Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Membeli Permen


__ADS_3

“Sebenarnya kau siapa, tidak mudah bagi seseorang mempelajari bahasa hanya dalam satu malam?”


Arvan menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu menatap bola coklat milik Alana. “Aku Arvan Varizal Manopo, tidak ada yang tidak mungkin dalam hidupku.”


Alana hanya bisa mengedipkan matanya, “Maaf,” ucap Alana sambil menundukkan kepalanya.


“Maaf untuk apa?” tanya Arvan dengan nada santainya.


“Aku tidak bermaksud mengusirmu tadi,” ucap Alana tanpa berani mengangkat kepalanya.


Arvan menarik dagu Alana agar menatapnya, “Sebenarnya apa yang kau bicarakan dengan pria itu?”


Alana menggigit kecil bibir bawahnya, dia ragu untuk mengatakan semuanya pada Arvan.


“Jangan mengigit bibirmu seperti itu, itu akan melukai bibir tipismu.”


Alana menghentikan aksinya.  “Aku-“ Alana tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


“Bicara lah.” Arvan menunggu Alana memberikan penjelasan.

__ADS_1


“Hari ini adalah tiga puluh hari tepat di mana semua perjanjianku dengan Jordan akan berakhir,” Alana menatap Arvan melihat reaksi pria itu.


“Jika aku tidak hamil kita akan bercerai dan aku akan mendapat upah satu juta dolar.”


Arvan menautkan kedua alisnya, “Upah apa?”


Alana menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap mata Arvan. “Karena aku sudah menjadi penghangat ranjangnya,” ucap Alana dengan suara pelan.


“Satu juta dolar hanya cukup untuk membeli permen, bukankah kau memberikan kesuciannya pada pria itu?”


Refleks kepala Alana melihat Arvan, “Kau tahu semuanya?”


Alana menitikkan air matanya, kalau bisa memilih dia juga ingin menjadi wanita yang kuat. Wanita yang tegar, dia tidak ingin terlihat lemah.


“Maaf,” ucap Arvan. Dia menyesal telah menyakiti gadis itu dengan ucapannya.


“Tidak perlu minta maaf semua yang di katakanmu memang benar adanya, aku hanya wanita murahan,” ucapan Alana di akhiri dengan butrian-butiran air matanya yang meluncur begitu saja membasahi pipinya.


Arvan membawa Alana ke dalam pelukannya, “Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu,” ucap Arvan sambil mengelus punggung Alana.

__ADS_1


Tangis yang Alana tahan sejak berada di rumah sakit kini dia keluarkan semuanya. Dadanya benar-benar sesak, bahkan suara isak tangisnya keluar dengan jelas menggambarkan betapa sakit yang dia rasakan.


Arvan merasakan sakit yang di alami Alana, dia tidak kuasa mendengar tangis Alana yang menyayat hatinya. Dia tidak bisa mendengar wanita yang menangis, dia akan menjadi pria lemah jika orang-orang yang dia sayangi terluka.


Cukup lama Alana menangis di dalam pelukan Arvan, hingga hatinya merasa tenang. Alana menghentikan tangisnya, dia menjauh perlahan, pandangannya jatuh pada kemeja Arvan yang basah karena air matanya.


“Maaf,” ucap Alana menundukkan kepalanya. Namun Alana mengangkat kepalanya saat melihat Arvan yang menyimpan saputangan di tangannya.


“Terima kasih.” Alana membersihkan wajahnya, dia melirik Arvan yang sedang menatapnya dengan wajah datarnya.


Arvan kembali melajukan mobilnya membelah jalanan, mobilnya masuk ke basemen apartemen mewah.


“Kita mau ke mana?” tanya Alana. Dia merasa ketakutan, karena Arvan membawanya ke sebuah gedung apartemen.


“Aku harus mengganti bajuku yang basah,” ucap Arvan dengan nada santai.


“Maaf.” Hanya kata maaf yang mampu Alana keluarkan, lagi-lagi dia merepotkan Arvan. Seandainya saja Jordan berbaik hati memberikan satu juta dolar kepadanya mungkin Alana tidak akan merasa sungkan seperti ini karena merepotkan orang lain.


Arvan keluar dari mobil lebih dulu dan membukakan pintu mobil  untuk Alana. Entah kenapa Alana selalu merasa Arvan melakukannya berlebihan, padahal Alana bukan siapa-siapa Arvan.

__ADS_1


Bahkan mereka belum saling mengenal satu sama lain secara personal tetapi Alana merasa Arvan memperlakukannya dengan baik.


__ADS_2