya kabur dalam genggamannya Papanya.